BIARKAN AKU PERGI 13
Membalas
Hari berganti minggu. Aku tak juga menemukan di mana Fahira berada. Percuma aku susuri mall atau pusat perbelanjaan, karena dia tak mungkin ada di sana. Mertua dan kakak iparku pun enggan mengangkat teleponku. Bahkan membalas pesan singkatku pun tidak mau. Di medsos pun aku tidak mendapatkan jejaknya. Fahira seperti hilang di telan bumi.
Sementara dengan Nabila hubunganku pun tidak berjalan mulus. Aku sudah tak lagi terobsesi seperti dulu. Bahkan, aku tak pernah punya hasrat mendekatinya. Aku hanya fokus mencarikan dia pekerjaan agar dia tidak terlalu tergantung padaku.
Tentang uang bulanan. Aku masih mentransfer uang buat Fahira meskipun dia meninggalkan ATM dan buku tabungannya. Aku harap dia masih menggunakan internet banking atau mobile banking di ponselnya, meski aku juga tak yakin dia masih mau menggunakannya. Begitu naifnya aku.
Aku tahu, pasti Fahira sangat kecewa. Akupun ingin menebus sakit hati yang dia rasakan itu. Jika saja dia ada di depanku, pasti aku akan tanyakan apa maunya dan meluluskan semua keinginannya, agar aku bisa menebus semua kesalahanku ini.
Sejak kehilangan Fahira, konsentrasi kerjaku pun menjadi amburadul. Aku sering ditegur oleh atasanku karena penyelesaian pekerjaan yang lambat.
“Aku mau kasih tahu di mana Fahira, asal kamu janji satu hal.” Tiba-tiba Faisal sudah berdiri di depan meja kerjaku.
Sepupu jauhku ini bekerja di divisi yang berbeda namun di kantor yang sama denganku. Aku jarang berinteraksi juga dalam urusan pekerjaan dengannya.
Yang aku tak mengerti, mengapa dia begitu peduli dan selalu turut campur perihal hubunganku dengan Fahira. Satu hal yang kutahu, mereka hanya satu almamater tapi beda angkatan.
Bahkan aku tak yakin Fahira mengenalnya. Buktinya, saat Faisal mendekati kami malam itu, Fahira bahkan bertanya, siapa dia? Aku yakin, Fahira tidak terlalu banyak memperhatikan pria-pria kakak angkatannya saat kuliah dahulu.
Faisal berlalu dari mejaku seperti memberi kode agar aku mengikutinya. Dia berhenti di lorong dekat tangga darurat. Tangga yang menghubungkan satu lantai dengan lantai lainnya, sebagai alternatif melalui lift.
“Aku sudah melacak di mana Fahira. Aku akan beritahukan padamu, tapi aku mohon, jangan sakiti Fahira,” ancam Faisal.
Aku menciutkan mataku untuk menajamkan pandangan padanya. Ingin rasanya kutarik kerah kemejanya karena dia tak juga berhenti mencampuri urusanku.
“Apa maksudmu?” tanyaku dengan suara tertahan.
Di lorong ini suara dapat menggema. Aku takut suaraku bisa terdengar oleh kolega kantorku yang lalu lalang. Bahkan, mereka pun kini sudah tahu kalau aku sedang dalam masalah. Beberapa kali atasanku menegur karena kinerjaku yang berantakan.
“Lepaskan salah satu, atau kamu tak akan mendapatkan keduanya.” Faisal berujar dengan penuh penekanan. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkanku.
Kuhembuskan napas dengan kasar saat dia sudah menghilang dari ujung lorong.
Punggung kusandarkan pada tembok, sementara mata kupejamkan sejenak. Diam-diam, aku mencerna ucapan Faisal.
Bisa jadi Faisal memang menaruh hati pada Fahira dan Fahira tidak pernah mengetahuinya, atau lebih tepatnya tidak memedulikannya.
Jika iya, akan lebih mudah bagi Faisal mendapatkan Fahira kini. Dia sudah memegang beberapa kartu As ku.
Bisa jadi memang Faisal mengetahui keberadaan Fahira melalui jaringan teman-teman kampusnya.
Aku yakin, Faisal pasti kenal satu dua teman seangkatan Fahira.
Atau, bisa jadi dia mengenal juga teman Fahira saat ini.
Tapi, apa maksud perkataan Faisal? Tidak menyakiti Fahira? Melepaskan salah satu? Apa maksudnya aku tak akan mendapatkan kembali Fahira jika kau masih bersama Nabila?
Bersambung
Baca selengkapnya di KBM app
Judul: BIARKAN AKU PERGI
Nama Penulis: ET. Widyastuti





















































