Strategi Festival dan Gangguan Berantai
Bab 8
Festival Kuliner Dunia sedang berada di puncaknya. Aroma mentega terbakar dan bumbu sate yang mengepul membuat suasana makin riuh. Di tengah lautan manusia itu, Linxi sedang menjalankan misi rahasianya: Operasi Kencan Sungguhan.
Bagi Linxi, memenangkan izin dari Yifan dan Feng hanyalah babak kualifikasi. Final yang sebenarnya adalah membuat Yueyue sadar bahwa dia sedang berkencan dengan seorang pria, bukan sedang jalan-jalan dengan pengasuh mahal.
"Yueyue, pelan-pelan jalannya. Di depan sana ramai sekali," ucap Linxi lembut. Ia melihat celah. Saat sebuah gerobak es krim lewat, Linxi dengan cekatan meraih jemari Yueyue.
Yueyue sempat mengerjap. Tangannya yang mungil tenggelam di telapak tangan Linxi yang hangat dan halus. "Lho, Kak Linxi? Takut aku ilang ya? Tenang aja, aku sudah hafal bau paha ayam dari jarak seratus meter kok."
Linxi tersenyum, tidak melepaskan genggamannya. "Bukan takut hilang. Saya cuma mau memastikan kamu aman."
Tak puas hanya memegang tangan, saat mereka masuk ke area yang lebih padat, Linxi memberanikan diri merangkul bahu Yueyue, menariknya mendekat hingga kepala Yueyue hampir bersandar di bahu jas sage green-nya.
Yueyue mendongak, menatap dagu Linxi yang tercukur rapi. "Wah, Kak Linxi hangat banget ya. Kayak termos air di dapur Kak Yifan. Apa orang kaya emang punya pemanas suhu tubuh otomatis di balik jasnya?"
Linxi hampir tersedak. "Ini namanya rasa peduli, Yueyue. Bukan pemanas otomatis."
"Ohh... baik banget. Makasih ya Kak Termos," jawab Yueyue polos sambil lanjut mengunyah permen kapas yang tadi dibelikan Linxi.
***
Di balik sebuah papan iklan raksasa, sepasang mata hampir mengeluarkan api. Mufan, yang kali ini menyamar menggunakan kumis palsu tebal dan topi pelukis, meremas tiang besi hingga melengkung.
"Gembul! Lihat itu! Tangan Linxi sudah naik-naik ke bahu Nona Gemoyku! Dia pikir dia lagi syuting poster film romantis?!" desis Mufan.
"Tenang Bos, napas Bos bau naga, kumis palsunya mau copot itu," sahut Gembul yang sedang memegang remote kontrol sebuah drone kecil yang sudah ditempeli... tepung terigu.
"Jalankan rencana 'Hujan Salju Mendadak'! Sekarang!" perintah Mufan.
Gembul menekan tombol. Drone itu terbang rendah, tepat di atas kepala Linxi yang sedang asyik merangkul Yueyue. Dalam hitungan detik, drone itu menumpahkan sekarung kecil tepung terigu tepat ke arah mereka.
Puffff!
Linxi yang tadinya tampak seperti pangeran dari majalah fashion, seketika berubah jadi seperti donat goreng yang baru keluar dari adonan. Jas sage green-nya putih total.
"HWA! ADA SALJU!" teriak Yueyue senang sambil mencoba menangkap tepung yang terbang. "Tapi kok saljunya bau terigu segitiga biru ya?"
Di saat Linxi sedang sibuk membersihkan wajah yang penuh tepung dengan sapu tangan sutra, Huahai muncul dari balik stan kopi. Ia sudah tidak tahan hanya memantau. Rasa penasaran yang muncul di kafe kucing tadi telah bermutasi menjadi rasa tidak terima jika Yueyue didekati pria "donat" seperti Linxi.
Huahai berjalan dengan gaya catwalk, membuka maskernya sedikit untuk memberikan efek dramatis.
"Yueyue! Jangan dekat-dekat dia. Dia... dia berbahaya bagi pernapasanmu," ucap Huahai sambil menarik tangan Yueyue yang satunya.
Yueyue makin bingung. Sekarang tangannya ditarik Linxi di kanan dan Huahai di kiri. "Lho, Mas Belek? Mas sudah mandi ya? Matanya sudah bersih?"
Huahai mendengus. "Namaku Huahai! Dan aku ke sini bukan untuk bahas mata, tapi untuk menyelamatkanmu dari kencan tepung ini. Ayo, ikut aku ke area VIP, di sana nggak ada hujan terigu."
"Nggak bisa!" potong Linxi sambil menepis tangan Huahai. "Dia sedang bersama saya!"
Mufan yang melihat dari jauh makin panas. "Gembul! Kenapa si Belek itu ikut-ikutan pegang tangan?! Lepaskan drone kedua! Kali ini isi dengan saus sambal!"
Kencan yang harusnya romantis berubah jadi arena tarik tambang manusia. Linxi berusaha mempertahankan wibawanya meski mukanya putih semua, Huahai berusaha terlihat keren tapi hampir jatuh karena tersandung tas kucing Yueyue, dan Mufan—yang akhirnya kehilangan kesabaran—lari menerjang sambil berteriak.
"LEPASKAN NONA GEMOYKU!" teriak Mufan sambil melompat dari balik papan iklan.
Yueyue melihat ketiganya dengan tatapan prihatin. Ia melepaskan pegangan kedua pria itu, lalu mengambil sisa tepung di baju Linxi dan menaburkannya ke wajah Huahai yang terlalu mulus.
"Kalian semua ini kayak anak TK yang rebutan mainan," ucap Yueyue sambil menghela napas. "Tadi aku merasa hangat, sekarang aku malah merasa haus. Aku mau pulang saja, mau main sama Mochi. Mochi lebih normal daripada kalian bertiga!"
Yueyue berjalan pergi dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan menuju mobil, meninggalkan Linxi yang mirip moci, Huahai yang kaget terkena tepung, dan Mufan yang mematung dengan kumis palsu yang tinggal sebelah.
"Gembul..." gumam Mufan lemas.
"Iya Bos?"
"Kayaknya kita butuh rencana baru yang nggak melibatkan bahan sembako."
Linxi berdiri mematung, menatap telapak tangannya yang baru saja merasakan kehangatan jemari Yueyue. Kini tangan itu hanya menyisakan butiran tepung terigu. Ia melirik Huahai yang sedang sibuk membersihkan wajahnya dengan panik.
"Lihat apa yang kau lakukan," desis Linxi dengan suara rendah yang mematikan. "Kau menghancurkan momen paling tenang dalam hidupku hari ini."
Huahai tidak mau kalah. Ia melepas topinya dan mengibaskannya ke arah Linxi. "Momen tenang apa? Kamu merangkulnya seperti sedang mengawal tahanan. Dia butuh kebebasan, bukan butuh 'termos' seperti kamu!"
Sementara itu, Mufan yang baru saja mendarat dari aksi lompatannya, mencoba berdiri tegak meski kumis palsunya sekarang sudah berpindah posisi ke dagu, membuatnya tampak seperti kambing gunung yang bingung.
"Kalian berdua sama saja," timpal Mufan sambil menunjuk keduanya dengan sisa keberaniannya. "Satu modal uang, satu modal tampang. Yueyue tidak butuh itu semua. Dia butuh perlindungan... yang tidak pakai acara tumpah-tumpah tepung!"
"Bos, itu kumisnya dibenerin dulu, estetikanya hilang," celetuk Gembul yang tiba-tiba muncul di samping Mufan sambil membawa payung untuk berjaga-jaga kalau ada hujan saus susulan.
Di dalam mobil mewah Linxi yang kini joknya sedikit putih karena tepung, Linxi duduk bersandar sambil memijat keningnya. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Feng.
"Gimana? Adekku aman? Ingat, jam lima sore teng."
Linxi menghela napas. Ia segera mengetik balasan: "Aman. Tapi sepertinya aku butuh stok paha ayam lebih banyak untuk besok."
Linxi melihat Yueyue di kursi penumpang yang sedang fokus pada kucing putihnya kemudian melajukan mobil mewah itu dengan hati-hati, memastikan gadis itu kembali ke kediaman Xiao dengan selamat.
Di sisi lain, Huahai sudah berada di dalam van pribadinya. Manajernya menjerit melihat wajah artis aset negaranya itu penuh tepung.
"Huai! Besok ada pemotretan majalah! Kenapa muka kamu jadi adonan bakwan begini?!"
Huahai hanya menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong yang dramatis. "Batalkan semua jadwal besok pagi. Aku harus pergi ke toko aksesoris kucing. Aku harus menemukan kado yang lebih baik daripada paha ayam."
***
Yueyue sampai di depan pintu rumahnya tepat pukul 16.55. Yifan sudah berdiri di teras dengan tangan bersedekap, sementara Feng sibuk mengunyah keripik sambil memegang stik game.
"Pulang juga akhirnya," ujar Yifan sambil memicingkan mata melihat rambut Yueyue yang sedikit putih. "Itu... uban? Atau kamu habis main di pabrik semen?"
"Ini salju terigu, Kak," jawab Yueyue lemas. Ia langsung masuk dan melempar tasnya ke karpet. "Hari ini aneh banget. Aku merasa kayak lagi dikelilingi tiga orang yang lagi ikut lomba jadi orang paling ribet sedunia,” ujar Yue kesal sambil masih memeluk Mochi, si kucing putih itu mengendus-endus bau tepung di bajunya. Yueyue membenamkan wajahnya di bulu lembut kucing itu.
"Cuma kamu yang normal, Mochi. Besok-besok kalau mereka datang lagi, kamu cakar aja ya?" bisik Yueyue.
Mochi hanya mengeong pelan, seolah setuju. Namun di balik jendela, sebuah sinar laser merah kecil tampak menari-nari di dinding taman—tanda bahwa Mufan dan Gembul masih berjaga di luar, memastikan tidak ada "termos" atau "artis belek" yang berani mengetuk pintu rumah keluarga Xiao malam itu.
***
Namun malam harinya, sekitar pukul tujuh, kediaman keluarga Xiao kedatangan tamu. Linxi kembali dengan penampilan yang sudah jauh lebih manusiawi—dan tentunya, sudah tidak lagi menyerupai adonan donat. Ia mengenakan kemeja biru navy yang sangat rapi, seolah ingin menghapus citra Tuan Muda Terigu yang menempel padanya sore tadi.
Yifan dan Feng menyambutnya di ruang tamu dengan tatapan yang lebih penuh selidik daripada tadi pagi.
“Wah, Linxi. Cepat sekali ganti kulit,” celetuk Feng sambil meletakkan stik game-nya. Ia memperhatikan Linxi dari ujung rambut sampai kaki. “Tadi sore pas kamu antar Yueyue, aku pikir kamu habis ikut lomba maraton di gudang sembako. Putih semua gitu.”
Linxi berdehem pelan, mencoba menjaga wibawanya. “Itu alasan saya kembali ke sini. Saya ingin minta maaf secara resmi kepada Yueyue dan kalian berdua. Kejadian tadi... sedikit di luar kendali.”
“Sedikit?” Yifan mengangkat alis. “Adikku pulang dengan rambut penuh tepung dan mengoceh soal Mas-mas Belek dan Pria Berkumis. Bisa kamu jelaskan kenapa kencan paha ayam berubah jadi festival bahan bangunan?”
Linxi menghela napas panjang dan mulai menceritakan kejadian di festival—mulai dari drone misterius yang menumpahkan terigu, kemunculan Huahai si artis yang sok heroik, hingga Mufan pria berkumis palsu aneh yang tiba-tiba melompat dari balik papan iklan.
Mendengar cerita itu, Feng bukannya marah, malah tertawa terbahak-bahak sampai tersedak keripiknya.
“Bentar, bentar...” Feng memegang perutnya. “Jadi maksudmu, ada artis terkenal kena tepung di wajah, dan ada ‘kambing gunung berkumis’ yang ngejar-ngejar kalian? Wah, harusnya aku ikut tadi! Ini lebih seru daripada nonton live streaming turnamen esport!”
Yifan tetap terlihat serius, tapi ada kilat kebingungan di matanya. “Huahai? Pewaris keluarga Huai itu? Ngapain dia ikut campur? Dan pria kumis itu... siapa lagi? Apa keluarga kita baru saja membuka lowongan jadi musuh publik?”
“Aku curiga,” Feng menimpali sambil mengelus dagunya sok berpikir. “Jangan-jangan mereka ini sebenarnya sekte pemuja Yueyue. Linxi pakai kemeja mahal buat nyogok kita, si artis modal muka, dan si kumis itu... mungkin dia modal nekat. Tapi serius, Linxi, kamu kalah saing sama tepung?”
Wajah Linxi sedikit memerah. “Saya hanya tidak ingin membuat keributan di depan Yueyue.”
“Alasan klasik,” Feng terkekeh. “Yifan, kayaknya kita harus pasang jebakan tikus di depan pagar. Siapa tahu besok bukan tepung yang datang, tapi kiriman semen satu sak atau truk pakan kucing.”
Linxi hanya bisa terdiam. Ia tahu, setelah ini, mendapatkan izin kencan lagi dari dua kakak “ajaib” ini akan jauh lebih sulit—atau setidaknya jauh lebih mahal harganya.
Sementara itu, di atas tangga, Yueyue sedang mengintip melalui celah pegangan tangga, masih memeluk Mochi.
“Tuh kan, Mochi,” bisik Yueyue. “Kak Linxi cerita soal tepung lagi. Kayaknya dia trauma sama gorengan.”
Mochi hanya mendengkur, sama sekali tidak peduli bahwa di luar sana, persaingan untuk mendapatkan hati majikannya sudah melibatkan tiga pria kelas berat dan sekarung terigu segitiga biru.
To be continued
Mengikuti kisah seru Linxi dan Yueyue di Festival Kuliner Dunia, saya jadi teringat pengalaman menghadiri festival makanan yang juga penuh dinamika tak terduga. Suasana yang ramai bercampur dengan berbagai aroma khas kuliner memang bisa membuat momen bersama orang tersayang jadi lebih berkesan. Dalam cerita ini, strategi Linxi yang mencoba mengamankan izin kencan sekaligus menjaga Yueyue memberikan gambaran menarik bagaimana usaha dan perhatian bisa tersampaikan lewat perhatian kecil seperti menggenggam tangan dan merangkul bahu, seakan menjadi "pemanas" alami yang membuat suasana jadi hangat. Pengalaman saya pribadi, sentuhan sederhana seperti itu sering menjadi tanda kasih yang lebih bermakna dibanding kata-kata. Namun, gangguan yang menghadirkan unsur komedi dari Mufan dan Gembul juga sangat mengingatkan bahwa tak selamanya usaha serius berjalan mulus. Tepung terigu yang menyelimuti Linxi hingga wajahnya berubah seperti donat goreng bisa diibaratkan dengan hal-hal tak terduga yang mungkin kita alami ketika sedang mencoba membuat momen spesial berlangsung sempurna. Terkadang, dari kejadian tak disengaja tersebut muncul tawa dan cerita yang lebih berkesan. Kehadiran karakter Huahai yang spontan dan "heroik" menambah warna pada kisah ini, menampilkan bagaimana persaingan pun bisa mengandung sisi humor dan kehangatan. Saya sendiri merasakan bahwa hubungan yang melibatkan banyak pihak dan berbagai karakter tentu punya tantangan tersendiri, tapi juga mengandung potensi momen menggelitik yang menyejukkan hati. Selain itu, unsur "drama" kecil seperti salju tepung terigu menggambarkan bagaimana festival kuliner bisa menjadi latar unik untuk kisah cinta dan persahabatan yang tidak terduga. Memiliki binatang peliharaan seperti Mochi juga memberikan sentuhan manis dan kenyamanan yang bisa menjadi pelipur lara saat situasi jadi terlalu ribet. Dari kisah ini saya bisa belajar bahwa kencan dan hubungan apapun membutuhkan kesabaran, strategi, serta humor. Kebersamaan yang hangat dan perlindungan bukan hanya soal materi, tapi juga kehadiran dan perhatian tulus. Jadi, kalau kamu pernah ataupun sedang mengalami dinamika dalam hubungan, jangan takut menghadapi gangguan kecil karena itu bisa menjadikan cerita kalian makin berwarna dan berkesan.


