SPOILER BAB 1
“A n a k ini akan m a t i kalau kita terus menunggu tanda tangan!” bentak Dokter Evan di tengah hiruk-pikuk IGD.
Suara tangis a nak-ana k bercampur sirene ambulans memenuhi rumah sakit malam itu. Sebuah bus rombongan TK mengalami kece-lakaan saat pulang piknik. T u b u h kecil bersimbah d a r a h berdatangan tanpa henti.
“Dokter Evan, pasien kritis!” teriak Dion sambil menekan perut seorang bocah laki-laki yang terus mengeluarkan d a r a h.
Evan langsung mendekat. A n a k itu masih sangat kecil, mungkin baru lima tahun. Wajahnya pucat di balik sungkup oksigen, tetapi entah kenapa terasa begitu familiar di m a t a Evan.
“Namanya Rivaldo Evander Diaz, Dok,” ujar Dion cepat.
Nama itu terdengar asing, namun j a n t u n g Evan tiba-tiba berdegup tidak nyaman.
“Orang tuanya?” tanya Evan.
“Belum ditemukan sejak kece-lakaan,” jawab perawat.
Evan memeriksa kondisi Rival dengan cepat. Perd a r a han di perutnya sangat parah. Jika tidak segera dioperasi, a n a k itu bisa me n i n g g a l kapan saja.
“Siapkan ruang operasi sekarang!” perintah Evan tegas.
Namun beberapa detik kemudian, Tyas datang membawa hasil pemeriksaan d a r a h dengan wajah pucat.
“Dok… ada masalah besar,” katanya lirih.
Evan menatapnya t a j a m. “Apa?”
Tyas m e n e l a n ludah.
Tangannya gemetar memegang lembar hasil lab.
“Golongan d a r a h a n a k ini Bombay phenotype… golongan d a r a h Oh.”
Ruangan IGD seketika terasa sunyi.
Bombay phenotype adalah golongan d a r a h paling langka di dunia. Sangat sedikit orang yang memilikinya.
Dan di rumah sakit itu… hanya satu orang yang punya d a r a h tersebut.
Dokter Evan.
Semua m a t a langsung tertuju padanya.
Bisik-bisik mulai terdengar di antara para perawat.
“Bukannya Dokter Evan belum menikah?”
“Kenapa bisa sama persis?”
Evan membeku.
Pandangannya kembali jatuh pada wajah bocah itu. Bentuk alisnya. Garis rahangnya. Bahkan kebiasaan mengg i g i t b i b i r saat menahan s a k i t… semuanya terasa terlalu mirip dengannya.
“Tidak mungkin…” batin Evan kacau.
Gilang akhirnya datang ke IGD dengan napas memburu. “Kita harus operasi sekarang!”
“Tapi kita belum mendapat persetujuan keluarga,” sahut Tyas ragu.
“Peraturan rumah sakit melarang operasi tanpa tanda tangan wali.”
Evan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Saturasi oksigen Rival terus turun. B i b i r bocah itu mulai membiru.
Setiap detik menentukan hidup dan m a t i.
“Aku yang bertanggung jawab,” ucap Evan dingin.
Semua orang terdiam.
“Aku akan tanda tangan persetujuan operasi.”
“Dan aku sendiri yang akan mendonorkan d a r a h untuk a n a k ini.”
Gilang menatap Evan tidak percaya. Selama ini Evan dikenal paling disiplin soal prosedur. Tapi malam itu, dokter dingin itu berubah total demi seorang a n a k kecil yang bahkan belum ia kenal.
“Kamu sadar risikonya?” tanya Gilang pelan.
Evan menatap Rival lama sekali sebelum menjawab.
“Aku lebih takut melihat a n a k ini m a t i di depanku.”
Tyas masih tampak gelisah. “Tapi kalau keluarganya datang dan menuntut…”
Belum sempat ia menyelesaikan ucapan, pintu IGD tiba-tiba terbuka keras.
Seorang wanita berlari masuk dengan wajah penuh l u k a dan pakaian berlumur d a r a h.
Saat matanya bertemu Evan, t u b u h wanita itu langsung membeku.
Sementara Evan sendiri seperti disambar petir.
Wanita itu adalah masa lalunya yang menghilang enam tahun lalu.
Dan dari b i b i r wanita itu keluar satu kalimat yang membuat dunia Evan runtuh seketika.
“Jangan operasi a n a k itu… dia a n a kmu, Evan!”
^^^bersambung^^^
Penasaran???
✨✨
Baca selengkapnya hanya di k b m app
Judul : Anak Rahasia Dokter Evan
Karya : Jingga Violletha
























