... Baca selengkapnyaJujur ya, aku dulu cuma bisa kesel tiap lihat kantong sampah plastik hitam numpuk di sudut rumah. Orang serumah seakan nggak lihat, padahal tempat sampah sedekat itu. Dari situ aku mulai mikir, mungkin kita juga nggak punya sistem yang jelas soal buang sampah.
Akhirnya aku pelan-pelan belajar bedain sampah organik dan anorganik. Sampah organik itu yang bisa terurai, seperti sisa makanan, sayur, buah, daun kering, ampas kopi, teh celup (tanpa staples), kulit telur, dan lain-lain. Sampah anorganik itu yang susah terurai, seperti plastik, bungkus jajan, botol minum, kaleng, kaca, dan styrofoam. Awalnya ribet, tapi lama-lama otomatis, kok.
Aku mulai dari hal kecil: sediakan dua wadah berbeda di area yang paling sering dipakai keluarga. Misalnya di dapur aku taruh satu wadah khusus sampah organik, satu lagi untuk anorganik. Aku sengaja pakai warna berbeda dan aku tulis besar-besar: "ORGANIK" dan "ANORGANIK" biar nggak bikin bingung. Kalau kamu suka gambar, kamu bisa bikin poster sampah organik dan anorganik yang gampang digambar, misalnya gambar sayur, buah, dan daun di bagian organik, lalu gambar botol plastik, kaleng, dan plastik kresek di bagian anorganik. Tempel di dekat tempat sampah, lumayan buat pengingat halus.
Dari situ aku kenalan sama yang namanya lubang biopori. Ini semacam lubang di tanah yang dipakai buat memasukkan sampah organik. Caranya, kamu bikin lubang silinder ke tanah (biasanya diameter sekitar 10ā30 cm, kedalaman 80ā100 cm), lalu sampah organik dari dapur dimasukin ke situ. Nanti akan terurai jadi kompos dan tanah di sekitar rumah juga jadi lebih subur. Aku minta bantuan keluarga buat bikin satu lubang biopori di halaman, dan ternyata itu juga jadi cara āhalusā ngajak mereka lebih peduli soal sampah.
Supaya semua orang di rumah nggak hanya mengandalkan IRT buat urusan sampah, aku bikin kesepakatan kecil. Misalnya: yang habis makan, wajib buang sampah sendiri ke tempat yang benar; yang paling muda kebagian tugas angkat kantong sampah plastik hitam ke depan rumah setiap pagi. Nggak langsung ideal, tapi dengan diomongin baik-baik, pelan-pelan mereka terbiasa.
Kalau kamu lagi struggle dengan sampah yang susah "move on" dari rumah, mungkin bisa coba langkah ini:
1. Sediakan tempat sampah organik dan anorganik yang jelas bedanya.
2. Bikin poster sampah organik dan anorganik yang mudah digambar dan ditempel dekat tempat sampah.
3. Mulai manfaatkan lubang biopori untuk sampah organik biar nggak numpuk dan nggak bau.
4. Ajak semua anggota keluarga bagi tugas, jangan dipikul sendirian.
Pelan-pelan aja, yang penting konsisten. Sekarang sampah di rumahku sudah lebih cepat "move on" dari tempatnya, dan aku nggak sekesal dulu setiap lihat kantong sampah menumpuk.
sampah masalah yang sepele tapi bisa jadi bertele tele gak si š