Ternyata ada kaitan erat antara kondisi pikiran, stres, kecemasan (yang dapat mencakup sulit memaafkan atau memendam emosi), sama masalah asam lambung dan maag (atau dispepsia/GERD). Hubungan ini sering dijelaskan melalui konsep psikosomatik. Sering denger kan yang ini?
Penjelasanya: saat kita stres atau cemas, tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin.
Nah peningkatan hormon-hormon ini dapat merangsang produksi asam lambung (HCl) di dalam perut. Asam lambung berlebih inilah yang menjadi pemicu utama gejala maag atau naiknya asam lambung (GERD).
Walaupun sulit memaafkan secara langsung gak menyebabkan naiknya asam lambung, tapi kondisi ini merupakan representasi dari emosi negatif yang terpendam dan berkepanjangan (stres psikologis).
Jadiiii, kalau ada yang mengganjal di hati kalian sebab perlakuan orang, selesaikan sebelum bobok malam yaa.. ikhlashkan dan lupakan besok paginya, jangan bebankan ke tubuh sehatmu 🤗
... Baca selengkapnyaPas pertama kali ada yang bilang ibuku ‘ketempelan’, aku jujur bingung. Di kampung, kata ketempelan artinya semacam keteguran atau diganggu makhluk gaib, bukan cuma sakit fisik biasa. Apalagi ditambah minta kopi hitam tanpa gula dan rokok, rasanya makin horor karena seolah-olah itu sesajen buat ‘penunggu’. Tapi di sisi lain, dokter jelasin hal yang jauh lebih masuk akal: lambung ibuku memang bermasalah dan banyak dipicu pikiran yang gak pernah benar-benar tuntas.
Dari situ aku mulai mikir, mungkin selama ini kita terlalu fokus ke hal-hal mistis, sampai lupa cek penyebab yang bisa dijelasin secara medis dan psikologis. Misalnya, kebiasaan ngopi sama rokok itu sendiri punya efek nyata ke tubuh. Kafein dari kopi bisa merangsang produksi asam lambung, bikin perut perih, mual, atau dada terasa panas. Sementara rokok bisa mengganggu katup di kerongkongan (LES) sehingga asam lebih mudah naik. Jadi kalau orang sudah punya riwayat maag atau GERD, lalu sering ngopi pahit dan merokok, efeknya bisa berlipat ganda.
Belum lagi kalau ditambah stres dan emosi yang dipendam. Kayak ibuku, ternyata bertahun-tahun menyimpan sakit hati dan masalah keluarga yang gak pernah benar-benar diceritakan. Di luar, kelihatan baik-baik saja, tapi di dalam hati penuh beban. Dokter bilang, kondisi seperti ini bisa bikin tubuh selalu dalam mode siaga, hormon stres naik, dan ujung-ujungnya lambung yang kena imbas. Jadi bukan karena ketempelan artinya ada sosok gaib nempel, tapi lebih ke tubuh yang menanggung beban pikiran terus-menerus.
Aku pribadi gak mau menghakimi orang yang percaya hal mistis, karena di keluarga sendiri pun kepercayaan begitu masih kuat. Tapi pengalaman ini ngajarin aku untuk selalu imbang: kalau sakit, tetap periksa ke dokter dulu, cek lambung, jantung, dan lain-lain. Kalau mau ikhtiar tambahan seperti kerokan, ruqyah, atau didoakan ustaz, boleh-boleh saja selama tidak mengabaikan pengobatan medis.
Yang paling kerasa manfaatnya, justru saat aku dan ibu mulai belajar ngobrol dari hati ke hati. Pelan-pelan beliau cerita apa saja luka lama yang disimpan. Ternyata setelah bisa nangis, memaafkan, dan lebih ikhlas, keluhan di perutnya juga makin jarang kambuh. Jadi menurutku, penting banget buat jaga pola makan, kurangi kopi dan rokok, sekaligus bereskan urusan hati. Kadang yang kita anggap ‘aneh’ dan mistis, kalau ditelusuri pelan-pelan, ujungnya kembali ke kesehatan fisik dan mental yang saling berkaitan.
Ternyata penyakit fisik bisa berasal dari kondisi mental yaa kak🥹