BAB 5: Tragedi di Meja Operasi
"Eh si Pras, ternyata royal juga ya untuk an ak? Istrinya hamil saja dirayakan semewah ini," bisik salah satu tetangga dengan nada iri.
"Senyum, Rum! Jangan pasang muka kecut begitu. Biar orang desa tahu kalau aku ini suami royal, bukan pecundang seperti yang mereka bicarakan!" desis Pras sambil mencengkeram lengan Arum pelan.
"Mas, gimana aku bisa senyum," bisik Arum dengan suara bergetar. "Ua ng dari mana kamu untuk bikin acara semewah ini, Mas? Jangan bilang ini dari aplikasi pinjaman."
Malam itu, di tengah pesta yang disebut "mewah" oleh warga desa, Arum menyadari satu hal pahit, bagi Pras dan ibunya rasa gengsi mereka adalah hal mutlak yang tak terbantahkan.
"Mas Pras, ini gawat. Detak jantung janinnya melemah," ujar Bidan Siti dengan suara bergetar. "Posisi ba yinya melintang total, pundaknya ada di jalan lahir. Ditambah lagi, ini ada perda rahan hebat. Sepertinya plasentanya lepas sebelum waktunya. Saya nggak sanggup, Rum. Kamu harus ke RSUD sekarang juga!"
"Apa? Ke ru mah sa kit? Nggak bisa di sini saja, Bu?" Pras menyela, wajahnya bukan khawatir, tapi panik memikirkan dompet. "Ua ng kami nggak cukup kalau harus ke ru mah sa kit!"
"Ini soal nyawa, Pras! Bukan soal ua ng!" bentak Bidan Siti yang biasanya lembut.
Dengan ambulans desa yang pengap dan berguncang hebat, Arum dilarikan ke IGD RSUD. Di sana, lampu terang berkilau membuat mata Arum perih. Suara roda brankar yang berderit di atas lantai keramik terdengar seperti lonceng kema tian di telinganya.
"Gimana, Pras? Bisa lahir normal kan? Ibu nggak mau ya kalau ujung-ujungnya operasi. Mahal! Belum lagi nanti Arum jadi nggak bisa kerja berat gara-gara lu ka sesar," cerocos Lastri tanpa rasa iba sedikit pun.
"Dokternya bilang harus operasi, Bu. Ba yinya melintang," jawab Pras lirih.
"Mana Arum? Mana an akku?!" teriak Pak Tarno.
"Harus operasi, Pak. Tapi Pras nggak mau tanda tangan karena nggak ada ua ngnya," ujar tetangga yang ikut mengantar.
Pak Tarno menatap Pras dengan tatapan yang menghujam. "Kamu tega, Pras? Itu istrimu! Itu an akmu!"
"Bapak nggak tahu saja, biayanya mahal, Pak! Dari mana ua ngnya?" Pras membela diri.
Pak Tarno tidak bicara lagi. Dengan tangan bergetar, dia kemudian berlutut di depan perawat. "Biar saya yang tanda tangan, suster!" ucap Pak Tarno dengan suara yang gemetar. "Saya punya sertifikat tanah sawah warisan bapak saya. Saya akan jual! Gadaikan! atau apa saja! Tapi tolong selamatkan an ak dan cucu saya!"
Pras tertegun mendengar hal itu. Lastri dan Siska pun melotot bukan karena sedih, tapi karena melihat "harta" yang baru saja muncul. Pak Tarno akhirnya menandatangani surat persetujuan operasi dan kemudian ambruk di kursi tunggu, menangis sejadi-jadinya sambil memeluk istri dan an ak bungsunya.
"Ayo, Sayang... ayo... nangis..." gumam dokter an ak yang sudah siap di samping meja operasi.
Satu detik... dua detik... keheningan itu terasa seperti selamanya.
Hingga akhirnya, sebuah tangisan pe cah. Lemah, namun ada.
"Oeeekk... oeeekk..."
Perawat di ruang operasi bernapas lega. "Ba yinya perempuan, Dok. Berat dua koma delapan kilo."
Namun, drama belum selesai.
"Tekanan da rah pasien turun! Nadi tidak teraba! *Postpartum haemorrhage!* Cepat, siapkan tranfusi!" teriak dokter bedah.
Arum sedang berjuang di ambang maut. Di luar ruangan, Pras sedang menyusun rencana untuk bisa mendapatkan sertifikat tanah milik mertuanya. Dia bahkan tidak menanyakan apakah an aknya sudah lahir atau apakah istrinya masih hidup. Yang ada di pikirannya hanyalah, "Tanah dan sawah itu harus menjadi milikku, kalau di jual atau digadaikan utang judiku lunas dan sisa ua ngnya bisa buat beli motor baru."
Judul: NAFKAH DARI ISTRI
Penulis: PENANIJI












































































