Kami sekeluarga naik motor ke mana pun, panas hujan diterjang. Dari nganter anak sekolah,jenguk orang tua, belanja kebutuhan warung,kerja.. sekarang berumah tangga-roda dua jadi saksi perjalanan hidupku.Dan aku selalu jadi penumpangnya alias diboncengin paksu.🛵
Tapi anehnya, ada saja yang nyeletuk, "gak bakat jadi orang kaya, hidupnya motor melulu, kapan punya mobil?"😐
#RelationshipTalk Aku pernah obrolin tentang omongan orang terdekat kami yang nyeletuk kalo kami gak bakat kaya gara-gara gak punya mobil,dan minta paksu untuk nyicil mobil tapi paksu bilang,"Ibu jangan baper omongan orang kita gak bakat jadi orang kaya gara-gara gak punya mobil soalnya di jakarta ini macet dimana-mana,kalo kita naik mobil lebih lama,susah nyalipnya jadi lama dan capek dijalan."
Padahal, ukuran masa depan itu bukan sekadar punya roda empat atau enggak. Kaya bukan cuma di dompet, tapi juga di hati, di pengalaman, di perjuangan.
Malu gak sih, kalau kebahagiaan kita diukur dari gengsi kendaraan?
Kalau menurut kamu, bener gak sih orang bisa dinilai masa depannya cuma dari punya mobil atau enggak?
... Baca selengkapnyaBicara soal mobil dan stigma "miskin", sering kali kita lupa bahwa kenyamanan dan kemudahan hidup bukan hanya soal kendaraan yang dipakai. Sebagai seorang istri rumah tangga, saya merasakan langsung bagaimana motor justru mempermudah aktivitas kami sehari-hari, apalagi di kota besar seperti Jakarta yang lalu lintasnya padat dan macet.
Mobil memang terlihat prestisius, tapi kalau tiap hari harus terjebak di kemacetan panjang, bukankah itu justru bikin stres dan melelahkan? Saya pernah mendengar orang berujar, "Kapan kalian punya mobil? Kan supaya keliatan maju dan gak miskin." Mendengar itu, saya sadar bahwa ukuran kekayaan seharusnya bukan ditentukan dari apa yang bisa dipamerkan atau dibanggakan orang lain, melainkan dari ketenangan dan kebahagiaan dalam keluarga.
Dari pengalaman saya, motor sudah sangat memadai untuk berbagai kebutuhan penting, mulai antar anak sekolah, belanja, hingga keperluan mendesak lainnya. Kami juga belajar bahwa kaya hati dan usaha lebih berharga daripada sekadar nomor kendaraan.
Bagi pembaca yang sedang merasa terjebak dengan penilaian sosial semacam ini, saya ingin berbagi bahwa jangan biarkan gengsi kendaraan menentukan nilai diri Anda. Gunakan apa yang Anda punya sebaik mungkin dan banggakan hidup sederhana yang penuh makna. Ingat, masa depan dan kebahagiaan sejati berasal dari perjalanan dan perjuangan hidup, bukan sekadar memiliki mobil mewah.
Kalau Anda sendiri bagaimana? Pernah kah merasa terbebani dengan penilaian orang soal kendaraan? Bagi cerita Anda agar kita bisa saling menguatkan satu sama lain.
gak usah malu kk...lbh baik hidup apa adanya akan lbh nyaman,dri pada memaksa diri itu terasa sakit dan sangat tdk nyaman...syukuri aja yg sdh ada ya kk...
gak usah malu kk...lbh baik hidup apa adanya akan lbh nyaman,dri pada memaksa diri itu terasa sakit dan sangat tdk nyaman...syukuri aja yg sdh ada ya kk...