PULANGNYA SANG PEWARIS 1
"Kita harus segera melakukan ope rasi Caesar, sebab keadaan jan in Bu Widya sudah sangat lemah. Tak ada pilihan lain, tindakan ini harus diambil demi keselamatan Ibu dan ba yi."
Di malam itu, seluruh keluarga besar Hartono menumpahkan air mata mendengar kabar yang terbilang buruk itu.
Widya, istri dari Ardi Jaya Hartono tengah terbaring lemah pasca pendar ahan malam itu. Keha milan yang ditunggu-tunggunya selama 3 tahun itu memang cukup lemah, dan mengharuskan ia bedrest selama keha milan.
"Dok, an ak dan istri saya bisa selamat, kan?" tanya Ardi dengan suara bergetar menahan tangis. Ia tak berhenti menggenggam tangan istrinya yang tampak pucat, meski begitu Widya tampak berusaha kuat dan tegar.
"Kita berdo'a saja, Pak. Kalau memang keluarga setuju, Bapak bisa ke ruangan saya untuk menandatangani surat izin atas tindakan ope rasi malam ini," kata dokter laki-laki itu. "Silahkan bicarakan ini dengan seluruh keluarga terlebih dahulu. Saya tunggu di ruangan," sambung dokter itu dengan senyum ramah, kemudian ia berlalu dari sana meninggalkan Ardi dan keluarga yang lain.
Sepeninggal dokter itu, Ardi kembali menumpahkan air matanya. Ia tak berhenti memeluk Widya yang terbaring dengan infus di tangan. Berusaha kuat, Widya mengelus punggung sang suami dan membisikkan kata penguat untuk pria tercintanya itu.
"Mas, aku nggak apa-apa. Lebih baik segera buat keputusan, an ak kita butuh bantuan secepatnya." Ardi melepas pelukannya, kemudian menatap sang istri penuh cinta.
"Mas takut terjadi apa-apa, Sayang. Mas lebih takut kehilangan kamu ... dari pada an ak kita." Ardi kembali menangis, semua yang ada di ruangan ikut meneteskan air mata melihat betapa lemahnya pria itu.
"Mas, yakin saja jika aku dan an ak kita bisa selamat. Banyak-banyak berdo'a, Mas, semoga kita bertiga bisa kembali berkumpul dan hidup bahagia." Mendengar ucapan sang istri, semangat yang sempat pudar kembali menyala.
"Widya benar, Ardi. Kita harus segera membuat keputusan," timpal Heni, ibu Ardi.
"Iya, Papa juga setuju. Sekarang kamu temui dokter itu dan lakukan penandatanganan segera. Setelah itu, minta ope rasi dilakukan saat ini juga." Hartono ikut bersuara.
Akhirnya, Ardi mengambil sebuah keputusan yang amat berat. Terlebih saat di ruangan dokter, laki-laki berjas putih itu memintanya memilih salah satu, istri atau ... an aknya?
"Bagaimana bisa aku memilih, Dok? Ini pekerjaan kalian, tugas kalian! Harusnya kalian bisa menyelamatkan keduanya tanpa kami sebagai keluarga harus memilih!" Ardi terbawa emosi, dia menggebrak meja.
Beruntung dokter itu cukup sabar dan menanggapi dengan senyum yang begitu tenang.
"Bapak lupa? Kami para tim medis hanya perantara, yang pembuat keputusan sebenarnya adalah Allah. Bisa saja kami mengatakan hanya bisa menyelamatkan satu orang, tapi kalau Allah mengatakan bisa keduanya, siapa yang bisa mengubah?" Mendengar itu, Ardi pun terdiam. Setelah berpikir panjang, akhirnya ia membuat sebuah keputusan yang sangat berat.
"Utamakan istri saya, Dok."
*
Judul: Pulangnya Sang Pewaris
Penulis: RifatulMahmuda
Baca selengkapnya di aplikasi KBM app. Sudah tamat











































