BAB 3. JANGAN BERCANDA
“Apa!”
Suara dari luar aula mengalihkan atensi kami.
“Sepertinya obrolan kita bocor,” gumam ustadz Agung.
Aku masih bergeming, jantungku masih bertalu dan ekspresiku tidak karuan.
Dalam diam, aku sedang histeris memanggil Ayah dan Ibu.
“Ada siapa, di luar?”
“Gak ada siapa-siapa Ustadz,” sahutku.
“Sudah pergi,” ujar ustadz Keenan.
“Obrolan kita lanjutkan, gak apa-apa?”
Aku hanya diam, sekali lagi hanya diam.
Ternyata aku bisa anggun juga, tapi hanya di depan ustadz Agung, putranya bahkan tak bisa membuatku melakukan hal itu.
“Pembicaraan ini, akan kita lanjutkan bulan depan,” lanjutnya lagi.
Aku hanya mengangguk kecil.
“Kamu keberatan?” tanya ustadz Keenan.
“Jelas, orang pengennya kuliah, seperti ustadzah Syahidah,” kataku lirih tapi ketus.
“Makanya kita lanjutkan nanti ya,” ujar ustadz Agung menengahi.
“Kamu boleh menunda waktunya, tapi gak bisa menolak perjodohan ini,” katanya lirih.
“Saya tidak suka dijodohkan Ustadz,” sahutku lirih.
“Perjodohan itu ikhtiar,” katanya.
“Ikhtiar?” tanyaku bergumam.
“Ikhtiar mencari pasangan yang setara,” lanjutnya.
“Setara gimana, anak kecil begini sama om-om,” kataku.
Sekalipun sedang protes, aku ma ti-ma tian bersikap sopan.
“Dia lebih dewasa, bukan om-om,”
“Sama saja.”
Akhirnya tangisku pe cah, suaraku nyaris meledak.
“Beda.”
Ustadz Agung menarik napas, sepertinya dia mulai kewalahan berhadapan dengan gen Z labil ini.
“Sama aja,” sahutku mulai merengek.
“Kami tidak akan mengekang kamu, apapun impianmu akan kami support,” katanya lirih.
“Gak mau,” kataku semakin merengek.
“Sekali lagi, kamu boleh menunda waktunya,”
“Aku ingin menolak Ustadz.”
“Dia sudah cukup lama menunggu, kami pun sudah cukup lama berdoa untuk kamu, untuk kalian.”
“Ah, kalian terlalu sibuk,” kataku lirih.
“Ya, kami sibuk memikirkan masa depan kalian,”
“Bukan.”
“Masa depan pondok pesantren ini bahkan ada ditangan kalian,” ujarnya.
“Gak, Ustadz punya banyak a nak.”
“Iya, tapi yang lain memutuskan mengabdi di luar pesantren,” katanya.
Aku terguguh, merasa terdzalimi atas perjodohan itu.
“Sama santri yang lain saja,” kataku asal.
“Pernikahan memang seharusnya setara, seperti yang sering kalian katakan.”
“Ini, gak setara, malah seperti langit dan bumi,” sahutku tak mau kalah.
“Kelak, kamu akan paham.”
Ustadz Agung pamit, sementara aku masih berusaha menenangkan diri, hingga sebuah usapan di punggung membuatku menoleh.
“Ustadzah.”
# # #
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Tenri.”
Aku menoleh dan ustadzah Syahidah di sana.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” sahutku terpaku.
“Silakan masuk, Ustadzah.”
Aku menunduk sopan.
“Masih di ka mar aja,” ujarnya.
“Iya Ustadzah,” sahutku sungkan.
“Melamun?”
“Gak, suka aja nonton aktivitas santri dari jendela,” jawabku.
“Apapun yang sampai pada kamu, tidak seharusnya mengganggu pikiran kamu,” lanjutnya.
“Tapi Ustadzah….”
“Itu rencana manusia, sama seperti kamu merencanakan masa depan. Abi dan ayah kamu melakukan hal yang sama, tapi di rana yang berbeda,” katanya lirih.
“Aku keberatan,” sahutku.
“Tidak ada yang memintamu memenuhi itu sekarang, bukan?”
“Tapi mereka berhasil membuat aku kepikiran kan?”
“Kenapa orang dewasa suka ego is?”
“Gak juga,”
“Aku yakin, buktinya.”
Aku manyun.
“Mereka sudah cukup dengan dunia ini, perjalanan panjang membuat dia belajar dan mengambil hikmah, sementara kita ya….”
Ustadzah Syahidah mengedikkan bahu.
“Mungkin pikiran kita, masih seputar kehidupan hari ini,” lanjutnya.
Aku masih diam, obrolan itu masih belum bisa aku cerna dengan baik.
Wajar, dia lulusan S2, sementara aku baru lulus SMA, tidak setara.
“Ustadzah, kenapa gak nyari an ak dari sesama kyai?” tanyaku spontan.
“Seorang ustadz gak harus besanan sama ustadz kan?”
“Tapi seharusnya itu, jadi pertimbangan,” kataku tak mau kalah.
“Mereka milih kamu,” bisiknya.
“Gak, ustadz Keenan hanya manut sama Ustadz.”
“Kamu percaya?”
“Maksudnya?”
“Let’s see!”
Judul : TENRI (TERGANTUNG RESTU)
By Hasmi Asmaya Putry































































