THR SUAMIKU BUKAN UNTUKKU (KARENA AKU HANYA MENANTU) 14
Cuplikan bab 3b
Aku memaksakan diri. Mengulek cabai dengan kepala yang rasanya seperti dipu kul pa lu go dam. Saat azan asar berkumandang, duniaku mendadak gelap. Aku ambruk di lantai dapur. Beruntung, kepalaku tidak menghantam ujung meja. Dengan sisa tenaga yang ada, aku menyeret tu buhku ke ka mar, meninggalkan tumpukan piring dan sisa tepung yang berceceran.
Baru saja aku memejamkan mata, pintu ka mar dige brak kasar.
"Jihan! Kamu malah enak-enakan tidur! Itu depan berantakan banget, piring kotor belum pada dicuci, lantai belum dipel! Tamu-tamu mau datang bentar lagi!"
Ibu mertua berdiri di ambang pintu dengan wajah garang. Aku hanya bisa meringkuk di balik selimut tipis yang sudah mulai bau apek, menggigil hebat.
"Bu... Jihan sakit... pusing banget," rintihku.
Ibu mendengus, lalu masuk dan menarik selimutku paksa. "Halah, paling juga sakit bohongan! Wong tadi pagi masih sehat walafiat. Jangan malas-malasan begitu, nanti rezeki suamimu seret, kalau istrinya cuma bisanya tidur aja. Kamu itu paling cuma kecapekan dikit, mbok ya dilawan sakitnya. Jangan jadi perempuan manja!"
"Beneran, Bu... badan Jihan panas banget," kataku membela diri.
"Halah! Paling cuma panas dingin karena nggak dapet u ang T HR kemarin, kan? Sudah, bangun! Beresin dapur sana! Malu, kalau sampai tamu lihat rumah ini berantakan!"
Aku diam, air mataku luruh. Ternyata bagi ibu, rasa sakitku tak lebih berharga dari rasa malunya di depan teman-temannya.
Sayup-sayup kudengar suara motor Mas Rafi di depan. Tak lama, ia masuk ke rumah.
"Ibu, kok pengajiannya sudah sepi? Jihan mana? Aku lapar, mau buka pakai apa? Kok di meja cuma ada sisa gorengan dikit?" suara Mas Rafi terdengar menuntut.
"Istrimu itu lho, Fi. Manja banget. Masa cuma bikin takjil dikit aja langsung pingsan-pingsanan di kamar. Lihat tuh dapur, udah kayak kapal pecah. Ibu jadi malu tadi pas ibu-ibu pengajian lihat rumah berantakan begitu. Malu-maluin keluarga aja!" adu Ibu dengan nada yang dibuat-buat sedih.
Langkah kaki Mas Rafi terdengar mendekat ke ka mar. Aku berharap ia akan duduk, memevgang dahiku, atau setidaknya bertanya bagian mana yang sakit. Namun, yang kudengar justru helaan napas panjang yang penuh kekecewaan.
"Ji, bangun. Nggak enak dilihat ibu kalau kamu begini terus. Mas ini capek baru pulang kerja, bukannya disambut senyum malah disuguhi pemandangan rumah yang kayak kapal pecah. Kamu nggak kasihan apa, sama Mas?"
Bersambung…
Selengkapnya di KBM app
Judul : THR Suamiku Bukan Untukku (Karena Aku Hanya Menantu)





























































