BIARKAN AKU PERGI (14)
Membalas
“Nabila, gimana perkembangan pekerjaanmu?” tanyaku saat aku pulang ke rumah Nabila. Meski tidak menginap, aku tetap rutin menyambangi rumah keduaku itu.
Satu bulan berlalu sudah, dan aku belum mendapatkan kabar apakah Nabila sudah mendapatkan pekerjaan.
Paling tidak, dengan dia bekerja ada aktifitas lain selain seharian hanya di rumah dan tidak produktif. Apalagi dia suka berbelanja. Ditambah sekarang ada ART, tentu saja pengeluaran juga bertambah.
Dulu, aku tak sampai berpikir sedetail ini. Jika ada dua rumah, berarti pengeluaran dua kali lipat. Apalagi dengan kenyataan kalau pengeluaran Nabila jauh lebih besar dari pengeluaran Fahira. Tentu saja kepalaku semakin berdenyut.
“Sebenarnya sudah ada beberapa panggilan. Tapi, aku tidak cocok. Gajinya terlalu kecil,” keluhnya.
Aku hanya menghela nafas. Memang bagi seseorang yang sudah tahu uang, dia akan bisa mendefinisikan gaji besar dan kecil. Apalagi Nabila termasuk yang boros. Beda dengan lulusan fresh graduate yang biasanya masih mau kerja dengan gaji standard karena masih idealis mencari pengalaman.
“Sudahlah, tidak perlu terlalu idealis. Yang penting cukup buatmu dulu,” nasehatku.
Aku sendiri menuntut dia segera dapat pekerjaan, karena aku tak yakin akan dapat bertahan berapa lama. Ditambah papa dan mamanya yang juga ikut tinggal bersamanya, tentu menambah beban hidup Nabila.
Apakah aku menantu yang jahat? Apakah aku kurang ajar? Mungkin iya. Tapi seandainya aku tahu sebelum aku menikahinya, mungkin aku sudah menyiapkan mental dan mengerti kondisi ini.
Ah, lagi-lagi memang semua ini karena aku buta oleh cinta. Hingga otakku tak dapat berpikir dengan logika.
--
Pagi ini keinginanku sudah bulat. Setelah pertemuanku dengan Faisal kemarin, aku sudah berfikir ulang. Mungkin Faisal tahu banyak hal tentang Fahira. Aku harus membuang jauh-jauh rasa gengsi dan harga diri. Kecuali Faisal akan mengambil Fahira dariku!
Sudah satu bulan lebih aku tak tahu kabar Fahira. Suami macam apa aku ini?
Waktu terus berjalan. Aku takut dengan berjalannya waktu, ada alasan bagi Fahira untuk menggungatku karena kewajiban yang tak dapat kutunaikan. Tidak! Aku tidak mau.
Pagi itu, masih jam kerja. Tapi, tugasku sudah selesai. Aku ijin ke atasanku untuk ke ruangan Faisal.
Divisi dia hanya berbeda lantai dengan divisiku. Dengan sedikit ragu, aku masuk ke ruangan kerja Faisal.
Sebenarnya, baru kali ini aku menginjakkan kaki di ruangan ini. Selain tak pernah ada urusan dengan divisinya Faisal, aku pun tak punya teman yang ada di ruangan ini.
Setelah bertanya pada salah satu staf yang duduknya paling ujung dekat pintu, aku segera bergegas berjalan ke arah kubikel di mana Faisal bekerja.
“Datang juga kamu,” ujarnya dingin.
Melihatku datang, dia langsung mengambil kursi lipat dan membukanya untukku.
Aku duduk di sebelahnya setelah sementara dia menutup layar pekerjaannya dan menggantikan layarnya dengan tampilan salah satu media sosial.
Untungnya, pekerjaan dia tidak lagi sibuk, sehingga saat aku datang begini, dia agak leluasa.
Setelah dia berselancar sejenak, sebuah akun medsos milik seseorang yang entah siapa, dibukanya. Mungkin punya teman Faisal, atau teman Fahira. Entahlah.
“Lihat!” ujarnya sambil menunjukkan sebuah foto yang terdiri dari beberapa orang di sana. Sepertinya acara resmi. Sebagian besar mereka memakai baju batik.
Aku masih tidak mengerti apa maksudnya sampai Faisal menunjuk salah satu wanita yang berpose di barisan belakang.
Mataku serta merta membulat. “Fahira?”
BERSAMBUNG
Baca selengkapnya di KBM app
Judul: BIARKAN AKU PERGI
Penulis: ET. Widyastuti




















































