Bagi Nadira, ini hanya pernikahan di atas kertas. Tapi bagi Arga, sejak awal ia menginginkan lebih. Mala m perta maa menjadi saksi, saat ia men untut Nadira menjalani peran sebagai istri sebenarnya.
“Kita check-out hari ini,” kata Nadira te gas.
Arga menatap koper itu sejenak sebelum menatapnya. “Kau yakin?”
“Ya.”
Nadira memandang gedung tinggi itu dengan ragu. “Kalau begitu aku harus kembali ke apartemenku dulu. Ada barang-barang yang harus kuambil.”
“Kebut uhanmu sudah kusiapkan.”
“Tapi....”
Arga menatapnya dengan tenang. “Kau tidak perlu buru-buru.”
“Apa ini kamarku?” tanya Nadira.
“Ya. Kamar kita,” jawab Arga.
Nadira menoleh taj am ke arah Arga yang kini berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di da da.
“Kita? Bukankah sebaiknya kita tidur di ka mar terpisah?”
Arga mengangkat alisnya, seolah pertanyaan itu tak perlu ditanyakan. “Karena kita suami-istri,” jawabnya santai.
Arga tersenyum, lalu meraih ponselnya. Dengan santai, ia mengetik sesuatu dan memperlihatkannya pada Nadira. “Sayang sekali. Apartemen ini hanya punya satu ka mar tidur utama. Kalau kau mau ka mar lain, kita bisa tinggal di hotel, tapi…” Ia menatapnya penuh arti. “Kurasa itu lebih merepotkan, apalagi jika orang tuamu bertanya-tanya kenapa kita tidak seka mar. Lagipula bagiku pernikahan ini sungguhan. Sah di hadapan penghulu dan saksi. Kau juga harus menjadi istri sungguhan, Nadira,” ucap Arga.
Nadira menggi git bi bir. “Tetap saja, Arga. Aku tidak bisa... Aku tidak cinta sama kau, Arga. Kau tahu itu.”
Arga menatap Nadira dalam-dalam, seolah mencoba membaca setiap emosi yang berkelebat di matanya. Ia tidak tampak terkejut atau tersinggung oleh ucapan Nadira. Sebaliknya, senyuman tipis yang menggo da justru muncul di sudut bib irnya.
“Aku tahu,” ucapnya pelan, suaranya tenang, tapi ada nada percaya diri yang sulit diabaikan. “Kau tidak mencintaiku… untuk saat ini.”
Nadira mengerutkan kening. “Maksudmu apa?”
Arga mencond ongkan t ubuhnya sedikit lebih dekat, membuat Nadira refleks mundur, tapi punggungnya sudah menyentuh dinding. Dengan jarak sedekat ini, Nadira bisa menc iu m aroma maskulin khas Arga, sesuatu yang entah kenapa selalu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
“Maksudku,” lanjut Arga dengan nada rendah yang nyaris menghipnotis, "pernikahan ini mungkin dimulai sebagai pemenuhan janji karena wasiat ayahmu, tapi bukan berarti aku tidak benar-benar menginginkannya. Kau pikir aku pria macam apa, Nadira? Aku tidak suka menjalani sesuatu setengah-setengah. Aku benar-benar menginginkanmu menjadi istriku.”
Nadira menelan lud ah, berusaha mengabaikan panas yang mera yap di wajahnya. “Aku… aku tidak akan berubah pikiran. Kau tidak boleh menye ntuhku.”
Arga mengangkat satu alis, lalu tertawa kecil, suara rendah yang menggelitik telinga Nadira. “Aku tidak bisa janji.”
Ia kemudian melangkah mundur dengan santai, memberi Nadira rua ng untuk bernapas. “Aku tidak akan memak samu untuk saat ini, Nadira. Kau tenang saja, tapi, satu hal yang pasti…” Ia menatap ra nja ng besar di belakangnya dengan ekspresi penuh arti. “Aku tetap akan ti dur di ka mar ini. Dan sejauh yang kupahami, seorang istri seharusnya t idur bersama suaminya.”
***
Nadira berdiri di ambang pintu, berusaha menjaga ekspresinya tetap netral. “Aku mau keluar sebentar,” katanya, mencoba terdengar biasa saja.
Arga menutup laptopnya dengan gerakan santai. “Ke mana?”
“Ke apartemenku. Aku perlu menga mbil beberapa dokumen yang tertinggal. Aku juga berencana ke kantor besok, jadi sekalian aku persiapkan semuanya.”
“Baiklah, aku antar,” katanya sambil mengambil kunci mobil dari meja.
Nadira langsung membelalakkan mata. “Apa? Tidak perlu! Aku bisa pergi sendiri.”
“Tidak perlu repot-repot, Arga,” ia mencoba lagi, suaranya sedikit memohon. “Aku bisa naik taksi. Aku juga bisa nyetir sendiri, kalau kamu izinin aku pinjam mobilmu.”
Arga hanya tersenyum tipis.
judul: Menikahi Pria Misterius
penulis: windra yuniarsih









































