Bab 2
Hah? Bun uh di ri?" Ardani ternganga. Ia melirik Amira yang sedang mengantre di kasir.
Amira menyadari ada sesuatu yang tak berespun mengerutkan kening.
"Ada apa, Sayang? Siapa yang ******””?" tanya Amira.
Ardani menggeleng pelan, lalu menutup sambungan telepon. "Bu, tunggulah di sini. Aku akan kembali sebentar lagi."
Tanpa menunggu persetujuan Amira, ga dis itu langsung pergi begitu saja. Amira dibuat panik karena takut melepas putrinya sendirian.
Membelah jalanan ibukota yang padat, Ardani memaksa supir taksi melaju lebih cepat. Pikirannya kacau, ia sulit berkonsentrasi. Hampir salah menunjukkan alamat tujuan kepada supir. Untung saja pria itu sabar dan meminta Ardani menenangkan diri terlebih dahulu.
Sesampainya di ru mah Viki, suasana di halaman ru mahnya terasa berbeda. Kaki Ardani lemas tak berdaya. Ia tak siap menerima apa pun kenyataan sedetik kemudian.
Dengan langkah gontai ia menaiki satu per satu an ak tangga, membiarkan setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Ketika pijakan sampai di depan pintu, Marni terduduk di sana dengan tatapan kosong.
"Bu, mana Mas Viki?" tanya Ardani lirih.
"Ada di ka mar," jawab Marni singkat. Ia masih menyimpan kebencian sehingga tak ingin melihat wajah Ardani. ga dis itu pergi ke ka mar Viki, penasaran apa yang telah terjadi.
Ardani terpaku dalam diam ketika melihat kondisi Viki terbaring lemah. Ia mendekat perlahan, memanggil lirih berharap pria itu mendengar. Benar saja, Viki masih tersadar. Ia hanya memejamkan mata.
"Mas, apa yang terjadi? Mengapa bisa seperti ini?" tanya Ardani khawatir.
"Maafkan Mas, Ardani. Mas terpaksa melakukan hal bod oh ini demi pernikahan kita. Kalau tidak mencoba meminum racun, Ibu tetap akan memba talkan pernikahan. Setidaknya dia menyetujuinya demi aku," jelas Viki dengan senyum tipis.
Ardani mulai geram. Ia tak habis pikir mengapa Viki melakukan cara yang gil a seperti itu. Ardani yakin masih ada petunjuk lain, tak harus membahayakan nyawa sendiri.
"Mas sudah kehilangan akal sehat. Bagaimana jika orang terlambat mengetahuinya? Nyawa Mas bisa dalam bahaya! Apa Mas tidak memikirkan hal itu? Tidak kasihan bila mening galkanku sendiri di dunia?" cerca Ardani menahan tangisnya.
***
Detik demi detik berlalu, tanpa terasa acara pun selesai dengan sangat khidmat. Kini Viki dan Ardani telah sah menjadi pasangan suami istri. Keduanya begitu bahagia, seakan-akan dunia milik berdua.
"Untuk apa menc ium tanganku? Pergilah, aku tidak suka melihat wajahmu!" bentak Marni ketika Ardani ingin meraih tangannya.
"Bu, ayolah! Ardani sudah menjadi menantumu!"
"Menantu apa? Ardani hanya mencintaimu, Viki. Dia tidak mencintaiku!" tegas Marni membuat kedua bola mata Ardani terbuka lebar.
"Astagfirullah, Bu! Itu fitnah! Kata siapa saya tidak mencintaimu, Bu?" Ardani hampir menangis, tetapi Viki segera membawanya ke ka mar.
Marni sibuk mengum pat dalam hatinya. Ia tak menyukai pernikahan ini. Baginya Ardani hanya wanita biasa, tak pantas disandingkan dengan Viki. an ak lelakinya yang manja dan penyayang. Meskipun keduanya sama-sama berprofesi sebagai guru, entah mengapa ada yang mengganjal di hati Marni.
Sedangkan di dalam sana, Ardani mengatur deru napasnya. Ia tak habis pikir sang ibu mertua menuduhnya yang tidak-tidak.
"Sabarlah, Sayang. Ibu mungkin kelelahan jadi bicaranya seperti itu. Kita coba saja besok," ucap Viki.
"Coba apa, Mas? Bagaimana jika ibumu benar-benar membenciku?"
*
JUDUL : Derita Tinggal di Ru mah Mertua
NAPEN : Amey_MK



































