“Pelaminan di Bawah Bulan Berdarah”
“Pelaminan di Bawah Bulan Merah”
Desa tempat tinggal Qianzhi dan Lanyin bernama Hengjing, sebuah desa tua yang tersembunyi di balik lereng gunung, dikenal sebagai tempat berkumpulnya para pemuja leluhur dan penjaga adat kuno.
Lanyin bukan gadis biasa. Ia adalah cucu dari Du Shi, seorang wanita tua yang dikenal sebagai penjaga kuil leluhur, penghubung dunia roh dan manusia. Sejak kecil, Lanyin sering diajak neneknya membersihkan altar leluhur, menyiapkan makanan roh saat Festival Zhongyuan, dan membacakan mantra dari gulungan sutra kuno.
“Lanyin, roh itu tidak pernah tidur seperti kita,” bisik neneknya suatu malam. “Mereka hanya tenang jika kita menghormati mereka. Jika tidak, mereka akan... kembali.”
Lanyin mencatat semua itu dalam buku hariannya. Dalam salah satu halamannya tertulis:
“Jika aku mati muda, aku ingin tetap bersamamu, Qianzhi. Bahkan jika harus menikah sebagai roh.”
Sebelum kematian Lanyin, desa Hengjing sempat mengalami masa-masa aneh. Tiga keluarga mengalami kematian mendadak anak gadis mereka sebelum usia dua puluh. Para tetua desa mengadakan upacara di bawah pohon cemara tua, di mana menurut legenda, roh-roh pengantin tak menikah berkumpul.
“Kalau anak gadis mati sebelum menikah, arwahnya akan menjadi guǐ xīnniáng — pengantin hantu,” kata seorang tetua desa kepada pendeta Wuyin.
“Jika tak dicarikan pasangan, dia akan membawa kematian.”
Maka lahirlah praktik menikahkan arwah—kadang dengan sesama roh, kadang dengan manusia hidup yang bersedia. Pernikahan itu disebut mínghūn.
Pendeta Wuyin mencatat semuanya, termasuk simbol-simbol yang digunakan: papan roh bertuliskan tinta merah, jubah pengantin dari kain brokat mayat, dan ayam jantan pengganti mempelai saat tubuh tak ditemukan.
Malam itu, di balik kabut yang menyelimuti kaki Gunung Hengshan, keluarga Ning mengadakan upacara aneh yang jarang terlihat oleh mata manusia modern. Bendera merah berkibar lemah tertiup angin, lentera-lentera merah menyala temaram, dan musik pengiring pengantin terdengar lirih dari kejauhan, meskipun tidak ada tamu undangan yang datang.
Ning Qianzhi, putra bungsu dari keluarga Ning, berdiri kaku dalam balutan jubah pengantin merah menyala. Wajahnya pucat, bukan karena takut, tetapi karena sudah lama ia menolak makan dan tidur. Di tangannya tergenggam erat selembar papan roh bertuliskan nama mendiang calon istrinya: Zhui Lanyin.
“Qianzhi, kau harus melakukannya. Demi keluarga. Demi arwah Lanyin yang masih gentayangan,” suara ayahnya, Ning Laoye, terdengar tegas. “Pernikahan hantu ini akan menenangkan jiwanya.”
Qianzhi menatap papan roh itu, dan bayangan gadis berambut panjang, dengan mata lembut seperti embun pagi, melintas dalam benaknya.
Dua tahun sebelumnya...
Qianzhi bertemu Lanyin di festival Qingming saat ia pulang ke desa dari kota Chang’an. Lanyin berbeda dari gadis-gadis lain. Ia pintar membaca kitab, paham akan puisi, dan sering bicara tentang hal-hal aneh yang tidak disukai orang tua: roh leluhur, jiwa penasaran, dan mimpi tentang dunia bawah.
“Kau percaya pernikahan hantu itu benar-benar ada?” tanya Qianzhi pada suatu malam saat mereka duduk di bawah pohon plum yang mekar.
Lanyin tersenyum tipis. “Di banyak desa, terutama di utara, masih ada keluarga yang menikahkan arwah dengan manusia hidup. Alasannya bisa macam-macam — kadang karena perjodohan lama, kadang karena roh tak bisa tenang.”
“Itu... menakutkan.”
“Tidak selalu,” katanya pelan. “Bayangkan jika cintamu tetap hidup, bahkan setelah mati. Apa kau akan menolaknya?”
Qianzhi diam. Ia tidak pernah berpikir cinta bisa sedalam itu. Tapi malam itu, entah kenapa, wajah Lanyin begitu indah dalam cahaya bulan.
Lanyin meninggal tiba-tiba beberapa bulan setelah itu. Ditemukan di sumur tua di belakang rumahnya, tubuhnya pucat dan dingin. Tidak ada tanda kekerasan, tidak ada suara jeritan malam sebelumnya. Seolah dia menghilang dengan tenang. Tapi sejak hari itu, desa tidak tenang.
Anak-anak melihat bayangan perempuan bergaun putih di jalan setapak. Lentera rumah mendadak padam saat malam. Dan Qianzhi... ia bermimpi tentang Lanyin hampir setiap malam.
Dalam mimpinya, Lanyin menangis sambil memegang papan roh.
“Aku masih di sini... kau janji, ‘kan?”
Setahun setelah kematian Lanyin, seorang pendeta Tao bernama Shen Wuyin datang ke rumah Ning.
“Roh gadis itu terikat janji yang belum ditepati,” kata Wuyin sambil memutar tasbih kayunya. “Ia mencintai anak kalian... dan kematiannya bukan kebetulan.”
“Kau bilang... dia dibunuh?” tanya Qianzhi.
“Bukan oleh manusia. Tapi oleh keinginan yang terlalu kuat. Arwahnya memanggil-manggil dunia bawah. Kini, satu-satunya jalan adalah menikahkannya denganmu.”
Qianzhi tidak menjawab. Tapi malam itu, ia mengambil jubah merah dari lemari tua, jubah yang seharusnya dipakai Lanyin saat hari pernikahan mereka dulu.
Upacara digelar. Tidak ada mempelai wanita yang hadir. Tapi papan roh Lanyin diletakkan di pelaminan. Cincin disematkan pada patung lilin berbentuk tangan perempuan. Musik pengiring diputar dari piringan tua. Ayah Qianzhi bahkan menyembelih ayam sebagai persembahan.
“Menurut kepercayaan lama,” bisik Wuyin, “jika roh menerima pernikahan ini, maka ia akan datang malam ini. Dan ia akan tinggal selamanya.”
Malam itu, Qianzhi berbaring di ranjang pengantin, sendiri. Lilin merah menyala di kedua sisi ranjang.
Dan tepat tengah malam, tirai tempat tidur bergoyang pelan. Angin tidak masuk, tapi udara terasa dingin.
“Qianzhi...” suara lirih itu memanggil.
Ia membuka mata, dan di sana—Lanyin berdiri. Sama seperti terakhir kali ia melihatnya. Rambut panjang, gaun pengantin merah, dan mata yang berkaca-kaca.
“Aku... mencintaimu,” bisik Lanyin. “Kini aku milikmu. Selamanya.”
Qianzhi menangis. Ia tak peduli apakah ini nyata atau tidak. Malam itu, mereka tidur berdampingan. Tapi tubuh Lanyin dingin seperti kabut.
Hari-hari berikutnya, Qianzhi berubah. Ia jarang keluar kamar makanan dan minuman yang diantarkan, tetap tak disentuh. Kadang terdengar suara dua orang bercakap-cakap dari balik pintu. Kadang terdengar tawa kecil—tawa perempuan.
Malam terakhir, Qianzhi duduk di altar kecil milik Lanyin. Di hadapannya, lentera merah menyala dan asap dupa melingkar pelan ke udara.
“Aku tahu kau di sini, Lanyin,” bisiknya. “Aku bersedia... tapi apakah ini benar cinta? atau hanya keterikatan yang tak bisa kau lepaskan?”
Cahaya lentera redup dan cermin kecil di altar tiba-tiba bergetar. Dalam pantulannya, terlihat sosok Lanyin berdiri di belakang Qianzhi, matanya berkaca-kaca dan wajahnya tampak lebih pucat dari sebelumnya.
“Cinta atau keterikatan apa bedanya, jika kau tetap memilihku?” jawab suara lirih dari dalam cermin.
Setelah tujuh hari pernikahan, pendeta Wuyin kembali datang, tapi tak bisa masuk ke kamar Qianzhi. “Energi Yin di ruangan itu terlalu kuat karena roh Lanyin menolak pergi, Ia mengira dunia ini sudah jadi miliknya”, kata pneeta Wu kepada Ning Laoye.
Karena merasa kuatir akan situasi dan kondisi anaknya maka Ning Laoye memaksa masuk dengan mendobrak kamar Ning Qianzi. Seketika Ia terkejut karena menemukan Qianzhi yang tertidur dengan senyum di wajahnya. Tubuhnya sudah dingin dan di sebelahnya, papan roh Lanyin kini pecah jadi dua.
Setelah kematian Qianzhi, papan roh mereka dikuburkan berdampingan. Tetapi pada malam-malam tertentu, selalu terdengar dua suara dari balik makam.
Orang-orang tua berkata, "meski dua jiwa itu kini hidup bersama di dunia lain tapi tidak semua merasa tenang".
Beberapa tahun setelah kematian Qianzhi, orang-orang mulai menghindari rumah Ning yang sudah lama ditinggalkan oleh keluarga besar. Setiap malam tanggal yang sama pernikahan itu, selalu ada lentera merah yang tiba-tiba menyala. Musik pengantin terdengar samar dari balik rumah kosong begitu juga dengan suara langkah kaki yang berjalan berputar-putar dihalaman kosong rumah itu.
“Pernikahan hantu bukan hanya mitos,” ujar Wuyin pada seorang muridnya suatu malam. “Itu adalah perjanjian yang melampaui hidup dan mati. Cinta bisa mengikat jiwa dan api asmara yang terlalu dalam juga bisa mengikat penderitaan dua dunia.”
Pendeta Wuyin pun juga berkata jika disetiap malam tanggal tertentu selalu terlihat dua bayangan berjalan beriringan, satu pria dan satu wanita. Mereka memakai jubah pengantin tanpa kaki dan mereka terus mencari tamu untuk pernikahan hantu berikutnya.
Author : eleganceladyrose888


































































semangat upload cerita selanjutnya ❤️👍