Bab 3
“Bagus, ya! Keluyuran terus, kerjaannya cuma jalan ke sana ke mari! ru mah berantakan, suami nggak diurus, makanan pun nggak ada! Kayak gini mau bikin suami betah? Ya nggak mungkin, Sayang!”
Keisha menarik napas panjang. Sepatu bahkan belum sempat terlepas, tapi rentetan kalimat pedas terus menghujani.
“Suami kerja b a n t i n g tulang cari nafkah, istri malah entah ke mana! Nggak jelas kerja apa, hasilnya apa! Kasihan a n a k k u dapat istri yang nggak becus ngurus ru mah, nggak bisa jaga suami!”
“Buat saya? Padahal banyak kebutuhan di ru mah ini saya yang tutupi. Dan kiriman bulanan ke ru mah ibu? Nggak pernah telat, kan? Meskipun kadang saya harus ngencengin ikat pinggang supaya semua cukup.”
“Selama ini saya diam, Bu. Semua omelan, sindiran, h i n a a n—Ibu le m p ar, saya telan. Tapi tidak lagi.”
Napasnya teratur, sorot matanya mantap.
“Saya lelah. Saya bukan robot. Saya punya batas. Hari ini, saya pilih diam bukan karena kalah, tapi karena sudah selesai memedulikan hal yang tak layak diperjuangkan.”
---
“Hallo, Nurma… Kamu tahu nggak, Keisha tadi ngel a w a n Ibu! Ya Allah, ku ra ng a j a r banget dia!” keluh Bu Desi, suaranya bergetar nyaris menangis, mengharap pembelaan.
Namun suara di seberang terdengar jengah.
“Ibu… ngapain sih ke ru mah Mas Bram? Itu urusan ru mah tangga mereka. Mas Bram aja nggak pernah ngomel segitunya.”
“Lho, kamu ini gimana? Dia itu istri nggak tahu diri, Nurma!”
“Yang malu justru aku, Bu. Ibu tuh kayak nggak punya tempat m a r a h lain selain di ru mah orang. Sudahlah, pulang aja, nanti makin runyam!”
“Bu… pulang aja. Ibu istirahat. Jangan ikut campur terus.”
Klik. Telepon ditutup sepihak.
Bu Desi menatap kosong ke depan. Untuk pertama kalinya, ia merasa sendirian.
“Iya, Bu Desi… Ada apa? Kok kayaknya tegang banget?”
Tanpa menunggu lebih lama, Bu Desi langsung mengadukan semuanya: dari omelan Keisha, sikap membangkangnya, hingga rasa kesal yang menumpuk.
“Cindy, kamu harus tahu… Keisha itu makin hari makin kurang ajar. Ibu baru ngomong sedikit aja, dia udah nyolot. Nggak punya sopan santun. Mana bisa ru mah tangga langgeng kalau begini?”
“Ih, bener banget, Bu. Dari dulu juga saya heran, kok Mas Bram masih tahan sama dia. Harusnya Keisha bersyukur banget, dapet mertua perhatian kayak Ibu.”
Tapi begitu telepon ditutup, senyum Cindy lenyap seketika. Ia meletakkan ponsel dengan ka s ar di meja.
“Dasar nenek bawel. Telpon cuma buat ngeluh soal menantu. Aku juga capek dengar dramanya. Enak aja, aku bukan tempat s a m p a h emosinya.”
Cindy m e n d e s a h panjang, lalu meraih cermin kecil dari tasnya dan membenarkan lipstik yang memudar.
“Kalau bukan karena Bram, ogah banget aku pura-pura manis sama mertua macam itu. Tapi ya sudahlah… demi posisi.”
---
“Satu-satu aku rapikan. Aku siapkan. Bukan untuk melawan, tapi untuk melindungi,” gumamnya lirih.
“ru mah ini… dulu Ayah yang b e l i kan. Hadiah pernikahan… buatku.”
“Sudah saatnya aku balik nama. Biar semuanya jelas.”
Ia mengambil ponsel, membuka kontak notaris, dan mengetik pesan singkat:
“Assalamu’alaikum. Saya ingin konsultasi soal balik nama sertifikat ru mah. Kapan saya bisa datang?”
Pesan terkirim.
Beberapa detik ia menatap layar, lalu meletakkannya kembali. Ia tahu, langkah ini bisa memicu badai yang lebih besar. Tapi untuk pertama kalinya, ia siap.
Ini bukan tentang merebut.
Ini tentang mengambil kembali—hak yang dulu dengan ikhlas ia relakan, demi ru mah tangga yang kini nyaris runtuh.
.
.
.
Lanjut gak?
Judul: Kembali Setelah Kau Pergi
Karya: Vina Ivantina
Baca selengkapnya di KBM App
































































