Baca Buku Novel Luka Yang Berbunga
dSegalanya sempurna—lantai marmer, dinding kaca, dan satu larangan yang mematikan.
#lemon8indonesia #promosinovel #novelah #bacabuku #lukayangberbunga
✨✨✨
Bab 5
Lestari mengikuti langkah Tora yang lebar memasuki vila. Interiornya lebih menakjubkan dari luarnya.
Lantai marmer dingin, perabotan minimalis yang mahal, dan sebuah tangga melingkar yang megah. Semuanya terasa begitu besar, begitu kosong, begitu sunyi.
Mereka berjalan menyusuri koridor panjang yang senyap. Setiap langkah Lestari terasa berat. Bisakah ia hidup di sini? Di dunia yang begitu berbeda dari dunianya?
Tora berhenti di depan sebuah pintu kayu jati yang tinggi.
“Ada satu peraturan mutlak di rumah ini,” katanya tanpa menoleh, suaranya tiba-tiba berubah menjadi lebih dingin, lebih tajam.
“Satu hal yang tidak boleh pernah kau langgar.”
Lestari menahan napas.
“Jangan pernah bertanya tentang ibunya Lintang. Jangan pernah menyebut namanya. Amelia. Jika kau melakukannya, saat itu juga kau dan anakmu kuusir dari sini. Mengerti?”
“Mengerti, Pak.” Suara Lestari nyaris tidak terdengar, sebuah bisikan yang ditelan oleh kemegahan lobi yang dingin.
Ia menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata pria itu, takut jika tatapannya dianggap sebagai pembangkangan.
Tora tidak merespons. Ia hanya berbalik dan melangkah lebih jauh ke dalam vila, sol sepatunya yang mahal berketuk di atas lantai marmer, menciptakan gema tajam yang seolah mengiris keheningan. “Ikut aku.”
Lestari memeluk Dian lebih erat dan mengikuti dari belakang, menjaga jarak beberapa langkah. Setiap sudut rumah ini menjeritkan kemewahan yang asing.
Dinding kaca setinggi langit-langit memamerkan pemandangan kebun kopi yang berkabut. Perabotan kayu gelap tampak kokoh dan sepi, seperti monumen bagi kehidupan yang pernah ada di sini.
Tidak ada tawa anak-anak yang menggema. Tidak ada aroma masakan yang hangat. Hanya bau kopi, kayu, dan udara yang terasa tipis.
“Paviliun ada di belakang, terpisah dari rumah utama,” kata Tora tanpa menoleh. “Kebutuhanmu dan anakmu akan dipenuhi di sana. Ada dapur kecil dan kamar mandi sendiri.”
“Baik, Pak.”
“Setiap pagi jam tujuh, kau harus sudah di rumah utama untuk menyiapkan Lintang. Sarapan jam setengah delapan. Sekolahnya jam delapan.”
“Siap, Pak.”
“Aku tidak suka pengulangan. Aku harap kau cepat belajar.”
“Saya akan berusaha, Pak.”
Mereka tiba di sebuah bangunan yang lebih kecil, terhubung dengan rumah utama melalui selasar beratap kaca. Sama mewahnya, hanya skalanya lebih manusiawi. Tora membuka pintu. Di dalamnya ada satu kamar tidur dengan dua ranjang, sebuah ruang duduk kecil, dan dapur mungil yang berkilauan. Semuanya bersih, steril, dan tidak berjiwa.
“Letakkan anakmu. Istirahatlah sebentar. Setengah jam lagi, temui aku di ruang keluarga. Aku akan mengenalkanmu pada Lintang.”
“Terima kasih, Pak.”
Tora pergi tanpa sepatah kata lagi, menutup pintu di belakangnya dengan pelan. Suara klik kunci itu terdengar final.
Lestari akhirnya bisa bernapas. Ia membaringkan Dian di salah satu ranjang. Selimutnya tebal dan lembut, sangat berbeda dengan selimut kartun tipis mereka.
“Kita di sini dulu ya, Nak,” bisiknya pada Dian yang masih tertidur pulas. “Tempatnya bagus. Kamu pasti cepat sembuh. Ibu janji, kita tidak akan kedinginan lagi.”
Ia mengelus kening Dian, panasnya sudah jauh berkurang. Ia menatap sekeliling ruangan. Jendela besar menghadap taman pribadi kecil.
Semuanya sempurna. Terlalu sempurna. Ia merasa seperti boneka pajangan yang ditempatkan di sebuah rumah boneka raksasa.
✨✨✨
📖 Baca kisah lengkapnya hanya di Novelah
Judul : Luka Yang Berbunga
By. Dakuromansu
















