THR Suamiku Bukan Untukku (Karena Aku Hanya Menantu) 2
Membalas
"Mbak, nanti sekalian setrikain baju kerjaku, ya? Aku mau pergi bukber bareng temen kantor, nggak sempet nyetrika," perintahnya tanpa beban.
"Mbak lagi pusing, Ren. Setrika sendiri kan, bisa?" jawabku pelan.
Rena langsung berkacak pinggang. "Halah, gaya banget pusing! Paling cuma pusing karena nggak dapet amplop, kan? Makanya Mbak, jadi orang itu yang ikhlas. Pantes aja Mas Rafi lebih sayang sama kita, orang Mbaknya aja begini."
"Mbak! Itu Ibu manggil. Katanya kepalanya pusing lagi. Cepetan ke sana, pijitin! Tadi Mbak masaknya keasinan kali, makanya da rah tinggi Ibu kumat," seru Roni yang tiba-tiba muncul.
Aku mengelap tanganku ke daster yang lembap ini, lalu bergegas ke ka mar Ibu Mertua. Di sana, Mas Rafi sudah duduk di pinggir ran jang dengan wajah cemas.
"Lama banget sih, Ji? Istri itu harus sigap kalau mertua sakit," tegur Mas Rafi begitu aku masuk.
"Tadi lagi nyuci piring, Mas," jawabku singkat sambil mulai memijat kaki Ibu yang terasa dingin.
"Alasan terus," gumam Ibu Mertua ta jam. "Rafi, besok be likan Ibu o bat yang di apotek depan itu ya. Yang har ganya lima ratus ri bu itu lho. Ibu ngerasa cocok pakai itu."
"Iya, Bu. Besok Rafi be likan," jawab Mas Rafi lembut. Sangat lembut. Berbeda seratus delapan puluh derajat dari cara dia bicara padaku tadi.
U ang buat be li obat lima ra tus ri bu ada. Be li sepatu Rara bisa. Cicilan motor Rena ada. Tapi buat be li mukena seratus ri bu untuk istri sendiri, dia bilang u angnya pas-pasan.
Selesai memijat hampir satu jam, aku kembali ke dapur. Kutatap panci berisi opor ayam di atas kompor. Hanya tersisa tulang-tulang leher dan kuah yang sudah mendingin. Da gingnya sudah ludes dilahap ketiga adik iparku. Perutku sendiri bahkan belum diisi nasi sejak maghrib tadi, hanya sempat minum air putih.
Aku duduk di kursi plastik pojok dapur, menatap nasi putih dingin di piringku. Inilah hidupku selama tiga tahun menikah. Aku adalah perawat bagi ibu mertuaku, pembantu bagi adik-adik iparku, tapi orang asing bagi suamiku sendiri.
Mas Rafi masuk untuk mengambil air minum. Ia melihatku duduk melamun, tapi tak ada niat untuk mendekat atau sekadar mengusap kepalaku. Ia justru berhenti di ambang pintu dengan wajah tidak suka.
"Besok bangun lebih pagi, Ji. Ibu pengen makan ketupat sayur buat sahur. Jangan malas-malasan terus," ucapnya dingin.
Aku mendongak, menatap lekat lelaki yang dulu berjanji akan memuliakanku di depan bapakku.
"Mas, kalau suatu saat aku menyerah, apa Mas bakal ngerasa kehilangan atau malah ngerasa beban pikiran Mas berkurang satu?"
Mas Rafi mendengus, menganggap pertanyaanku hanya angin lalu. "Nggak usah banyak drama deh, Ji. Masih untung kamu punya suami yang tanggung jawab kayak aku. Ingat, di luar sana banyak janda yang pengen berada di posisi kamu. Tinggal di rumah, enak tanpa perlu mikir bia ya apa-apa."
Ia berbalik badan hendak pergi. Namun, langkahnya terhenti saat aku berucap lirih namun menusuk tepat di punggungnya.
"Mas benar, aku nggak perlu mikir bi aya apa-apa, karena memang nggak ada satu ru piah pun u angmu yang sampai ke tanganku untuk kupikirkan. Tapi Mas lupa satu hal..."
Mas Rafi menoleh sedikit, "Apa?"
Aku menatap panci kosong itu dengan tatapan yang juga kosong.
"Sabar itu ada batasnya, Mas. Dan malam ini, sepertinya aku sudah sampai di garis paling ujung."
Mas Rafi mengerutkan kening, baru akan membalas kalimat itu saat tiba-tiba lampu dapur mendadak mati. Dalam kegelapan, ia tak bisa melihat raut wajahku yang sebenarnya sudah tak lagi meneteskan air mata. Sebaliknya, aku sedang tersenyum getir merencanakan sesuatu.
"Maksudmu apa, Jihan?"
"Tunggu saja besok pagi, Mas. Saat matahari terbit, Mas bakal tahu siapa yang sebenarnya beban di rumah ini."
Bersambung…
Selengkapnya di KBM app
Judul : THR Suamiku Bukan Untukku (Karena Aku Hanya Menantu)



















































