BIARKAN AKU PERGI 4
4
“Aku kangen ayah, Mas. Boleh, ya aku kesana? Nanti aku bilang ke Ayah kalau kamu sedang sibuk.”
Aku berusaha bernegosiasi. Aku punya banyak rencana. Misiku ketemu Ayah dan Ibu harus berhasil sebelum aku pergi.
“Baiklah. Nanti kamu kabari aku ya kapan kamu berangkat. Biar aku telpon Ayah untuk minta ijin kalau aku tidak bisa mengantarmu. Sudah kamu tidak usah sedih,” sahutnya.
Aku lega.
Tanpa sadar aku langsung menghambur ke pelukannya. Aku tak peduli lagi dengan perasaannya padaku. Aku harus memeluknya. Bisa jadi ini pelukan terakhirku.
“Mas, aku minta maaf ya, jika aku selama ini banyak salah,” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Aku benar-benar merasa ini adalah hari terakhirku bersamanya.
“Kamu ini. Kayak aku nggak pernah keluar kota saja,” ujarnya sambil melepaskan pelukanku. Kepalanya menggeleng. Sebuah senyum tersungging. Tangannya lalu menjawil daguku.
Ah, sungguh dia memperlakukanku teramat manis.
“Kamu mau makan malam di luar nanti?” tanya Mas Bayu.
”Ma-kan malam?” Aku balik bertanya tak percaya.
Mas Bayu jarang mengajakku keluar makan atau jalan-jalan. Aku lebih banyak menghidangkan masakanku kepadanya dibanding makan di luar.
Kini aku baru sadar, apakah Mas Bayu merasa tak nyaman jalan bersamaku? Sehingga dia memilih menghabiskan waktu di rumah di banding jalan di luar sebagaimana pasangan muda yang berpacaran?
**
Kami duduk di salah satu bangku di sebuah restoran Jepang. Mas Bayu tampak sudah terbiasa makan di sini. Tapi aku justru merasa tersanjung karena Mas Bayu beberapa kali melayaniku dan menawariku ini itu. Sedangkan aku, memilih duduk manis sambil melihatnya yang berlaku manis padaku.
Aku menikmati makanan sambil ngobrol dengan Mas Bayu. Obrolan ringan. Mas Bayu sebenarnya orangnya asyik diajak ngobrol. Hanya saja memang dua tahun pertama kami masih banyak penyesuaian.
Tiba-tiba raut muka Mas Bayu sedikit berubah. Aku pura-pura tidak tahu dengan perubahan roman mukanya sambil terus berusaha berbicara. Tapi, di menit berikutnya seseorang datang menghampiri kami.
Belum sempat laki-laki itu mendekat, Mas Bayu sudah memberiku kode untuk segera beranjak.
Sekilas aku melihat pria itu menatapku. Tapi, aku merasa tak mengenalnya. Lebih baik, aku mengikuti Mas Bayu.
“Kenapa, Mas? Kok buru-buru?” tanyaku saat kami sudah di mobil.
“Sudah malam, Ra. Besok aku berangkat pagi-pagi. Kamu juga harus kerja, 'kan?” elak Mas Bayu.
Hal ini membuatku sedikit curiga. Namun, sudah lah. Besok aku juga mau pergi. Pergi selamanya dari hidupmu.
**
Pagi-pagi, Mas Bayu sudah rapi.
“Mas, kamu keluar kota pakai mobil?” tanyaku saat melihat Mas Bayu meletakkan tasnya di bagasi mobil.
Biasanya jika keluar kota, dari rumah Mas Bayu pergi dengan taksi. Tetapi, hari ini kenapa dia membawa mobil?
Mas Bayu terlihat sedikit gugup.
“Nanti bareng temen, Ra. Aku titipin di rumah teman mobilnya,” terangnya dengan nada datar. Meski aku bisa membaca dia tengah menutupi sesuatu.
Setelah kepergian Mas Bayu, aku segera masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap.
Aku sengaja menunggu Mas Bayu berangkat ke luar kota untuk mempersiapkan semuanya.
Semua dokumen penting kumasukkan dalam tas. Aku tak berniat membawa dokumen apapun milik Mas Bayu. Bahkan, buku rekening pemberiannya sengaja kutinggalkan.
Baca selengkapnya di KBM app
Judul: BIARKAN AKU PERGI
Karya: ET. Widyastuti

























































