Jalan Cuan Jalur Sodara | 1.b
“Tomo, gimana kabarmu?" Bu Dhe Mayang mengangguk sopan.
“Alhamdulillah, mbakyu. Ayu makan dulu.” Pak Dhe Tomo bermaksud menggiring kakaknya itu ke sudut makanan.
“Ndak usah. Lagi diet. Kalau ada air jeruk nipis hangat tanpa gula.”
“Siap, mbakyu.” Pak Dhe Tomo menghilang ke ruang belakang.
Untuk beberapa menit, suasana ruang tengah hening. Aura Bu Dhe Mayang memang tidak ada tandingan. Sebagai anak tertua kakek Sumitro, didukung suaminya yang pengusaha galangan kapal terbesar di Jawa maka tidak ada yang berani mendekat.
“Hufh, aku juga manusia biasa, lho. Perempuan juga.” Dengus Bu Dhe Mayang, duduk meluruskan badan setelah perjalanan jauh Surabaya-Jogja-Purwokerto-Purbakata.
“Bu Dhe Maya, foto bareng yuk. Sudah lama tidak ketemu ini.” Nyimas Prili mendekat.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan foto bareng istri pengusaha. Niat hati followernya makin bertambah. Semua yang dipakai Bu Dhe Mayang adalah barang bermerk terkenal.
“Boleh. Tapi dimana Nemar? Ini ada titipan dari Finka. Sini Nemar, sini Rafah.” Bu Dhe Mayang berhasil menemukan keponakan paling menyedihkan di keluarga besar Sumitro.
Nemar menggandeng putranya menghadap Bu Dhe Mayang. Membungkuk sopan sebelum duduk menjaga jarak. Ia cukup tahu diri kalau Bu Dhe tidak suka terlalu dekat dengan wanita biasa-biasa saja seperti dirinya.
“Terima kasih Eyang Maya. Rafah tabung buat masuk pesantren, ya.” bocah laki-laki 9 tahun itu memasukkan amplop cokelat tebal ke dalam saku celana ngajinya. Juga dua paperbag berisi aneka rupa makanan ringan yang tidak akan ditemukan di kota kecil Purbakata.
“Iya benar. Kamu harus jadi anak berbakti buat ibumu. Jangan lupa do’akan eyang tambah rezekinya biar bisa kasih kamu tambah banyak.” Senyum khas Bu Dhe Mayang membius seisi ruangan.
Senyum bisnis nan diplomatis itu adalah senyum terbaik yang bisa Bu Dhe Mayang tunjukkan kepada anggota keluarga besar mendiang ayahnya. Mayang tidak cukup senggang menempuh perjalanan jauh hanya untuk arisan keluarga.
Bagi Mayang, menunjukkan dirinya yang sukses melebihi siapapun kepada seluruh anggota keluarga adalah harga mati setelah diusir oleh sang ayah Sumitro 27 tahun lalu. Alasan klasik tidak mau dijodohkan dengan juragan sapi terbesar se-Jateng.
“Cerita lama kemarin jadi lucu tiap datang ke rumah ini. Rumah ayah tercinta.” Bu Dhe Mayang menatap Nemar sekilas. Bayangan dirinya saat muda terpantul jelas pada tubuh kurus tak terawatnya Nemar. Kasihan melihatnya namun itu adalah hidup keponakannya sendiri dan harus ia hadapi sendiri juga.
“Terus…Nyimas, kenapa bajumu dari bulan kemarin sama lagi? Apa kamu ndak dikasih uang bulanan buat beli baju?” celetuk Bu Dhe Mayang tajam pada biru telur asin-nya kebaya Nyimas Prili.
-bersambung















































