Bab 9
"Bantu aku untuk balas d e n d a m!"
Ucapanku barusan membuat matanya langsung membola seketika!
"Apa kau g i l a?" tanyanya dengan menekan nada suara. Zayn langsung berdiri dari duduknya. Wajahnya memerah, menunjukkan ama rah.
Dan aku hanya menatapnya dengan ekspresi datar.
Zayn mengusap wajah, terlihat sekali bahwa ia tak habis pikir dengan permintaanku itu.
"Apa tidak bisa diganti dengan yang lain saja?" tanyanya dengan nada lunak setelah beberapa saat hening tercipta.
Aku menggeleng seraya menatap wajahnya dengan sorot mata dingin. Tidak ada keinginan lain, aku hanya ingin balas d e n d a m. Itu saja!
***
"Tuan sedang banyak urusan, Nona," balasnya ramah. Perjalanan yang sempat terhenti kini dilanjutkan. Aku tak merespon. Memilih terus diam begitu masuk mobil dan selama perjalanan.
Kurang lebih setengah jam kemudian, mobil terhenti di depan sebuah ru mah dengan pekarangan yang luas. Jujur, aku merasa bingung. Ada tujuan apa Adam membawaku kemari? Namun belum sampai melempar tanya, Adam sudah bersuara.
"Kata Tuan, untuk sementara Nona tin ggal di sini. Bareng Bibi Della sampai Nona benar-benar pulih. Setelah sembuh, Nona bebas melakukan apa pun. Itu pesan Tuan Zayn," ujar Adam ramah.
Aku hanya mengangguk. Tak merespon lebih. Jujur, aku juga bingung dengan situasi ini. Tapi, mau bagaimana lagi? Hidup di atas kaki sendiri pun aku juga tak mampu. Sudah seharusnya aku bersyukur atas kebaikan Zayn sejauh ini, meski bukan seperti yang aku minta.
"Terima kasih, Adam," ucapku ketika lelaki itu membantuku turun dari mobil dan m e n d o r o n g kursi rodaku sampai depan pintu. Sedangkan, Bibi Della sudah keluar sejak tadi. Wanita itu masuk ke ru mahnya lebih dulu.
"Sama-sama," balas lelaki itu. Kemudian pamit. Begitu mobil bergerak pergi, Bibi Della keluar dari ru mahnya.
"Mari, Nona! Saya antar ke kamar," ucap Bibi Della dengan bahasa formal. Aku menjadi sedikit tak nyaman.
"Bibi!"
Bibi Della yang hendak m e n d o r o n g kursiku pun urung. Wanita yang kutaksir berusia sekitar empat puluh lima tahun itu pun menjawab, "Ada apa, Nona?"
Aku sempat terkejut. Sebelum akhirnya mengulas senyum tipis. "Ah, iyaa. Tolong panggil aku Kayra saja yang, Bi," pintaku.
Bibi Della nampak keberatan. Namun, aku terus membujuk. Akhirnya Wanita itu mau menuruti permintaanku. Dan kami, lanjut ke ka mar.
*
Seminggu berada di ru mah Bibi Della, membuatku bosan. Aku juga ingin sesekali keluar ru mah. Namun, dengan alasan kesehatanku yang belum pulih seutuhnya, Bibi melarangku.
Alhasil, aku seperti terkurung dalam sangkar. Keseharianku sebatas nonton tv, makan, tidur, dan ... menatap tanggalan. Entah mengapa aku suka dengan kegiatan satu itu. Mungkin dengan menghitung hari, aku merasa sedikit terhibur.
Di tengah asyiknya melihat-lihat tanggalan, tiba-tiba aku mengingat sesuatu. Kalau tak salah, sebentar lagi adalah hari spesial Mas Malik. Yaa, tak salah lagi. Mas Malik akan menikah lagi dengan Mbak Miya dalam tiga hari lagi.
Mengingat itu, aku tersenyum miring. Mataku tiba-tiba memanas. P e n gk h ia na ta n itu, m e r o b e k hatiku begitu k e j a m. Lukanya sangat dalam. Di tengah kepercayaan yang selalu aku sematkan, doa yang senantiasa kulangitkan, bakti yang tak pernah terlewatkan, itukah balasan yang diberikan?
Sungguh, mengingat hal itu, membuat hatiku kembali terluk a.
"Tunggu, Mas! Kamu juga harus mendapatkan ganjaran yang setimpal. Tunggu saja, aku akan lakukan sesuatu pada hidupmu! Itu janjiku!" ucapku dengan menggebu-gebu.
Tanpa kusadari, bahwa ada seseorang yang sedari tadi memperhatikanku di balik pintu kam ar yang sedikit terbuka.
Judul : Aku Kembali untuk Membalasmu, Mas!
Penulis : Ttanaja29
Baca selengkapnya hanya di KBM App.












































