rumah sakit tua
Gema di Lorong RSU Kembang Sari
Hujan deras mengguyur kota malam itu, seolah langit ingin menghapus dosa-dosa yang terpendam di bawahnya. Rian, seorang fotografer urbex (eksplorasi perkotaan), berdiri di depan gerbang besi berkarat yang setengah roboh. Di hadapannya, menjulang bangunan megah namun menyedihkan: Rumah Sakit Umum Kembang Sari.
Rumah sakit ini telah ditutup sejak tahun 1998 setelah serangkaian kematian misterius yang tidak pernah terpecahkan oleh polisi. Konon, para pasien tidak meninggal karena penyakit mereka, melainkan "diambil" oleh sesuatu yang tinggal di lantai empat, sayap timur, yang kini sudah disegel.
" hanya butuh satu foto bagus untuk portofolio," gumam Rian mencoba menenangkan diri, meski bulu kuduknya sudah meremang sejak ia melangkah masuk.
Senter di tangannya menerangi lorong utama yang dipenuhi debu dan puing-puing kaca. Bau apek bercampur dengan aroma antiseptik yang aneh—seolah-olah bau obat-obatan itu masih segar despite puluhan tahun berlalu. Langkah kakinya bergema terlalu keras di keheningan itu, tak... tak... tak...
Saat ia mencapai tangga menuju lantai dua, suara itu terdengar pertama kali.
Bip... bip... bip...
Suara monitor detak jantung. Jelas dan ritmis.
Rian membeku. "Mustahil," bisiknya. "Listrik sudah diputus sejak lama."
Ia mengarahkan senternya ke atas tangga. Cahaya itu menyorot sebuah kursi roda yang terbalik di tengah koridor lantai dua, padahal tadi saat ia melihat dari bawah, koridor itu kosong. Angin dingin berhembus tiba-tiba, membawa fluksuasi suhu yang drastis. Napas Rian terlihat sebagai uap putih tebal.
Dengan gemetar, ia melanjutkan naik. Ia merasa diawasi. Dari setiap pintu ruangan yang terbuka sedikit, ia merasa ada sepasang mata mengintip dari kegelapan dalam.
Sesampainya di lantai tiga, suara bip... bip... bip... semakin cepat. Semakin panik.
Rian memutuskan untuk mencari sumber suara itu. Ia mengikuti arah suara hingga sampai di depan sebuah pintu ganda besar yang catnya mengelupas. Tertulis samar: RUANG OPERASI 4. Pintu itu terbuka sedikit.
Dari celah pintu, cahaya hijau pucat memancar keluar. Bukan cahaya senter Rian, bukan juga cahaya petir. Itu cahaya yang tidak wajar.
Dengan rasa penasaran yang mengalahkan akal sehat, Rian mendorong pintu itu.
Ruangan operasi itu bersih. Terlalu bersih. Tidak ada debu. Lantai keramik mengkilap. Di tengah ruangan, terdapat meja operasi dengan tali pengikat kulit yang tergantung longgar. Dan di sudut ruangan, berdiri seorang perawat dengan seragam putih kusam era 90-an, membelakangi Rian.
"Permisi, Bu?" panggil Rian suaranya tercekat.
Perawat itu tidak menjawab. Bahunya bergerak naik turun, seolah sedang menangis tersedu-sedu.
"Saya hanya ingin mengambil foto..."
Tiba-tiba, perawat itu berhenti menangis. Kepalanya berputar 180 derajat dengan bunyi krak tulang yang memekakkan telinga. Wajahnya hancur. Tidak ada mata, hanya lubang hitam menganga. Mulutnya robek hingga ke telinga, tersenyum lebar menunjukkan gigi-gigi yang runcing dan hitam.
"Kamu... pasien... baru?" suaranya terdengar seperti gesekan logam berkarat.
Rian mundur terhuyung-huyung, menjatuhkan kameranya. "Tidak! Saya salah masuk!"
"Semua orang bilang begitu," desis perawat itu sambil melangkah mendekat. Kakinya tidak menyentuh lantai; ia melayang beberapa inci di atas tanah. "Dokter bilang kamu perlu operasi segera. Jantungmu... berdetak terlalu kencang."
BIP! BIP! BIP! BIIIIIIIP!
Suara monitor menjadi satu nada panjang yang nyaring. Lampu di ruangan itu berkedip-kedip liar. Dari balik tirai hijau di sekeliling ruangan, muncul bayangan-bayangan tinggi kurus dengan tangan panjang yang menyeret alat-alat bedah berkarat.
Rian berbalik lari, tapi pintu yang tadi ia masuki telah hilang. Dinding bata merah polos sekarang menutupi jalan keluarnya.
"Tolong!" teriak Rian sambil memukul-mukul dinding.
Di belakangnya, suara langkah kaki serempak mendekat. Bau antiseptik itu berubah menjadi bau daging busuk.
"Jangan lari, Nak. Antrian masih panjang," bisik sebuah suara tepat di telinganya, diikuti oleh hembusan napas dingin yang menusuk tulang.
Rian menoleh perlahan. Perawat berwajah hancur itu sudah berada tepat di depan wajahnya, memegang sebuah gergaji tulang yang masih bernoda darah segar.
"Malam ini giliranmu," kata perawat itu sebelum lampu senter Rian mati total.
Keesokan paginya, polisi menemukan kamera Rian tergeletak di depan gerbang RSU Kembang Sari. Memori kartunya berisi ratusan foto lorong kosong dan ruang berdebu. Namun, ada satu foto terakhir yang diambil pada pukul 02.00 pagi.
Foto itu buram, menampilkan wajah Rian yang penuh teror, mulutnya terbuka lebar seolah menjerit tanpa suara. Di latar belakang foto, di dalam kegelapan ruang operasi, terlihat sosok perawat tersenyum lebar, dan di sampingnya, terbaring sesosok tubuh di meja operasi yang sedang dibedah hidup-hidup.
Dan yang paling mengerikan, di sudut foto tersebut, tertanggal otomatis kamera: 10 April 2026.
Hari ini.





































ceritanya seram juga .misteri