Bab 2
“Selidiki apa yang dilakukan oleh suamiku akhir-akhir ini.”
Aku harap ini hanya sebuah kesalahpahaman saja, atau pesan salah kirim dari seseorang.
“Sa ya ng, kenapa kamu duduk di lantai?” Aku tersentak saat suara Mas Haris terdengar.
“Ayo bangun. Lantai ini dingin.” Mas Haris mem bop ong tub uhku dan mendudukkan di atas ranj ang.
Aku menatap wajah suamiku. Wajah yang selama delapan tahun ini selalu aku lihat setiap bangun ti dur.
“Kamu sa kit? Wajah kamu pucat.” Wajah Mas Haris terlihat khawatir.
“A-aku, aku cuma nggak enak ba dan saja, Mas,” jawabku dengan terbata.
“Kamu nggak enak b adan? Kita ke rum ah sa kit sekarang,” ujarnya dengan panik.
“Nggak perlu, Mas. Aku cuma perlu istirahat sebentar. Nanti juga pasti membaik.”
“Kamu pasti telat makan, kan? Tunggu di sini, biar aku yang memasak makanan kesukaan kamu.”
“Apa benar kamu sudah me nghia natiku, Mas?” gumamku dengan air mata yang mengalir.
Tring!
Bunyi notifikasi masuk membuatku dengan cepat membukanya.
“Nyonya, tanggal dua belas, Tuan Haris bersama wanita bernama Risa. Mereka check in selama dua hari di puncak.”
“Makanan datang!” Aku dengan cepat meletakkan kembali ponselku dan berpura-pura tidak mengetahui apapun.
“Ayo cepat makan. Ini makanan kesukaan kamu dan aku memasaknya dengan penuh cinta untuk istriku.”
“Makasih, Mas.” Aku tersenyum kecil, senyum untuk menutupi lu ka dan kecewa atas pe nghia natan yang sudah diberikan oleh laki-laki dihadapanku ini.
“Ayo cicipi. Kenapa melihat wajahku terus. Aku tahu, suami kamu ini ganteng. Maaf ya, beberapa hari ini aku selalu sibuk dengan pekerjaan sampai mengabaikan kamu.”
Aku tersenyum ke cut. Sibuk pekerjaan apa? Jelas-jelas dia sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan wanita lain. Apa dia tidak lelah dengan aktingnya ini?
“Mas, makannya nanti saja, ya. Peru tku rasanya nggak enak.” Aku meletakkan kembali makanan tersebut di atas meja.
“Lebih baik kita ke ru mah sa kit saja, ya. Aku takut sa kit kamu semakin parah jika di diamkan seperti ini.”
Aku menggeleng dengan cepat. “Nggak perlu, Mas. Minum obat seperti biasa juga pasti sudah membaik.”
“Kalo kamu sa kit seperti ini, aku nggak akan tenang mening galkan kamu sendirian di rum ah. Sekarang nurut, ya. Kita ke rum ah sa kit.”
“Mening galkan aku? Kamu mau pergi lagi, Mas? tanyaku menatap wajahnya.
Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, seolah tengah menyiapkan sebuah kebohongan yang lain.
“Iya. Ada proyek yang harus aku selesaikan. Nggak lama, mungkin satu minggu,” jelasnya.
Proyek? Proyek menikah diam-diam dibelakangku?
Sejak kapan kamu pandai berbohong seperti ini? Atau… selama ini aku yang terlalu bo doh hingga percaya dengan apapun yang kamu lakukan di luar sana?
“Mas, aku mau ikut, ya. Aku bosan di rum ah sendirian, ” keluhku dengan memasang wajah sedih.
“I-ikut?” Aku bisa melihat kepanikan di wajahnya, meski sekuat apapun Mas Haris mencoba untuk menutupinya.
“Iya. Aku janji nggak akan mengganggu pekerjaan kamu,” ucapku kembali.
“Sa ya ng, bukan aku nggak mau ngajak kamu. Tapi aku cuma nggak mau kamu bosan menunggu di hotel sendirian.”
“Aku kan bisa ikut kamu ke proyek, Mas.” Aku terus memaksanya.
“Untuk sekarang nggak bisa. Tapi aku janji, pulang dari sana, kita pergi ke tempat yang kamu mau.”
“Baiklah.” Aku menjawab dengan suara seolah aku buat sedih. “Oh iya, Mas. Dua hari lagi kamu kan ulang tahun? Aku akan menyiapkan hadiah spesial untuk kamu.”
“Hadiah? Hadiah apa?”
‘Hadiah yang tidak akan pernah kamu lupakan dan hadiah yang akan merubah hidupmu!’
Judul: Kumi skin kan Suamiku di Hari Pernikahannya
Penulis: BlueGwen
Baca cerita selengkapnya di KBM App

































































