Kau mau Suamiku, Ambil!
"Aku sudah bilang Mas, aku tidak bisa dan tidak mau!", teriak Irma dengan wajah memerah.
"Tapi Ir, kamu nggak bisa seenaknya dong!"
"Apa katamu Mas, aku seenaknya?!", mata Irma nyalang menatap Hendra yang berdiri kaku di depannya.
Napas Irma naik turun, kedua tangannya terkepal erat disamping badannya. "Aku ini istri mu Mas, sah secara agama dan negara, tapi kamu .... Kamu selingkuh!!",
Hendra membeku, kepala nya tertunduk. Apa yang di katakan istrinya memang benar, dia selingkuh.
"A-aku khilaf Ir, maafkan aku", suara Hendra lirih tapi membuat Irma semakin meradang.
"Khilaf katamu?!", khilaf macam apa sampai kalian ada di r a n j a n g yang sama!!", pekik Irma dengan suara bergetar. Tak mampu lagi membendung air mata.
"Itu ... I-itu tidak benar Ir, tidak seperti itu ....", Hendra mengangkat kepala, menatap Irma yang berdiri dengan gemetar.
Irma tertawa dalam tangis, menatap lekat suaminya. "Kalau itu tidak benar, sekarang katakan apa yang menurutmu benar!".
Hendra tercekat, lidahnya kelu. Menarik kursi yang ada di sampingnya, Hendra duduk dengan lemas. Semua yang dikatakan Irma tidak bisa dia bantah. Perselingkuhannya dengan seorang gadis muda, yang katanya tidak sengaja nyatanya malah membawa rumah tangga mereka diambang kehancuran.
"Aku tetap pada keputusanku, ce rai kan aku!", kata Irma tegas dengan suara parau. Dia menyeka air mata dengan punggung tangan.
Hendra terperangah, sontak berdiri mendekat pada Irma, menarik Irma dalam pe lu kan nya. "Aku mohon Ir, pikirkan semua baik-baik", bisik Hendra.
"Tidak!", Irma menjawab sambil melepaskan diri dari dekapan Hendra.
Wajah Hendra memelas, memohon pada Irma. Tapi wanita itu sudah terlanjut kecewa dan terluka. Semua karena kebodohannya.
"Silakan urus di pengadilan Mas, aku siap kapanpun!", getir suara Irma, tapi ada ketegasan di sana. Dia berbalik menuju kamar. Menutup pintu rapat-rapat. Menutup telinga meskipun Hendra terus memanggilnya.
Tubuh Hendra melorot di dinding, terduduk di lantai yang dingin. Kedua tangannya mengacak rambut di kepalanya.
"Argh..b o d o h!", umpatnya sendiri. Hendra menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Menghembuskan napas kasar, Hendra merutuki dirinya sendiri. Hingga tiba-tiba terdengar keributan dari depan rumahnya.
"Saya mau ketemu Mas Hendra, lepas!", suara teriakan seorang gadis membuat Hendra berlari.
"Pak Hendra baru sibuk, tidak bisa di ganggu!", bentak satpam penjaga rumah. Kedua tangannya memegangi Dita yang terus berusaha masuk ke dalam rumah.
"Aku Dita, kekasih Mas Hendra, aku mau ketemu!", gadis yang mengaku bernama Dita itu terus berteriak dan meronta.
Hendra yang tiba di teras, terkejut, jantungnya seperti berhenti memompa oksigen, mematung melihat gadis muda selingkuhannya kini berada di rumah.
"Mas Hendra...tolong aku Mas!",
"Eh..ngapain sih teriak-teriak!", bentak Satpam sambil terus memegang tangan Dita.
"Lepasin!", Dita menyentak keras hingga terlepas. Kemudian berlari ke arah Hendra yang masih berdiri di teras rumah.
Dibelakangnya seorang satpam mengejar Dita yang kini sudah berada di depan Hendra.
"Mas Hendra, aku kangen", Dita menghambur me me luk suami Irma tanpa tahu malu. Hendra nyaris terhuyung ke belakang.
Satpam yang mengejar Dita, langsung berhenti dengan mata terbelalak. Mulutnya terbuka hendak bicara tapi Hendra segera menyuruhnya pergi.
"Kamu ngapain ke sini!!", bentak Hendra sambil mendorong Dita agar melepaskan pelukannya. Dada Hendra naik turun menahan amarah. "Sudah aku bilang, jangan pernah datang ke rumahku!!", kata Hendra sambil mendekatkan wajahnya pada Dita. Membuat gadis itu tersentak.
"Mas Hendra kenapa marah-marah sih, aku kan cuma kangen", jawab Dita merajuk manja. Tangannya terulur hendak meraih tangan Hendra.
"Pergi sana!", tepis Hendra kasar.
Mata Dita melebar, terkejut dengan reaksi Hendra. Berusaha mendekat tapi....
"Oh...bagus...ada p e l a k o r yang tidak tahu malu di sini!", suara Irma membuat Hendra langsung berbalik. Wajahnya memucat, Irma berjalan dengan kepala terangkat.
"Dia istri kamu Mas?", bisik Dita. Dia merapatkan diri nya pada Hendra.
"Kamu selingkuh dengan gadis ini Mas?!", sinis sekali suara Irma.
"Ir ... Dengarkan aku dulu", potong Hendra cepat sambil mendekati Irma.
"Berhenti di situ Mas, jangan coba-coba mendekat!" Sahut Irma sambil menunjuk ke arah Hendra.
Irma menatap gadis muda yang berdiri di belakang suaminya. Gadis itu memakai celana jeans dipadu dengan kemeja yang longgar. Tas selempang bermerek terkenal di pegangnya kencang wajahnya pias. Irma tahu, gadis itu sedang ketakutan.
"Jadi...siapa namanya?!", tanya Irma ketus.
Hendra terdiam sesaat, menoleh pada Dita yang tertunduk.
"Ir .... Kita bicara di dalam saja ", ucap Hendra. Tapi tangan Dita langsung melingkar di lengan Hendra.
"Lepas Dita, apa-apaan sih!", Hendra menepis tangan Dita.
Dari dalam rumah Irma tertawa getir melihat seorang gadis dengan tidak tahu diri menempel pada suaminya.
"Tidak perlu Mas, urus saja selingkuhanmu itu!", kata Irma sambil berbalik.
"Ir, Irma dengarkan aku dulu", Hendra menarik tangan istrinya. Sementara Dita menghentakkan kaki kesal. Wajahmya cemberut melihat Hendra.
"Apa lagi!", tatap Irma tajam. Hendra menelan ludah sebelum bicara.
"Dia bukan siapa-siapa Ir, aku .... Sudah memutuskannya", kata Hendra.
Irma tertawa tipis, "bukan siapa-siapa kok nempel begitu!",
Hendra meraup wajah, tidak bisa membela diri. Situasinya memang tidak menguntungkan bagi Hendra. Kedatangan Dita sudah pasti membuat Irma semakin sulit dibujuk untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
"Tidak perlu penjelasan apa-apa lagi, kita sudah selesai!", kata Irma lagi. "Usir gadis itu dari rumah ini, atau silakan kamu ikut pergi dari sini!",
🔥🔥🔥🔥
Judul : Kau mau Suamiku, Ambil!
Penulis : erni_widja
Aplikasi KBM













































