Warisan Dosa
"Raya, tolong cari dia... dia... di laci tiga kantor Mama."
Kalimat itu meluncur dari bi bir Mama yang memucat.
Tanganku geme tar hebat. Cai-ran merah pekat, dar-ah Mama, masih membasahi ujung jas putihku, mulai mengering dan meninggalkan aroma besi yang menyesakkan indra penci-umanku.
Hari ini, aku berdiri di IGD bukan sebagai dokter yang sigap menyelamatkan nya wa, melainkan sebagai seorang anak yang han cur, menyaksikan kedua orang tuanya terba ring tak berdaya di ambang ma ut.
Mama, wanita yang selama 28 tahun hidupku selalu tampil dengan gamis anggun dan tutur kata yang menyejukkan jiwa, kini terlihat begitu rapuh di atas brankar yang dingin.
Namun, di tengah kondisi s y o k hipovolemik yang seharusnya membuat kesa darannya hilang, Mama tiba-tiba menceng ke ram lenganku.
Kekuatannya saat itu terasa mustahil, seolah-olah ada sesuatu yang jauh lebih besar dan menge rikan dari rasa sa kit fisik yang memaksanya untuk tetap terjaga.
“Raya... tolong cari dia...” bisiknya lagi.
Suaranya serak, nyaris tengge lam di antara bisingnya suara mesin monitor EKG dan te riakan petugas medis yang sibuk menyiapkan intubasi. Aku terpaku. Tatapan Mama saat itu tidak menunjukkan rasa sa kit akibat tulang rusuknya yang pa tah atau pend a r a han internal yang hebat, melainkan sebuah keta kutan yang murni.
Keta kutan yang belum pernah kulihat sebelumnya selama aku hidup bersamanya.
Siapa yang harus aku cari? Kenapa di saat nya wanya berada di ujung tanduk, Mama justru memberikan teka-teki yang menghim pit da daku seperti ini?
Detik berikutnya, tu buh Mama mele mas. Kesadarannya terenggut total. Papa pun sama, terba ring tak sadarkan diri dengan l uka trauma kapitis yang sangat pa rah. Kini, mereka berdua terbaring kaku di balik tirai IGD rumah sakit tempatku bekerja.
Sungguh ironis. Aku, seorang dokter yang biasanya memberikan kepastian dan ketenangan pada keluarga pasien, kini justru tersesat dalam labirin ketidakpastian yang diciptakan oleh ibuku sendiri.
Selama ini, Mama adalah kiblat moral bagiku. Seorang psikiater ternama yang dihormati, wanita sholehah yang agamis, sosok role model yang bagiku tidak memiliki ce l a sedikit pun. Namun, hari ini, di balik tirai IGD yang dingin dan bau antiseptik yang ta jam, aku merasa sedang melihat seseorang yang asing.
Ada sebuah rahasia yang ia kunci rapat di laci nomor tiga itu. Dan ketika aku akhirnya menggali sedikit demi sedikit kebenaran yang tertimbun, kenyataan itu menam-parku habis-habisan.
Tiga puluh tiga tahun lalu... saat Mama masih menjadi mahasiswa. Mama pernah mengan dung. Mama pernah mel a h i rkan.
Namun, Mama memilih untuk meninggalkan a nak itu. Membu angnya demi sebuah citra kesempurnaan yang aku nikmati selama ini.
Da-daku sesak. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa Mama baru mewariskan dosa masa lalunya sekarang, di saat ia berada di ambang hidup dan m a t i? Kenapa ia membiarkanku memikul beban ini sendirian?
Mama yang aku kagumi... wanita sholehah yang suci ini... ternyata menyimpan rahasia yang begitu ko tor. Dan "dia" yang diminta Mama untuk kucari, mungkin adalah b o m waktu yang siap menghan curkan sisa-sisa hidupku.
“Ya Allah…”
“Aku tidak sanggup.”
Judul : Warisan Dosa Dari Mama
Penulis : Nietha_setiaji
KBMapp

















































