Aku mau sharing soal #KerjaDariRumah , aku dan mama membuka usaha makanan melalui online, setahun lebih kami berjualan, Puji Tuhan sekarang sudah mulai banyak pelanggannya..
Mendapatkan review 🌟5 pasti keinginan semua orang yang jualan, tetapi tidak muluk2x ada juga konsumen yang kasih 🌟1, dengan berbagai alasan...
Terus, kalau dapat review🌟1 bagaimana kita tanggapinnya???
Awalnya aku kesal sih , tetapi namanya kita usaha sebaik mungkin membalas ulasannya tidak dengan emosi.. #SetujuGak
🙏 Selalu ucapkan "Salam", agar yang baca jadi adem gitu..
🙏 Terus katakan "maaf" walau kita belum tau siapa yang salah.
🙏 Beri penjelasan ke konsumen, agar dia mengerti dan konsumen lain yg baca juga mengerti..
Jangan, pernah menyerah ketika kita mendapatkan komentar tidak baik untuk usaha kita ya, tetap semangat dan evaluasi terus.
... Baca selengkapnyaSelain belajar menanggapi review bintang 1, aku juga jadi makin serius ngerapin proses produksi makanan rumahan di dapur. Soalnya, kadang komplain konsumen justru ngingetin kita buat evaluasi cara masak dan cara kerja.
Di rumah, aku dan mama mulai dari nyusun menu dulu. Biasanya seminggu sekali kita planning: hari apa masak ayam, hari apa daging, kapan ada menu telur dadar, dan lain-lain. Ini penting biar belanja bahan lebih terarah dan stok nggak numpuk sampai busuk. Dari situ aku sadar, proses produksi makanan rumahan itu sebenarnya mirip usaha restoran kecil, cuma bedanya dapurnya di rumah.
Pagi-pagi biasanya aku cek bahan: sayur, daging, bumbu. Semua yang mau dipakai, aku cuci bersih, pisahin antara bahan mentah dan matang, dan pakai talenan berbeda buat daging dan sayur biar nggak kontaminasi. Dulu aku suka menyepelekan hal begini, tapi setelah pernah dapat review jelek soal makanan yang dibilang "nggak fresh", aku jadi lebih hati-hati.
Untuk masak, aku biasain mulai lebih awal supaya nggak kejar-kejaran sama jam pengiriman. Misalnya, kalau mau kirim jam 11, masak udah mulai dari jam 7–8 pagi. Nasi duluan, baru lauk ayam/daging, terakhir telur dadar biar masih hangat. Makanan yang udah matang aku taruh di wadah tertutup, nggak dibiarkan terbuka lama.
Bagian plating ke kotak makan juga penting. Di foto, orang lihat nasi, lauk ayam/daging, dan telur dadar tertata rapi di empat kotak makanan, nah di realita aku usahain tampilannya mirip. Soalnya banyak komplain itu datang karena pelanggan ngerasa realitanya beda sama foto. Makanya sekarang aku nggak lebay pas foto menu, yang difoto ya beneran porsi jualan.
Setelah itu, proses packing dan pengiriman. Kotak makanan selalu aku pastikan tertutup rapat, kadang aku tambahin karet atau selotip bening biar nggak gampang kebuka di jalan. Di luar kotak, aku tempel stiker nama menu atau tanggal produksi, sederhana tapi bikin kelihatan lebih profesional.
Dari sisi kebersihan, karena ini usaha makanan rumahan, aku usahain dapur selalu disapu dan dilap setiap selesai produksi. Lap yang dipakai juga dipisah antara buat meja dan buat lantai. Jujur, nggak selalu rapi 100%, tapi aku sadar konsumen sekarang makin peduli proses produksi makanan rumahan, bukan cuma rasanya.
Komplain soal "kontaminasi" di review bintang 1 itu juga bikin aku mulai lebih aware: simpan bahan mentah di rak bawah kulkas, bahan siap makan di rak atas, dan bumbu kering di tempat tertutup. Ini hal kecil, tapi penting buat jaga keamanan makanan.
Jadi, waktu ada yang kasih review jelek, selain aku balas dengan salam, kata maaf, dan penjelasan, aku juga jadikan itu reminder buat cek lagi proses produksi di rumah. Buat kamu yang juga punya usaha makanan rumahan, coba deh tulis alur kerja dari belanja, masak, sampai kirim. Dari situ kelihatan bagian mana yang bisa diperbaiki, supaya ke depan review bintang 5 bisa lebih sering muncul daripada bintang 1.
mungkin itu salah satu komentar dari pesaing nya