seandainya dulu ada ilmu parenting
hallo sahabat 🍋
sudah lama ga posting, tetiba kangen, banyak yg pengen aku ceritakan karena emang senyaman itu kalau cerita di 🍋
setidaknya kalian tidak mengenal ku langsung hehehe, jadi aku yang introvert ini gak malu
well untuk kali ini pengen sharing salah satu dilema ku jadi anak pertama yang berdampak buruk sampai aku dewasa ini
jadi aku terlahir di orang tua yang entah di sebut apa, pas pas an kali ya, dengan latar belakang ortu selalu di manja keluarga nya masing-masing.
karena pas pas an itulah akhirnya banyak ekspektasi mereka yang tidak terwujud, dan akhirnya menjadi tuntutan kepada anak. Dan lahir lah saya si anak pertama dan perempuan dan parahnya jarak lahir aku dan adik adik ku tidak sampai 2 tahun hahaha
jadi apa dramanya,
1. mereka menuntut ku menjadi lebih dewasa dan mengalah terhadap adik adik ku karena aku kakak tertua, ini menjadikan aku orang yang pasrah dan ngalah dalam hal apapun bahkan tidak bisa membela diri
2. aku di tuntut harus lebih baik dalam segala hal termasuk prestasi sekolah karena aku contoh untuk adik adikku, ini menjadikan aku orang yang perfeksionis, menuntut diri tidak boleh gagal
3. aku di tuntut harus bisa mengasuh adik adik ku dan membantu usaha orang tua ketika SMP, akhirnya aku tidak punya waktu atau pikiran untuk membahagiakan diriku sendiri untuk bermain
lalu kenapa judulnya introvert dan bersuara. Karena beberapa tekanan dan tuntutan itulah akhirnya membuat aku menahan diri akan hal apapun, aku malu untuk jadi pusat perhatian, aku selalu takut akan komentar negatif orang
ada yang relate ga sih sama pengalaman ku??
next, aku akan cerita bagaimana aku keluar dan menyadari ada yang salah dalam parenting orangtua ku
intinya, untuk kalian yang sudah atau belum punya anak, yuk dengar pendapat anak anak kalian, jangan memaksa kehendak tanpa support mereka, kita hanya akan menutup kreativitas kemampuan mereka, dan membuat luka di hati mereka
semangat para bu ibu dan calon ibu ♥♥
#Seandainya #parentinglife #Parenting101 #parentingstory #CeritaRumah
Sebagai anak pertama yang tumbuh dalam lingkungan keluarga dengan tuntutan tinggi, sering kali anak-anak merasa kecil ketika seandainya aku beri di kesempatan untuk bersuara. Kondisi ini sangat memengaruhi perkembangan psikologis anak, terutama bagi yang introvert yang cenderung menahan diri dan sulit mengungkapkan perasaan. Tekanan menjadi lebih dewasa dan mengalah terhadap adik-adik, serta tuntutan untuk selalu menjadi contoh terbaik di sekolah dan kehidupan sehari-hari, dapat menyebabkan rasa beban berat yang tidak mudah terlihat oleh orang tua. Hal ini bisa berakibat pada kurangnya waktu bermain dan membahagiakan diri sendiri, sebuah aspek yang sangat penting dalam perkembangan anak-anak. Dalam konteks ilmu parenting modern, men-support anak dengan memberikan ruang untuk bersuara dan mengekspresikan pikiran dan perasaannya sangat diperlukan. Hal ini tidak hanya menjaga kesehatan mental anak, tetapi juga meningkatkan kreativitas dan rasa percaya diri mereka. Anak yang merasa dihargai pendapatnya akan lebih mudah terbuka dan berkembang menjadi pribadi yang mandiri dan bahagia. Pengalaman yang diceritakan mengajarkan pentingnya komunikasi dua arah antara orang tua dan anak. Jangan sampai tuntutan yang diberikan berubah menjadi beban yang menutup kreativitas dan kebahagiaan anak. Dengan memahami situasi ini, para orang tua diharapkan dapat mengadopsi pola asuh yang lebih suportif dan penuh empati. Kisah ini juga mengajak para ibu, calon ibu, dan orang tua secara umum untuk menyadari bahwa parenting bukan sekadar memberikan aturan dan tuntutan, tetapi juga mendengarkan dan memberi kesempatan bagi anak untuk bersuara. Ini adalah kunci agar setiap anak, terutama yang introvert sekalipun, dapat tumbuh optimal dan merasa diterima apa adanya dalam keluarga. Mari kita bangun kesadaran bersama bahwa ilmu parenting harus terus berkembang dan disesuaikan dengan kebutuhan anak di masa kini agar tidak ada lagi anak yang merasa kecil dan terkekang karena beban tuntutan yang berlebihan.
