SERPIHAN KESETIAAN 3
Membalas
-
Tapi Nayla tidak memberi ruang untuk permainan kata-kata. "Perem puan yang akan kamu nikahi setelah Ramadhan," katanya, suaranya bergetar, tetapi tegas.
Da da Faris berde sir. Ia seharusnya mempersiapkan momen ini dengan hati-hati, dengan waktu yang tepat. Tapi kini, tabirnya sudah terbuka.
Ia mena rik napas dalam, menundukkan kepala sejenak sebelum menjawab, "Namanya Sarah."
Jawaban itu seperti pi sau yang menembus da da Nayla. Tidak ada penyangkalan. Tidak ada kebohongan lagi. Hanya pengakuan yang terdengar begitu ringan, seolah-olah yang mereka bicarakan bukan tentang sesuatu yang akan mengubah hidup mereka selamanya.
"Sejak kapan kamu mengenal perem puan itu?" suara Nayla hampir berbisik.
Faris menghela napas panjang, kemudian bersandar ke dinding, seperti seorang pria yang baru saja memutuskan untuk menyerahkan diri setelah bersembunyi sekian lama.
"Kami sudah saling mengenal beberapa bulan," jawabnya jujur.
Nayla tertawa kecil, tetapi tawa itu pahit. "Beberapa bulan?" matanya menatap Faris penuh perih. "Berarti selama ini aku hanya istri yang tidak tahu apa-apa, ya?"
Faris menutup mata sesaat, lalu menggeleng. "Bukan begitu, Nayla."
"Lalu bagaimana?" Nayla melangkah maju, kedua tangannya terkepal di sisi tu buh nya. "Kamu mencintaiku, tapi mencintainya juga? Kamu ingin tetap bersamaku, tapi ingin menikahinya juga? Apa menurutmu aku tidak akan merasa han cur?"
Faris merasakan tenggorokannya mengering. Ia ingin mengatakan sesuatu yang bisa meredakan a ma rah dan lu ka di hati Nayla, tapi tidak ada kata-kata yang cukup baik untuk itu.
"Aku tidak ingin menya ki ti mu, Nayla," katanya setelah beberapa saat terdiam.
Nayla menggeleng pelan, air mata menggenang di sudut matanya. "Kalau memang tidak ingin menya ki ti ku, kenapa kamu menyembunyikannya?"
Faris terdiam.
-
KISAH LENGKAP ADA DI KBM APP
JUDUL: SERPIHAN KESETIAAN
PENULIS: EUNOIA

































































