"Makanya Gus, cepat-cepat kamu cariin ru mah buat Nesya. Jangan kelamaan ting gal di ru mah orang tuamu. Nesya ini anak gad is kami satu-satunya. Dia gak pernah ibu suruh mengerjakan pekerjaan ru mah. Jadi kamu juga harus segera cari pembantu buat Nesya. Kasihan kan istri kamu kalau pulang kerja hsrus capek ngurus kerjaan ru mah tangga lagi."
Bagus hanya tersenyum kaku. Beli ru mah, cari pembantu. Ua ng darimana? Pikirnya dalam hati. Rasanya ia ingin segera pergi dari ru mah mertuanya secepatnya.
"Iya Bu, nanti Bagus usahakan. Kami pamit dulu." Ucap Bagus sambil menyalami tangan kedua mertuanya.
"Eh Gus, tunggu sebentar. Gimana kalau kamu suruh mantan pacar kamu itu aja buat bantu-bantu pekerjaan ru mah. Dia kan mantan babu ya? Pasti udah terbiasa." Terdengar nada sinis yang kentara dari suara Bu Tuti.
"Ibu apa-apaan sih. Ngapain ga dis udik itu disuruh kerja di ru mah kami. Yang ada dia keganjenan nanti ngerayu suami aku. Emang gak lihat kelakuan dia kayak gimana kemarin? Norak bin kampungan."
Sementara itu di ru mah Mayang, kedua orang tua Mayang Bu Lastri dan Pak Darmo sedang duduk di kursi kayu di ruang tamu. Di hadapan mereka putri tunggal mereka duduk dengan kepala menunduk.
"Sebenarnya sudah lama Mayang ingin menceritakan kepada ibu dan bapak. Tapi Mayang tunda karena rasanya waktunya belum tepat." Ucapnya memulai pembicaraan kembali.
Bu Kastri dan Pak Darmo hanya diam, meskipun mulut sang ibu gatal ingin menanggapi tapi wanita paruh baya itu memilih diam. Biarlah Mayang menyelesaikan ceritanya terlebih dahulu.
"Mayang selain bekerja di kota sebagai pengasuh an ak nyambi kerjaan ru mah, Mayang juga melakukan kegiatan lain Pak dan Bu." Mayang kembali menatap kedua orangtuanya, "Mayang kuliah..."
Bu Lastri dan Pak Darmo saling menatap satu sama lain. Mereka tidak menyangka bahwa an aknya akan mengatakan hal ini.
"Kamu dapat ua ng darimana nduk? Biaya masuk kuliah itu kan mahal."
Perempuan berusia 27 tahun itu tersenyum menatap lelaki yang dia sayangi seumur hidupnya itu.
"Mayang dapat beasiswa Pak. Jadi Pak Robert, majikan Mayang di kota menyarankan Mayang untuk kuliah. Bahkan beliau tidak keberatan jika Mayang bekerja sambil kuliah. Jadi...Mayang mendaftar beasiwa dan mendaftar kuliah di sebuah universitas."
"Terus sekarang gimana nduk? Kuliahmu itu sudah lulus?" Tanya Bu Lastri penasaran.
"Njih Bu. Sudah dua tahun yang lalu. Maaf Ibu dan Bapak gak Mayang undang. Karena saat itu Mayang masih bingung gimana cerita ke Bapak dan Ibu. Mayang takut Bapak dan ibu masih shock." Ada perasaan sesal dalam dirinya karena ketidakhadiran kedua orang tuanya di hari bahagianya. Meskipun ada Rafa dan Rania yang hadir sebagai pengganti kedua orang tua, Mayang tetap saja merasa ada yang kurang.
"Kalau seandainya mereka tahu, ndak mungkin kamu akan dihi na seperti Yang. Mungkin mereka akan melamar kamu dengan mahar yang bagus seperti Bagus melamar Nesya. Kenapa kamu ndak cerita toh Nduk. Kan kamu gak bakal gagal nikah begini." Bu Lastri memandang dengan wajah penuh penyesalan.
"Bu sudah, ndak usah diomongin lagi Bagus dan keluarganya itu. Kami memang ndak jodoh. Lagipula Mayang ndak mau punya suami dan mertua yang hanya memandang harta dan kedudukan. Sudah betul Mayang ndak usah cerita jadi bisa tahu sifat asli mereka."
"Betul kata Mayang bu, yang penting sekarang Mayang fokus sama masa depannya. Dia masih muda, masih banyak yang harus dia raih. Masalah jodoh akan datang di saat yang tepat." Ucap Pak Darmo membela sang putri.
Selengkapnya di KBM App
Judul : Mahar Seribu rupiah
Penulis : Tianarie































































