Sejak kita putus, jujur waktu itu aku masih belum bisa nerima meskipun aku yang mutusin dia. Aku belum bisa move on dan bahkan sebulan setiap malem aku selalu nangis...
Bukan nangis karena kehilangan dia, tapi aku nangis kenapa dia memutuskan suatu keputusan tanpa ada diskusi denganku.
Kejadian dia Menolak kerjaan di Kalimantan sangat menyakiti hatiku, sangat disayangkan saja.
Aku hampir menjadikan dia ayah dari anak anakku, hampir menjadikan dia seseorang yang berada pada pihakku selamanya tapi gagal.
Sejak mei sampai Oktober awal aku menjalani hubungan dengan dia layaknya orang pacaran, tapi kita ngga balikan... Sampai pada akhirnya aku di titik capek pada Oktober pertengahan, rasanya ngga adil jika dia mendapatkan apapun yang dia mau sedangkan aku ngga.
NB: Aku menginginkan dia untuk bekerja, tapi sejak dia nolak kerjaan di Kalimantan sampe oktober dia sempat 2 minggu kerja di Jkt lalu tetap kembali pulang dengan alasan ada wawancara kerja, akhirnya dia resign dan menganggur sampai september awal dia bekerja freelance di BPS sebulan aja. lalu menganggur lagi.
Aku sebenernya ngga rela aja dia tidak mendapatkan hal yang sepadan dengan penolakan di Kalimantan. Rasanya sangat sakit,...
Untuk memberikan kesempatan kedua rasanya ngga sanggup aja, takut kejadian penolakan terulang kembali.
so menurut kalian gimana? lemme know and comment bellow❣️
... Baca selengkapnyaAku baru kenal istilah "teori man always comeback" setelah hubungan ini berakhir. Pas baca-baca dan lihat konten orang, aku sempat mikir, "Jangan-jangan aku juga lagi ngerasain teori ini?". Dia pergi, lalu balik lagi seolah-olah masih jadi bagian besar di hidupku, padahal statusnya udah bukan pacar.
Teori man always comeback itu sering banget dibahas: katanya, kalau perempuan bener-bener tulus sayang, laki-laki bakal balik lagi suatu saat. Entah balik cuma buat ngecek, sekadar nyari kenyamanan, atau beneran mau serius lagi. Di kasusku, dia nggak bener-bener pergi. Sejak Mei sampai Oktober awal, kita masih jalani hubungan kayak orang pacaran: masih chat tiap hari, masih ketemu, masih saling cerita, tapi nggak ada kejelasan status. Di satu sisi, aku ngerasa ditemenin. Di sisi lain, aku kayak dikasih harapan tanpa kepastian.
Yang bikin makin berat, ada rasa nggak rela soal keputusannya nolak kerjaan di Kalimantan. Aku ngerasa udah mikirin masa depan, bahkan hampir menjadikan dia calon ayah dari anak-anakku. Jadi ketika dia nolak kesempatan kerja yang menurutku cukup besar, aku kayak ikutan kehilangan sesuatu juga. Bukan cuma tentang uang atau karier, tapi soal tanggung jawab dan keseriusan.
Menurutku, "man always come back" itu bisa jadi kerasa banget kalau kita sebagai perempuan masih buka pintu. Dia tau kita masih sayang, masih bisa diajak ketemu, masih jawab chat, masih peduli sama hidupnya. Kayak di gambar yang aku pakai: aku cemberut tapi tangan tetap kasih tanda damai. Dalam hati kesel, tapi tetap nerima dia datang lagi.
Pelajaran yang aku dapet:
1. Nggak semua laki-laki yang balik berarti layak diberi kesempatan kedua. Kadang mereka cuma kangen situasi, bukan kangen memperbaiki hubungan.
2. Teori man always comeback jangan dijadikan pegangan untuk terus nunggu. Kalau dia balik tapi nggak bawa perubahan, kita yang harus berani pasang batas.
3. Perempuan juga punya pilihan: mau selalu reply atau mulai belajar diam dan jaga jarak. Kita nggak harus selalu jadi orang yang siap menerima kapan pun dia datang.
Sekarang kalau ada yang tanya, "Kalau dia beneran come back lagi, kamu mau?" Jujur, aku lebih hati-hati. Bukan karena nggak sayang, tapi karena aku tahu rasa sakit waktu keputusannya dulu dan gimana aku nangis tiap malam selama sebulan. Aku nggak mau itu keulang.
Kalau kalian juga lagi di fase ngerasain teori "man always comeback" ini, coba tanya ke diri sendiri: dia datang bawa kepastian atau cuma bawa kebiasaan lama? Karena pada akhirnya, yang paling harus kita jaga itu bukan dia, tapi hati kita sendiri.
Menurut aku, gak perlu dikasi kesempatan lagi kak