Rian menatapnya lebih lama. Lalu bertanya dengan suara pelan tapi jelas.
"Ini istri atau asisten rumah tangga, sih?"
Wulan terdiam. Jan tungnya berdebar kencang.
Rian tidak bermaksud jahat. M atanya hanya penuh rasa ingin tahu. Tapi pertanyaan itu m e nusuk lebih dalam dari p i s a u.
Istri atau asisten rumah tangga?
Di m ata sepupu Arga sendiri, aku tidak jelas statusku.
Bagaimana dengan yang lain?
Wulan menggi git bi bir. "Saya istrinya, Mas. Tapi saya juga memb antu pekerjaan ru mah."
"Bantu?" Rian tersenyum kecut. "Ini bukan bantu, Wulan. Ini kamu dijadikan pemb antu."
Sebelum Wulan menjawab, Bu Tuti muncul di belakang.
"Rian, kamu bicara apa dengan Wulan?"
Rian menoleh. "Tante, kok Wulan yang mela yani semua? Mana pemba ntunya?"
Bu Tuti tersenyum manis. "Wulan memang senang memb antu. Dia menantu yang baik. Rajin. Tidak banyak tingkah."
Rian tidak terlihat puas dengan jawaban itu. Tapi ia hanya mengangguk. "Baiklah, Tante. Aku pamit dulu. Ada acara lain."
Rian pergi. Sebelum keluar, ia menatap Wulan sekali lagi. M atanya berkata, "Kamu tidak seharusnya di sini."
Wulan kembali mela yani tamu. Ia tersenyum. Ia membungkuk. Ia mengucapkan "silakan" dan "terima kasih" berkali-kali.
Tapi di dalam h atinya, pertanyaan Rian terus bergema.
Ini istri atau asisten rumah tangga, sih?
Jam menunjukkan pukul 4 sore ketika tamu terakhir pulang. Rumah besar itu kembali sepi. Hanya tersisa Bu Tuti, Dewi, dan Wulan.
Arga belum pulang. Seperti biasa.
"Wulan, bersi hkan semuanya," perintah Bu Tuti sambil duduk di sofa. "Meja makan. Ruang tamu. Dapur. Semua harus bersih sebelum magrib."
Wulan menga ngguk lemas. "Baik, Ibu."
Ia mulai membereskan meja. Piring-piring kotor bertumpuk. Sisa maka nan bertebaran. Gelas-gelas kotor di mana-mana.
Wulan mengangkat semuanya ke dapur. Satu per satu dicucinya. Tangannya yang sudah melepuh terasa semakin perih.
Dewi lewat di belakangnya. "Wulan, besok kamu setrika baju aku lagi. Ada lima belas blouse."
Wulan tidak menjawab. Ia hanya terus mencuci piring.
"Kamu dengar?" Dewi meninggikan suara.
"Dengar, Mbak."
"Bagus. Jangan banyak meng eluh."
Dewi pergi. Wulan sendirian di dapur.
Ia memandangi tangannya yang merah dan melepuh. Lalu ia meman dangi dapur yang kotor. Lalu ia memandangi langit-langit yang sama retaknya dengan k amar pembantunya.
Hari ini aku mela yani empat puluh tamu. Aku tersenyum. Aku membu ngkuk. Aku mendengar bisikan-bisikan bahwa aku hanya pemb antu.
Bahkan sepupu Arga bertanya, "Istri atau asisten rumah tangga?"
Dan aku tidak bisa menjawab dengan tegas.
Karena aku sendiri tidak tahu.
Status apa yang aku miliki di rumah ini?
Istri? Tidak ada istri yang t idur di ka mar pemba n t u.
Asisten rumah tangga? Tidak ada ART yang dinikahi dengan akad nikah.
Lalu aku siapa?
Wulan memej amkan m ata.
Air matanya jatuh ke bak cuci piring.
Jam menunjukkan pukul 7 malam. Wulan selesai membe rsihkan semuanya. Ia masuk ke kam ar pemba ntunya. Badannnnya remuk. Jiw anya remuk.
Ia berba ring di rannnjang besi tipis itu.
Setahun sudah. Setahun aku menikah dengan Arga.
Dan tidak ada perubahan. Aku masih ti dur di sini. Di ka mar pemb antu.
Arga tidak pernah menga jakku tiduur di kam arnya. Tidak pernah.
Dia tidak pernah menyennntuhku. Tidak pernah.
Bahkan untuk sekedar berpe gangan tangan atau berpe lukan, tidak pernah.
Kami seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Atau lebih tepatnya, aku pemb antu yang kebetulan dinikahi.
Wulan m e meluk bantal tipisnya.
Apakah ini yang dinamakan perni kahan?
Apakah aku bisa disebut istri kalau suamiku sendiri tidak pernah menganggapku sebagai wanita?
Ia membuka m ata.
Menatap langit-langit yang retak.
"Setahun sudah. Aku masih per awan. Bukan karena aku memilih. Tapi karena suamiku sendiri tidak pernah menging inkanku sebagai istri. Lalu untuk apa aku dini kahi? Untuk menjadi pemb antu seumur hidup?"
----
Baca selengkapnya di KBM App
Judul : Dulu Pembantu, Kini Jadi Ratu
Penulis : Theresia Anastasia






















































