Rekomendasi Baca Buku Novel Luka Yang Berbunga
Tora datang membawa dua cangkir kopi. Tapi yang ia tuangkan jauh lebih berat dari itu.
#lemon8indonesia #promosinovel #novelah #bacabuku #lukayangberbunga
✨✨✨
Bab 7b
Tora tidak menunggu penjelasan Lestari selesai. Ia melesat ke sisi Lintang, berlutut, dan memegang bahu putrinya dengan lembut namun kokoh.
“Lintang. Ayah di sini. Lihat Ayah.”
Lintang tidak bergeming.Getarannya semakin hebat
“Lintang, dengar suara Ayah. Aman tidak ada apa-apa di luar,” kata Tora, suaranya dalam dan berusaha tenang, tetapi Lestari bisa menangkap getar kepanikan di baliknya.
Tora melingkarkan lengannya di tubuh Lintang, mengangkatnya seolah anak itu tidak punya bobot sama sekali.
Lintang menyembunyikan wajahnya di leher Tora, isak tangisnya yang tanpa suara mengguncang tubuhnya. Tora menatap Lestari dari balik bahu Lintang, tatapannya dingin dan tak terbaca.
“Kembali ke paviliun,” perintahnya singkat.
Lalu ia pergi, membawa Lintang yang gemetar menjauh, meninggalkan Lestari sendirian di tengah ruang keluarga yang kembali sunyi.
Kehangatan yang baru saja mulai tumbuh terasa lenyap, dibekukan oleh satu suara patahan di kegelapan.
Senja turun lebih cepat. Langit yang tadinya biru jernih kini tergores warna jingga dan nila, menebarkan cahaya melankolis di atas hamparan pohon kopi.
Lestari duduk di teras paviliunnya. Dian sudah tertidur. Demamnya sudah benar-benar hilang, menyisakan pipi yang kembali merona sehat.
Lestari membelai rambut putrinya, hatinya campur aduk. Ia bersyukur Dian sehat. Ia bersyukur punya atap di atas kepala. Tapi insiden tadi siang meninggalkan luka baru.
Ia merasa seperti penyusup. Setiap kali ia pikir berhasil mengambil satu langkah maju di rumah ini, sesuatu menariknya kembali sepuluh langkah.
Ia tidak menyadari Tora sudah berdiri di ujung lorong, memperhatikannya. Pria itu tidak lagi mengenakan kemeja kerjanya yang kaku, hanya kaus polo berwarna gelap yang membuat bahunya tampak lebih lebar.
Di tangannya ada dua cangkir kopi mengepul. Lestari baru sadar saat Tora sudah berada beberapa langkah darinya.
“Dia sudah tidur?” tanya Tora pelan, menunjuk Dian.
Lestari mengangguk. “Baru saja, Pak.”
“Ini.” Tora menyodorkan satu cangkir. “Kopi. Seharusnya tidak minum malam-malam, tapi kurasa kita berdua butuh.”
“Terima kasih, Pak.” Lestari menerimanya dengan hati-hati, berusaha tidak membangunkan Dian. Aroma kopi yang pekat dan sedikit manis menguar, menghangatkan tangannya yang dingin.
Tora tidak langsung pergi. Ia bersandar di pilar kayu teras, menatap ke arah kebun yang mulai ditelan bayangan.Keheningan terasa canggung, sarat dengan pertanyaan yang tak terucap.
“Soal tadi siang…”Tora akhirnya bicara, suaranya rendah. “Maaf jika aku terdengar kasar.”
Lestari terkejut. “Tidak, Pak. Saya mengerti. Bapak khawatir.”
“Dia… begitu sejak…”Tora berhenti, mencari kata yang tepat. “Sejak kecelakaan itu. Suara keras yang tiba-tiba. Seperti suara benturan… atau sesuatu yang pecah. Itu memicunya.”
Lestari hanya diam, membiarkan Tora bicara. Ini pertama kalinya pria itu menawarkan penjelasan, bukan perintah.
“Aku sudah coba semua. Terapis anak terbaik di kota. Psikolog. Semuanya bilang sama: beri waktu, ciptakan lingkungan yang aman.” Tora tertawa getir.
“Lingkungan aman. Rumah sebesar ini, dengan satpam. Tapi aku bahkan tidak bisa melindunginya dari suara dahan patah.”
“Bapak sudah melakukan yang terbaik,” sahut Lestari pelan. “Tidak ada yang bisa menduga hal seperti itu.”
Tora menatapnya. Tatapan yang berbeda dari biasanya. Bukan lagi tatapan majikan pada bawahan, melainkan tatapan seseorang yang lelah. Sangat lelah.
“Kadang aku berpikir, mungkin ini salahku,” bisiknya, pada dirinya sendiri. “Mungkin aku yang membawanya ke dalam semua ini.”
“Bagaimana bisa itu salah Bapak?”
Tora menyesap kopinya, matanya menerawang jauh, seolah sedang memutar film lama di kepalanya.
“Malam itu, malam Amelia meninggal. Hujan deras sekali. Lebih deras dari malam kau datang ke warung Bu Sumi.”
📖 Baca kisah lengkapnya hanya di Platform Novelah
Judul : Luka Yang Berbunga
By. Dakuromansu










