Akan Kupacari, Suami Selingkuhan Papaku
‘Anak SMA?’ Tyo kaget melihat korbannya ternyata seorang ga dis kecil yang masih memakai seragam SMA.
Mereka langsung membuka pintu mobil samping Tyo. Ga dis itu sedikit meringis saat dinaikkan ke atas mobil.
Ga dis bermata indah itu menatap Tyo dengan pandangan antara takut dan juga menahan sa kit. Namun, entah mengapa dimata laki-laki berusia 48 tahun ini tatapan a nak bau kencur itu seperti menggodanya. Dia berpikir itu pasti hanya halusinasinya saja.
“Pak No, ayo masuk. Kita harus bergegas ke rumah sakit.”
“I … iya Pak.” Pak No segera masuk dan langsung memundurkan mobil dengan sangat hati-hati. Lalu segera pergi mening galkan parkiran restoran, tempat Tyo barusan bertemu koleganya.
Gad is disamping Tyo itu tampak sangat gugup. Dia terlihat berkeringat. Padahal, AC mobil itu sudah diatur sangat dingin. Gadis itu membuang pandangannya jauh keluar jendela, tapi tangannya sibuk memilin-milin ujung tali tas ranselnya.
“Siapa nama kamu?” tanya Tyo dengan suara berat khas orang tua.
“Eh, itu … nama saya Alana. Alana Sthevaniya.”
“Hm. Kamu sendirian? Sedang apa kamu disana?”
“Saya … akan bertemu klien saya.”
“Klien?”
“Ya. Saya berjualan online di aplikasi. Klien saya meminta bertemu disana. Namun, sudah lebih satu jam saya menunggu ia tidak kunjung datang. Jadi tadi saya berniat untuk pulang saja.”
“Berjualan?” Tyo menatap Alana dengan pandangan penuh selidik. Ia menilai penampilan Alana dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Maaf, Om, eh, Pak, untuk pastinya saya tidak bisa mengatakan produk apa yang saya ju al.”
‘Anak ini masih SMA, nggak mungkin berj ua lan ‘itu'kan? Ah, sudah separah apa kehidupan remaja zaman sekarang ini. Sudahkah, itu bukan urusanku kan.’
“Baiklah, jadi … dimana kamu tinggal?”
“Ciganjur, Om.”
“Ciganjur? Lumayan jauh kamu ke sini.”
“Iya, Om. Yah, namanya juga usaha, yang penting halal aja, Om.”
“Halal? Hm, oke. Pak No, kita ke MMC aja, Pak. Dari sana nanti kita langsung ke Halim Perdanakusuma.”
“Baik, Pak.”
“Maaf ya, Om. Aku jadi ngerepotin.”
“Nggak papa, kan yang salah sopir saya.”
“Iya, Non. Maafkan Bapak ya. Tadi Bapak benar-benar tidak lihat ada orang dibelakang. Nanti kalau Non sudah selesai diobati boleh telepon Bapak biar Bapak antar sampai rumah.”
“Nggak usah, Pak. Saya bisa naik ojol. Terimakasih.”
“Kamu, SMA?”
“SMK, Om. Kejuruan.”
“Oh. Dimana?”
“Dekat rumah aja. SMK kenamaan di JakSel.”
“Oh. Ini kartu nama Om. Kalau kenapa-napa kamu bisa hubungi Om ya.”
“Baik Om. Terimakasih.” Alana memasang wajah meringisnya saat ternyata da ra h di kakinya mengalir hingga mengotori kaos kakinya.
“Kamu nggak papa?”
“Ah, ini. S akit, Om.”
Tyo melirik noda di kaos kaki Alana, kemudian kembali menatap wajah Alana yang meringis menahan sa kit.
“Coba sini kaki kamu.” Ia hendak mencoba menghentikan pen d a r ahan di kaki itu.
“Ha?”
“Sudah, cepat! Biar saya lihat.”
Alana sempat terlihat ragu, namun akhirnya ia menurut juga untuk meletakkan kakinya dipang kuan Om Tyo.
“Maaf ya Om.”
Tyo melihat sumber luka itu ternyata sedikit jauh ke atas. Bagaimana mungkin ia menga ngk at rok ga dis ini? Itu sungguh sangat tidak sopan. Namun, Alana harus segera mendapat pertolongan. Sementara arus lalu lintas saat ini terlihat macet.
“Alana, maaf. Saya harus mengecek lu ka di bagian at as kaki kamu. Bolehkah … ”
“Iya, Om. Nggak papa.” Alana mengangkat sedikit roknya dan memperlihatkan kakinya yang sudah me mar serta terl uka cukup parah.
Tyo menelan salivanya. Tyo mengambil peralatan P3K yang memang tersedia di mobil ini. Alana meringis setiap lukanya tersentuh kapas dari tangan Tyo.
Alana ditinggalkan di rum ah sa kit dan langsung mendapatkan pertolongan pertama. Untungnya tidak ada yang serius, dia hanya lu ka dan memar saja di bagian pa ha dan lutut.
Semua ini sebenarnya memang sudah ia rencanakan. Alana, gadis SMK yang unggul dalam pemprograman ini, sudah dari lama ingin menjalankan aksinya ini.
“Tenang aja, the game will be start. So, enjoy Mr. Tyo and wife.”
















































