Semakin bertambahnya usia, semakin pula banyak pelajaran hidup yang kita lewati.
Untuk kalian yang sedang di fase ini, tetap semangat ya, Allah bersama kita selama kita membersamaiNya juga 😇
Untuk yang masih belum melewati fase ini, tetaplah positif thinking dan hati-hati selalu dalam menikmati hidup sementara ini, kebahagiaan dunia itu tidak abadi 🤍
... Baca selengkapnyaKalau diingat-ingat, banyak pengalaman yang diam-diam ikut mendewasakan kita. Bukan cuma momen bahagia, tapi justru luka yang sering bikin kita tumbuh lebih kuat. Dulu aku juga tipe yang gampang percaya sama manusia, gampang menggantungkan harapan ke satu orang. Rasanya aman, seakan-akan selama dia ada, semuanya bakal baik-baik saja.
Tapi pelan-pelan hidup kasih pelajaran: manusia itu bisa pergi, berubah, kecewa, atau mengecewakan. Dari situ aku belajar, percaya kepada manusia itu wajar, tapi jangan sampai seluruh kebahagiaan diserahkan ke mereka. Ada batas sehatnya. Sekarang aku lebih sadar kalau sandaran yang paling kuat tetap Allah, sementara manusia cuma titipan dan perantara.
Lepaskan yang membuatmu sakit juga bukan hal yang mudah. Kadang kita bertahan bukan karena bahagia, tapi karena sudah terbiasa. Padahal, semakin digenggam kuat, lukanya makin dalam. Aku pernah di fase memaksa diri bertahan di situasi yang jelas-jelas bikin lelah, hanya karena takut sendiri. Sampai akhirnya aku sadar: mempertahankan yang menyakiti itu juga bentuk mengkhianati diri sendiri.
Proses melepaskan itu seperti mengubur rasa sakit, tapi jangan dalam-dalam sampai kita pura-pura lupa. Rasakan dulu sedihnya, akui kalau memang sakit, lalu pelan-pelan izinkan diri untuk sembuh. Menangis bukan tanda lemah, justru tanda kalau kita masih peduli sama diri sendiri. Setelah itu, sedikit demi sedikit, mulai isi hati dengan hal-hal baru yang lebih sehat.
Ada satu titik di mana aku belajar mencintai diri sendiri itu lebih baik daripada terus-menerus mengejar pengakuan orang. Self love buatku bukan sekadar me time, tapi berani bilang tidak pada hal yang merusak ketenangan hati, berani menjauh dari hubungan yang toksik, dan berani mengakui kalau aku juga pantas bahagia. Dari situ aku belajar untuk nggak menggantungkan kebahagiaan pada manusia, tapi pada hubungan pribadi dengan Tuhan dan penerimaan terhadap diri sendiri.
Pengalaman mendewasakan kita seringkali datang dengan bentuk yang nggak enak: ditinggalkan, dikhianati, diremehkan, atau gagal berkali-kali. Tapi di balik itu, ada versi diri yang lebih kuat sedang dibentuk. Sekarang, kalau ada sesuatu yang terasa terlalu berat digenggam, aku belajar untuk bertanya: apakah ini memang untukku, atau hanya sedang dipaksa?
Pada akhirnya, melepaskan yang membuatmu sakit bukan berarti kamu kalah, tapi justru tanda kamu memilih untuk berpihak pada kedamaian diri. Percaya kepada manusia seperlunya, percaya kepada Tuhan sepenuhnya, dan jangan lupa untuk selalu memeluk diri sendiri seerat-eratnya di setiap fase hidup yang kamu jalani.