menuju akhir bulan biasanya orang kaya gini pada muncul dari permukaan.
Kita juga punya hak dengan harta kita, kalo jelas untuk apa , orang nya ga MENYEPELEKAN HUTANG dan aku nya lagi ada uang , PASTI KU KASIH pinjam.
hari ini full INHALE dan EXHALE,,, udah ada 4 pasien yang mengadu kesedihan mereka, dan 3 dari 1 bilang nya
"KAMU KAN BELOM PUNYA ANAK, BELOM BANYAK TANGGUNGAN" 🤯
FIX GA AKAN AKU KASIH PINJEM!!
2025/8/22 Diedit ke
... Baca selengkapnyaAku dulu termasuk tipe yang gampang banget luluh kalau ada orang pinjam uang. Apalagi kalau bawa-bawa kalimat, “Kamu kan belum punya anak, belum banyak tanggungan,” rasanya kalau nolak jadi merasa jahat sendiri. Tapi makin ke sini aku sadar, pola pikir kayak gini tuh bener-bener memanfaatkan orang lain. Bukan soal kita pelit, tapi soal mereka yang nggak mau mikir panjang dan cuma mengandalkan dompet orang lain.
Sekarang aku punya beberapa batasan jelas soal orang pinjam uang. Pertama, aku lihat dulu sikap mereka terhadap hutang. Kalau dari awal sudah kelihatan menyepelekan, misalnya sering ngulur-ngulur bayar, suka ngilang kalau ditagih, atau malah bisa jalan-jalan dan jajan padahal belum lunas, buatku itu red flag. Orang yang punya pola pikir sehat soal uang pasti merasa nggak enak kalau punya hutang, dan akan berusaha selesaikan secepat mungkin.
Kedua, aku belajar untuk nanya ke diri sendiri: "Kalau uang ini nggak balik, aku ikhlas nggak?" Kalau jawabannya nggak, berarti lebih baik jujur nolak dari awal. Ini mirip prinsip di gambar yang aku tulis: lebih baik menolak dengan jujur, daripada mengiyakan tapi hati tertekan dan tiap hari kepikiran. Hidup sudah cukup berat, jangan ditambah beban dari orang yang cuma manfaatin kebaikan kita.
Aku juga mulai peka sama ciri-ciri orang yang memang hobi manfaatin orang. Biasanya mereka muncul di akhir bulan, atau pas lagi kelihatan kita ada rezeki. Kata-kata mereka manis di awal, tapi kalau ditolak langsung bawa-bawa perasaan, menyudutkan, atau bikin kita merasa bersalah. Kadang mereka pakai pola pikir "otak kanan" versi salah kaprah, seolah berani minjam dan nekat itu keren, padahal aslinya nggak tanggung jawab.
Dari sisi Islam, aku pernah baca juga kenapa banyak orang pinjam uang ke kita. Salah satunya bisa jadi karena Allah sedang menguji apakah kita amanah dan bijak. Bukan cuma diuji soal kedermawanan, tapi juga diuji apakah kita mampu berkata tidak pada sesuatu yang nggak sehat. Dalam doa yang sering aku baca, ada permohonan perlindungan dari kezaliman manusia dan juga dari berbuat zalim ke orang lain. Memberi pinjaman ke orang yang jelas-jelas nggak menghargai hutang itu kadang malah membuat mereka semakin terbiasa berperilaku nggak bertanggung jawab, dan itu juga bentuk kezaliman.
Buat yang penasaran, bahasa Arabnya "meminjam" biasa disebut "istiqlāḍ" atau bentuk kalimatnya pakai kata kerja "aqraḍa" (memberi pinjaman) dan "istaqraḍa" (meminjam). Tapi intinya, dalam Islam, hutang piutang itu amanah besar. Nggak boleh disepelekan, dan yang meminjam wajib punya niat kuat untuk mengembalikan.
Sekarang kalau ada yang pinjam uang, aku pegang beberapa prinsip: lihat dulu karakter orangnya, tujuan pinjamnya jelas atau nggak, ada komitmen waktu pengembalian, dan yang paling penting, aku dalam posisi mampu tanpa mengorbankan kebutuhan utama. Kalau nggak, aku lebih pilih bantu dengan cara lain, misal doa atau bantu carikan solusi lain, daripada memaksakan pinjaman.
Jadi kalau kamu juga sering ketemu manusia dengan pola pikir "IQ rendah" versi memanfaatkan orang gini, nggak apa-apa loh jaga jarak. Nolak itu bukan dosa, selama kita melakukannya dengan cara yang baik dan tetap mendoakan yang terbaik buat mereka. Kadang, batasan tegas adalah cara kita melindungi diri dan dompet dari orang yang cuma datang kalau lagi butuh dan menghilang kalau sudah dapat.
dikira belom punya anak gak ada kebutuhan apa yaa