Cerita Warga
*Tukang Kredit Keliling*
Jumat sore itu gerimis tipis. Seperti biasa, Mbak Jum (45) datang nggowes sepeda jengki-nya ke teras rumahku. Namaku Tutik, baru setahun aku nikah. Suamiku mas Adi, kuli panggul beras di Pasar.
Tagihan cicilan oven jadul warna perak yang kubeli minggu lalu. Oven itu lucu banget, bikin aku ingat Almarhumah Ibu yang sering banget bikin kue bolu bareng aku waktu kecil.
"Cicilan minggu ketiga, ya, Nduk," kata Mbak Jum dengan senyum khasnya, bibirnya pucat tapi ramah.
Aku bayar uang pas, lalu kami sempat ngobrol ringan soal kue. Semuanya masih sangat normal.
Sampai akhirnya, keanehan itu meledak di minggu keempat.
Mbak Jum datang lagi hari Jumat. Tapi kali ini, dia tidak bawa buku catatan cicilan oven. Di keranjang sepedanya kosong.
"Cicilan sisir, ya, Nduk. Lima ribu saja," kata Mbak Jum sambil tersenyum misterius.
Aku tertegun, bingung. "Ha? Sisir? Mbak Jum, saya gak pernah pesan sisir"
"Udah, cicil aja pelan-pelan," potongnya dengan suara pelan tapi mengikat.
Anehnya, lidahku keluh. Mau marah atau nolak rasanya gak bisa. Pas aku masuk ngambil dompet, tiba2 aja. Sisir usang yg penuh noda pewarna rambut sudah tergeletak di meja ku. Hmmm...
Aku keluar. Tanganku dengan kaku merogoh dompet dan menyerahkan uang logam.
Minggu kelima, datang lagi menagih pembayaran kredit rak piring tua berkarat. Yg tiba2 lagi sudah ada di dapur.
Minggu keenam, kursi kayu lapuk yang reyot. Setiap kali dia datang, rasanya aku tersihir. Gak bisa nolak, gak bisa teriak, hanya menuruti semua perkataannya seolah itu barang-barang bekas yg berharga dari masa lalu dan harus kubeli.
Rumahku penuh barang rongsokan tak berguna.
Karena ketakutan dan penasaran setengah mati, hari Selasa kemarin aku nekat mencarinya ke desa sebelah. Desa Watu Gedhe, tempat tinggal Mbak Jum yang sering dia ceritakan.
Aku bertanya pada seorang ibu paruh baya yang sedang menyapu halaman dekat balai desa.
"Mbak Jum? Mbak Jum tukang kredit keliling?" Dia keheranan dgn pertanyaanku.
Ibu itu berhenti menyapu. Wajahnya langsung pucat seketika, menatapku ngeri.
"Mbak Jumitu udah meninggal, Nduk! Tujuh tahun lalu..."
Jantungku rasanya copot. "H-ha? Meninggal?"
"Iya! Dia dibunuh perampok di rumahnya sendiri. Yang merampok itu Adi pemuda desa sebelah, kabarnya dia sudah bebas. Dan barusan nikah..."
Darahku mendadak dingin. Suara ibu itu seperti menjauh. Suamiku?
Seketika bayangan suamiku yang bekerja sebagai kuli panggul. Dan aku memang gak tau apa profesinya sebelum menikahi ku.
Wajah suamiku membunuh mbak Jum. Berkelebat di kepalaku. Barang-barang rongsokan yang ditagih Mbak Jum padaku... ternyata adalah barang-barang milik Mbak Jum yg dirampok dan dibunuh suamiku sendiri.
Dari ujung jalan desa, sayup-sayup terdengar suara dering lonceng sepeda jengki. Dan suara lirih memanggil namaku...
#kontenhoror #ceritawarga #tukangkreditkeliling #cerpenhoror #bismillahfyp



































































wah, Mbak. sungguh mencekam. suami sendiri membunuh tukang kredit. 👍👍👍