THR Suamiku Bukan Untukku (Karena Aku Hanya Menantu) 6
Membalas
Penulis: Dhea Sukma
Baca lengkap di: KBM App
---
Alarm ponsel bututku berdering pukul tiga pagi. Biasanya aku akan langsung ke dapur, menyiapkan rendang, opor, atau menu kesukaan keluarga Mas Rafi. Tapi kali ini tidak. Aku melirik Mas Rafi yang masih terlelap, lalu menarik selimut menutupi telinga.
Aku tidak akan bangun. Biarlah dapur itu sedingin hati suamiku.
“Ji! Jihan! Bangun! Ini sudah jam berapa? Kok belum ada bau masakan?” seru Mas Rafi sambil mengguncang tubuhku.
Aku pura-pura tidur.
“Jihan! Ini sudah setengah empat! Kita bisa telat sahur!” katanya panik di ambang pintu.
Aku menguap, duduk perlahan. “Sahur pakai apa, Mas? Kan sudah kubilang, aku mau fokus ibadah. Uang belanja juga sudah habis buat beli nasi sama garam semalam.”
“Jangan konyol! Ibu harus minum obat, dia nggak bisa sahur pakai garam! Cepat masak apa saja yang ada!” bentaknya.
“Kalau Mas mau cepat, bangunin saja Rena atau Rara. Masa gaji tujuh juta nggak bisa buat beli telur seprapat?” jawabku santai sambil rebahan lagi.
Wajahnya merah padam. Ia menarik lenganku paksa ke dapur. Di sana, Ibu Mertua sudah duduk lemas.
“Lapar, Fi… perut Ibu perih,” rintihnya.
“Tuh lihat! Kamu mau jadi pembunuh mertua sendiri?” bentak Mas Rafi.
Aku menatap kulkas kosong. Hanya ada sisa sayur labu berlendir dan sedikit ikan asin.
“Oke, aku masak. Tapi jangan komplain soal rasa,” kataku datar.
Saat aku mengiris bawang, Rena masuk dengan handuk di kepala, sibuk bercermin.
“Mbak, nanti habis sahur setrikain baju kerjaku, ya? Aku mau bukber bareng manajer,” katanya tanpa menoleh.
“Bukannya gajimu cukup buat laundry kilat? Mbak masih sakit. Kamu nggak bisa setrika sendiri?” jawabku tenang.
“Mas Rafi, lihat tuh istrinya! Sok nasehatin aku!” rengek Rena.
“Sudah, Ji! Masak saja! Jangan banyak mulut!” potong Mas Rafi.
Aku tersenyum tipis.
*Baiklah. Kalian minta masak, kan?*
Ikan asin kugoreng. Sambal kuulek dengan hampir setengah bungkus garam. Cabai rawit kumasukkan banyak ke sayur labu sisa.
“Ji, baunya nyengat banget!” Mas Rafi terbatuk.
“Biar melek habis sahur,” jawabku enteng.
Sepuluh menit sebelum imsak, makanan tersaji. Rara ikut duduk.
“Lho, cuma ikan asin sama sayur sisa? Mbak Jihan pelit banget!” protesnya.
“Di luar sana banyak orang nggak bisa sahur. Harusnya bersyukur,” kataku. Bibir Rara langsung maju dua senti.
“Makan saja yang ada!” seru Mas Rafi.
Mereka menyuap.
“Uhuk! Asin banget!” Ibu Mertua menyemburkan ikan asin.
“Aduh! Pedas banget!” Rara menjerit, menenggak air sampai habis.
Mas Rafi membanting sendok. “Kamu sengaja, Ji? Ini nggak bisa dimakan!”
“Kan sudah kubilang, Mas. Masak buru-buru. Tanganku juga masih gemetaran,” jawabku polos.
“Halah! Ini sengaja!” teriak Rena.
Ibu Mertua menangis. “Tega kamu, Ji. Ibu lagi sakit malah dikasih racun begini.”
“Rumah ini mau dikuasai apa, Bu? Cicilannya saja sering nunggak,” balasku tenang. Ibu Mertua terdiam.
Tiba-tiba Roni masuk membawa ayam goreng cepat saji.
“Untung beli paket hemat buat aku sendiri,” katanya santai.
“Roni! Itu buat Ibu sedikit!” panggil Ibu Mertua.
“Nggak bisa, Bu. Biasanya Ibu bilang masakan Mbak Jihan enak karena gratis,” sahutnya tanpa dosa, lalu masuk kamar.
Mas Rafi mengelus dada, menatap meja makan yang kacau, Ibunya yang merana, dan adik-adiknya yang egois. Untuk pertama kalinya, kulihat frustrasi besar di wajahnya.
“Puas kamu, Ji? Lihat rumah ini berantakan karena ego kamu?” katanya lirih.
Aku berdiri, membawa gelas ke wastafel. Sebelum masuk kamar, aku berbisik di telinganya:
“Bukan egoku yang merusak rumah ini, Mas. Tapi kebohongan adikmu dan kebisuanmu. Selamat sahur. Semoga rasa asinnya bikin Mas lebih peka pada rasa sakitku.”
Pintu kamar kututup tepat saat sirine imsak berbunyi. Di luar, mereka masih ribut memperebutkan air putih. Aku tersenyum dalam gelap.
Ini baru awal dari pelayanan spesialku.
Bersambung…
Selengkapnya di KBM App





























































