Rekomendasi Baca Buku Novel Luka Yang Berbunga
"Tatapan liar itu berhenti pada anakku. 'Tempat hangat,' katanya. Tapi yang menjawab bukan aku—melainkan tangan kurus yang tadi hanya memetik gitar”
#lemon8indonesia #promosinovel #novelah #dramarumahtangga #lukayangberbunga
✨✨✨
Bab 2c
Matanya liar, menjelajahi tubuh Lestari dari atas ke bawah, sebelum akhirnya berhenti pada Dian yang terbaring lemah.
“Anaknya sakit, ya?” bisik pria itu, nadanya pura-pura prihatin. “Kasihan. Perlu bantuan, mungkin?”
“Bantuan apa, Mas?” Suara Lestari bergetar, lebih karena dingin daripada keberanian. Ia menarik tubuh Dian yang terkulai di punggungnya lebih dekat, sementara jemarinya yang lain masih memegang jarum.
Pria besar itu menyeringai, tidak terpengaruh oleh pengamen yang kini menatapnya dengan waspada. “Bantuan apa saja, Mbak. Siapa tahu perlu tempat yang hangat ? Atau… teman ngobrol?”
“Dia tidak butuh bantuanmu,” sela si pengamen, suaranya serak. Ia meletakkan gitarnya dan berdiri. Tubuhnya kurus, tapi matanya menyala. “Pergi.”
“Heh, bocah! Tidak usah ikut campur!” bentak pria itu, perhatiannya teralihkan.
“Ini lapakku. Dia tamuku,” balas pengamen itu, dagunya terangkat menantang. “Kalau tidak mau aku teriak copet, mending kamu cari mangsa lain.”
Pria besar itu mendengus, menimbang-nimbang. Melawan bocah kurus ini mudah, tapi keributan akan menarik perhatian. Ia melirik Lestari sekali lagi, tatapannya menjijikkan, lalu meludah ke aspal.
“Dasar gelandangan sok jagoan.”
Ia berbalik dan melenggang pergi, menghilang di antara kerumunan.
Lestari melepas napas yang tidak sadar ia tahan. Jantungnya masih berdebar kencang.
“Mbak tidak apa-apa?” tanya pengamen itu, nadanya kembali normal.
Lestari menggeleng, terlalu terguncang untuk bicara. Ia buru-buru menyelesaikan jahitan terakhir, menyimpul benang dengan jari gemetar.
“Sudah, Mas. Ini.”
Pengamen itu memeriksa hasil jahitannya. Matanya melebar sedikit. “Wah… rapi banget. Kayak baru.” Ia mengambil bungkusan nasinya tanpa ragu.
“Ini, Mbak. Ambil. Harusnya aku kasih dua, tapi punyaku cuma ini.”
“Terima kasih banyak, Mas. Terima kasih…” bisik Lestari.
“Hati-hati di jalan, Mbak. Orang kayak tadi banyak di sini,” katanya sebelum kembali memetik gitarnya.
📖 Baca kisah lengkapnya hanya di Novelah
Judul : Luka Yang Berbunga
By. Dakuromansu

































