Seandainya jalan itu tidak ada...
Masa kecilku dimulai dari nol. Kami berasal dari keluarga yang sangat sederhana, tinggal di rumah seadanya. Ayah dan Ibu, dua insan dengan mimpi besar, memutuskan merantau ke Palembang untuk mengubah nasib. Ayah bekerja keras memanen sawit di sebuah PT, sementara Ibu menjadi guru honorer yang tulus mengajar.
Saat itu aku masih berusia empat tahun. Karena belum ada taman kanak-kanak, aku selalu ikut Ibu mengajar. Aku sempat jadi "anak² bawang" karena usia ku yang belum cukup untuk duduk dibangku SD & pada saat itu belum ada TK di sekitar PT tersebut, aku diperbolehkan duduk di kelas, belajar dari sela-sela bangku, menyerap ilmu yang Ibu ajarkan kepada murid-muridnya.
Seiring waktu, roda kehidupan mulai berpihak pada kami. Ayah dan Ibu memanjakanku dengan segala cara. Suatu kali, di hari ulang tahunku, mereka mengajakku menginap di hotel—sebuah kemewahan yang tak pernah terpikirkan oleh kami. Aku adalah anak pertama yang selalu diprioritaskan, semua keinginanku selalu mereka penuhi.
Saat aku kelas 4 SD, Ibu mengandung adikku. Ia memutuskan berhenti mengajar agar bisa fokus dengan kehamilannya. Aku dan Ibu kembali ke kampung halaman di Lampung, meninggalkan Ayah yang masih harus berjuang di Palembang.
Dengan uang yang Ayah dan Ibu tabung selama bertahun-tahun, kami berhasil membangun sebuah rumah, beberapa bulan kemudian adikku lahir. Ayah tetap di Palembang, hanya bisa pulang saat cuti tahun baru atau hari raya.
Meski jarak memisahkan, Ayah tak pernah absen. Setiap hari, tiga kali sehari, suara Ayah selalu hadir menyapa kami lewat telepon, memastikan kami baik-baik saja.
Jarak usiaku dengan adikku sekitar sepuluh tahun. Beberapa tahun kemudian, saat aku hendak lulus SMA, Ibu membuka sebuah warung sembako dirumah. Ayah merasa kasihan karena Ibu harus mengurus warung dan adikku sendirian, apalagi aku akan segera merantau untuk kuliah.
Akhirnya, Ayah memutuskan untuk pulang dan menetap di Lampung, berkumpul kembali bersama kami semua. Dan sekarang, di sini aku, duduk di bangku kuliah, bertemu teman-teman dari berbagai daerah dan latar belakang yang berbeda. Jujur, hal ini tidak pernah terlintas di pikiranku. Rasanya seperti sebuah mimpi yang jadi nyata, sebuah babak baru dalam hidup yang terasa sangat berarti.
Seandainya waktu adalah sebuah perjalanan, maka masa lalu adalah pemandangan paling berharga yang membuatku tahu, betapa bersyukurnya aku hari ini.
Semoga cerita ini menjadi pengingat, bahwa setiap perjuangan akan berbuah keindahan pada waktunya.
🤍🤍
#Seandainya #CurcolanHati #ViralTerbaru #fypシ Lemon8_ID /Lampung







































































































































semangt kaka memang ya perjuangan nggak akan menghianati hasil🤩