Bab 2
"Kamu kenapa Ay?" tanya Faaz khawatir.
Aku menggeleng keras, hatiku teramat sak it melihat ekspresinya yang sama seperti sebelum dia menjatuhkan talak padaku.
"Sak it?" tanyanya lagi.
"Nggak, hanya mab ok kendaraan," jawabku cepat.
"Kok...," kata Faaz terpotong.
"Kita pulang aja ya," kataku mengiba.
"Minimarketnya sudah di depan, sisa lima meter, tajan aja ya," kata Faaz.
Aku akhirnya mengangguk pasrah, toh setidaknya aku punya alasan tidak turun dari mobil, aku malu jika diminta belanja sementara tidak ada ua ng dalam dompet.
"Kamu nggak apa-apa menunggu di mobil?" tanya Faaz masih khawatir.
"Nggak apa-apa."
Aku mengulurkan A T M pada Faaz, A T M miliknya yang selama ini dia titipkan padaku.
Pria itu menggeleng, mengabaikan aku dan berlari masuk minimarket.
"Ya Allah, tolong kuatkan saya," gumamku.
"Sudah?" tanyaku.
"Sudah, semoga tidak ada yang terlewatkan," jawabnya. "Saya gak konsentrasi, kamu sepertinya kurang sehat,"
"Jangan berlebihan, mungkin hanya masuk angin, atau lelah," kataku menimpali.
"Kita ke dokter?" tanya Faaz serius.
"Eh, jangan!" jawabku panik.
"Kenapa? Kamu sak it loh?" cecar Faaz.
"Nggak, saya hanya lelah," jawabku lagi.
Sepanjang perjalanan pulang, aku memilih memejam mata, sengaja agar tidak terlibat obrolan dengan Faaz, aku takut keceplosan, juga takut kebablasan dan bermanja pada pria itu.
"Mas, makasih banyak," ujarku lirih.
"Sama-sama," sahut Faaz.
"Ini."
Aku kembali mengangsurkan A t m miliknya.
"Kenapa?" tanyanya bingung.
"Kita sudah bercer ai, artinya saya sudah tidak berhak atas nafkah dari kamu Mas," jawabku tersenyum.
"Kamu masih iddah loh," kata Faaz.
"Nggak apa-apa, saya takut lupa mengembalikannya nanti," kataku tersenyum.
"Lalu kamu belan..., maaf!" kata Faaz tak enak.
Aku tahu dia mengkhawatirkan keadaanku, selain sebatang, aku juga tidak berpenghasilan.
"Nggak apa-apa, in syaa Allah ada rezekinya masing-masing, sama seperti perpisahan kita, rezeki saya juga seperti itu, tidak mungkin saya masih hidup jika jatah rezeki sudah habis," kataku panjang lebar.
"Ay!" seru Faaz keberatan.
"Saya takut ibu Shanum melab rakku karena itu, lagi pula saya bukan siapa-siapa kamu lagi," kataku nasib dengan senyum mengembang.
Faaz akhirnya mengangguk, menerima A T M itu dan memasukkannya asal ke dalam saku celana kainnya.
***
Hari itu, aku memutuskan menjual gorengan, sekitar kontrakan, tak apa jika hasilnya kecil, asal bisa menutupi kebutuhan sehari-hari, kuabaikan morning sicknees walau itu sangat berat.
"Bismillah bisa!" gumamku.
Aku melangkah keluar kontrakan dengan satu tekad, harapan dan doa, gorengan dalam jinjinganku laris manis.
Aku berjalan, menyisir perumahan subsidi itu, menjajakan dagangan dengan peluh yang mengucur, pun dengan perut yang kadang nyeri.
"Mbak, gorengannya," panggil seorang remaja.
Aku mendekat, seketika senyumku mengembang dibalik masker, pembeli pertama dan rasanya luar biasa, walau hanya beli dua puluh ribu rupiah.
"Makasih," ujarku setelah menerima bayaran.
"Enak," katanya yang masih bisa kudengar.
Aku mengusap dada, bersyukur jika ada yang suka dengan daganganku, setidaknya aku punya peluang, untuk meneruskan dagangan itu.
Sekitar lima jam berkeliling, yang lima puluh ribu rupiah sudah di tangan, ada bahagia yang membuncah, memenuhi rongga da da, tanpa sadar aku mencium uang itu sambil mengusap perut, mengabarkan pada janin berusia dua bulan itu bahwa kami ada modal buat makan besok.
"Alhamdulillah ya Allah, mudahkanlah ya Allah, agar saya tidak merepotkan siapapun sampai dia lahir," batinku.
JUDUL : IZINKAN AKU PERGI (SETELAH KAU TALAK)
BY HASMI ASMAYA PUTRY

















