LU KA 7
“Buka pintunya, Aisyah!!”
“Buka pintunya sekarang!”
“K-Kak Rania…”
PLAK!
Tam paran keras mendarat di pipi Aisyah sampai tu buhnya terhuyung membentur daun pintu.
“Aku menolongmu seperti adik sendiri!” suara Rania pe cah menggema.
“Aku buka ru mahku untukmu! Aku kasih makan kamu! Aku bela kamu saat orang-orang bilang kamu terlalu dekat dengan suamiku dan ini balasanmu?!”
Air mata Aisyah langsung jatuh. “Kak, dengar dulu”
“Dengar apa?!” Rania mendorong pintu lebih lebar.
“Dengar alasanmu kenapa suamiku ada di kam armu tengah malam?!”
Aisyah panik. “Mas Ardhana nggak di sini”
“Jangan bohong!”
“Papa ada di sini.” Suara Raka berubah dingin mema tikan.
Anya langsung menangis. “Aku benci Papa… aku benci dia…”
“Raka, jangan” Aisyah mencoba menghalangi.
Namun terlambat.
Raka menerjang ke arah kamar tamu, membanting pintunya dan di sanalah Ardhana berdiri. Masih memakai kemeja kantor.Lengan bajunya tergulung. Wajahnya pucat karena ketahuan. Untuk satu detik yang panjang, tak ada yang bergerak. Tak ada yang bernapas.
Lalu Raka menghan tam ayahnya.
BUK! “Baj*ngan!”
Ardhana terpental ke samping. “RAKA!”
“Raka, berhenti!” Rania berteriak.
Tapi putranya sudah kehilangan kendali.
Ia menceng keram kerah ayahnya. “Mama nangis di ru mah nungguin Papa, dan Papa malah di sini? Di ran jang perempuan lain?!”
“Aku tidak tidur dengannya!” bentak Ardhana.
“Lalu kenapa Papa di sini?!”
“Aisyah ketakutan karena Hendra mengam uk”
“BLLSHT!” teriak Anya dari ambang pintu. Air matanya bercucuran. “Papa bohong terus!”
Aisyah jatuh berlutut di depan Rania. “Kak, demi Allah nggak seperti yang Kakak pikir”
“Jangan sen tuh aku!” Rania mundur seolah jij ik.
“Jangan pakai nama Tuhan setelah apa yang kamu lakukan!”
Ardhana mendorong Raka menjauh. “Cukup! Ini sudah kelewatan!”
“Yang kelewatan itu kamu!” Rania akhirnya berteriak, suaranya serak oleh tangis yang tertahan sejak tadi.
“Aku menunggumu sebagai istri yang setia, Ardhana! Aku ikut kamu pindah negara, ning galin hidupku, ning galin keluargaku, membesarkan an ak-an ak kita sendirian saat kamu kerja siang malam dan kamu balas aku dengan ini?!”
“Aku tidak s e l i n g k u h!” bentak Ardhana.
“Kalau begitu sumpah sekarang!” Rania menunjuk wajahnya.
“Tatap mataku dan sumpah kamu nggak pernah menyen tuh dia!”
Sunyi.
Ardhana membeku.
Mata Rania melebar.
Karena diamnya lelaki itu adalah pengakuan paling telan jang.
Anya menjerit kecil sambil menutup mulut.
Raka mundur satu langkah seperti baru saja ditikam.
Dan Rania…
Rania merasa lantai di bawah kakinya runtuh.
“Kamu…” suaranya nyaris tak terdengar. “Kamu benar-benar tidur dengannya?”
Aisyah menangis histeris. “Kak, maaf… maaf…”
“Mulai malam ini,” bisiknya dingin, “kalau kamu masih punya sedikit rasa malu… enyahlah dari hidup keluargaku.”
Aisyah terisak. “Aku nggak bisa…”
Kalimat itu membuat semua orang terdiam.
Rania mengernyit. “Apa maksudmu?”
Aisyah menatap Ardhana dengan wajah penuh ketakutan.
Ardhana langsung meneg ang.
“Jangan,” desisnya.
Tapi Aisyah menangis lebih keras.
“Aku nggak bisa pergi, Kak…” suaranya patah. “Karena… karena aku h a m i l…”
Air matanya jatuh tanpa suara.
“Sudah berapa lama?” tanyanya lirih.
Tak ada jawaban.
“SUDAH BERAPA LAMA KALIAN MENGHI NA AKU DI BELAKANGKU?!” teriaknya akhirnya.
Tak ada satu pun yang berani bicara.
Rania tertawa.
Tawa yang terdengar seperti orang patah jiwa.
Lalu ia mundur selangkah.
Dua langkah.
Menatap suaminya, perempuan itu, lalu perut yang kini terasa seperti pi sau di matanya.
“Selamat ya,” katanya dengan suara gemetar. “Benih suamiku… tumbuh di rah im tetanggaku.”
Judul : BENIH SUAMIKU, DI RA HIM TETANGGA
Penulis : SENJA BANYU BIRU
KBM APP




















































