“Ya Allah ... astaghfirullah ....”
Tub u hku melesat turun dan akhirnya terduduk di lantai dingin. Hari di mana aku dan Mas Anton berbahagia, kini dibalikkan dalam sekejap. Aku ha n cur dibuatnya. Aku ... mu rka.
“Bunda.”
Kinari mendekat dan mem elu kku. Ia mena ngis, berpadu dengan suaraku yang meraung-raung persis seperti dulu waktu Bapak berpulang.
“Kenapa, Mas?”
Ini pertanyaan konyol. Tentu alasannya sudah jelas, kan?
Mas Anton pasti jat uh hat i pada wanita lain, sampai berani memutuskan melamarnya. Dan semua itu diam-diam di belakangku.
Apakah mereka sudah menjalin hubungan cukup lama tanpa sepengetahuanku? Mengapa jamaah masjid tempatku mengaji lebih dulu tahu dibanding aku?
Apa mungkin keluarga Mas Anton, Umi, kakak iparku juga tahu? Kinari pun tahu, sedangkan aku?
“Kenapa Kakak nggak kasih tahu Bunda soal Ayah?” Aku menoleh, menatap lurus Kinari dengan pandangan buram. “Kakak tahu dari mana? Dari kapan?”
Aku bisa melihat raut ses al di wa jah anakku. Bi b irnya yang merah itu gemetaran, mungkin ada kata-kata yang siap Kinari lontarkan, tapi tertahan oleh ses a k.
Mas Anton melangkah mendekat, mencoba menggapaiku, tapi suaranya lebih dulu menyent il ruang dengarku.
“Jangan salahkan Kinari, Dek. Dia nggak bersalah, salahkan semuanya ke aku.”
Bukan itu yang mau aku dengar. Mana tega aku menyalahkan Kinari di saat pel ak unya ada di hadapanku sekarang?
“Kok bisa orang-orang tahu kamu mau menikah, tapi istrimu sendiri nggak tahu apa-apa, Mas?”
“Kapan rencananya kamu mau bilang ke aku? Apa setelah kalian menikah? Kamu bawa istri keduamu ke sini dan memperkenalkanku langsung, gitu?”
“Aku nggak ada maksud begitu, Sa yang.”
“Stop sebut aku begitu, Mas!” Aku menjerit. “Kenapa harus hari ini ... kenapa ....”
Tan ga nku yang gemetaran mencapai kening. Kepalaku berdenyut tak nyaman begitu rasa fru s t a s i makin menjeratku.
“Ternyata kamu b e l i rumah di dekat kantor itu alasannya ini ya, Mas. Kamu mau poli ga mi,” gumamku kemudian. “Ya Allah, kenapa aku bo d oh banget.”
“Alana, aku berencana kasih tahu kamu.” Mas Anton bersikeras meyakinkanku. Tangannya sampai repot-repot menye n tuh pundakku. “Aku juga nggak mungkin menikah tanpa izin kamu.”
Berkali-kali aku menepisnya, hingga tenaga paling kuat yang aku miliki membuat tangannya menjauh dariku.
“Terus kalau aku nggak mengizinkan, kamu bakal batal menikahi wanita itu?” Ma taku memici ng penuh curi ga, yang sayangnya, aku langsung bisa menebak isi kep a la Mas Anton dengan mudahnya. “Nggak mungkin batal, ‘kan? Kamu akan mencari cara, kalau perlu menikah diam-diam. Begitu sah, aku nggak akan bisa menolak. Hakku buat bicara nggak ada artinya.”
“Alana ....”
Aku tidak pernah meng e luh selama mengurus Kinari. Aku menyayanginya dengan segenap ha ti. Tapi apa sekarang?
Mas Anton meninggalkanku. Mas Anton mengikuti jejak kedua kakaknya. Para ipar yang selalu mencetuskan ide aneh dan membuatku kepayahan menjadi istri.
“Ibu benar, selama ini. Ibu benar ... semua yang dikatakan Ibu benar. Kamu melebihi Bapak. Perbuatanmu meny a kiti h a t i istri melebihi apa yang Bapak perbuat ke Ibu.”
“Alana, dengarkan aku. Aku bisa jelaskan semuanya. Rencanaku mau memberitahu kamu besok. Malam ini di luar dugaan, aku nggak nyangka kamu menemukan cincin itu.”
“Itu karena Allah sayang sama aku, Mas. Allah tunjukkan raha sia besarmu lagi ke aku, tepat H-1 lamaranmu,” kekehku. “Jadi gimana? Kamu tetap mau melamar dia? Besok, kan, acaranya?”
Pundak Mas Anton melorot, tenaganya tampak terkuras hingga dasar. Namun aku tidak peduli, aku masih belum puas bicara.
“Kamu punya tujuan utama, alasan kamu kasih tahu aku besok biar semuanya tetap terlaksana. Wajahmu nggak bisa bo hong, Mas. Aku udah tahu kamu luar dalam, 24 tahun itu bukan waktu sebentar. Tapi kok ya kamu masih belum puas. Nggak ada syukurnya ya kamu, Mas.”
"SETELAH 24 TAHUN (Akhirnya Dimadu) by Namericanou



























































