Kau mau Suamiku, Ambil
Dita terhuyung ke belakang seolah baru saja ditampar dengan keras. Sejujurnya ia mengharapkan penyangkalan, atau setidaknya permohonan agar Hendra tidak meninggalkannya.
Namun, jawaban singkat suaminya malah membuatnya ketakutan.
“Semudah itu?” Dita tertawa, tapi suaranya terdengar sumbang dan pecah. Air matanya tak henti mengalir, “Kamu mengiyakannya semudah itu, Mas?”
"Bukankah memang ini yang kamu mau Dita?, bukankah kamu yang lebih dulu menggugat ku?." Jawab Hendra pelan.
Hendra menunduk, tak sanggup menatap mata istrinya yang “Tidak ada gunanya kita saling menyakiti lagi, Dita. Kamu berhak bahagia, maafkan aku, karena kamu tidak mendapatkannya bersamaku.”
“Bahagia?” Dita memekik, suaranya melengking memenuhi ruang makan yang sunyi itu. Ia menyambar taplak meja di sampingnya, menariknya dengan kasar hingga vas bunga di atasnya jatuh dan pecah berantakan di lantai.
PRANG!
Irma tersentak kaget, tubuhnya gemetar hebat. Arman dengan sigap merangkul bahu Irma, menariknya mundur menjauh dari pecahan beling dan dari jangkauan amarah Dita.
“Cukup!” suara Arman menggelegar, mendominasi ruangan.
Ia menatap Hendra dengan sorot mata tajam yang penuh peringatan. “Urusan rumah tanggamu, selesaikan sendiri. Jangan bawa-bawa Irma lagi, kalian sudah tidak hubungan apapun!."
Hendra menoleh, tatapannya beralih pada Irma. Ada kerinduan, penyesalan, dan kepedihan di sana. Ia melangkah maju satu langkah, tangannya terulur seolah ingin meraih wanita masa lalunya itu.
“Irma, aku...."
“Jangan sentuh dia,” potong Arman dingin. Ia berdiri di antara Hendra dan Irma, menjadi tembok penghalang yang kokoh.
Sementara Arman membawa Irma keluar dari rumah, Dita ambruk ke lantai. Kakinya tak lagi kuat menopang tubuh. Ia menangis meraung, menumpahkan segala rasa sakit, malu, dan kecewa yang selama ini ia pendam di balik sikap angkuh dan posesifnya.
Hendra berdiri kaku di tengah ruangan, dikelilingi oleh pecahan kaca dan suara tangisan istrinya. Ia menoleh ke arah pintu, melihat punggung Irma yang semakin menjauh, dilindungi oleh lengan kekar Arman.
Pemandangan itu menyadarkannya pada satu kenyataan pahit Ia tidak hanya kehilangan Dita malam ini, tapi ia juga telah benar-benar kehilangan kesempatan sekecil apa pun itu untuk kembali pada Irma.
Hendra menarik napas panjang, dadanya terasa sesak. Ia perlahan berlutut di dekat Dita, bukan untuk memeluknya, tapi untuk menghadapi konsekuensi dari perbuatannya.
“Maafkan aku, Dita,” bisik Hendra, suaranya parau.
Dita mendongak, matanya merah menyala menatap suaminya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mendorong dada Hendra kuat-kuat.
“Pergi." desis Dita. “Pergi dari sini! Keluar dari hidupku! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!”
🔥🔥🔥🔥
Judul : Kau mau Suamiku, Ambil!
Penulis : Erni_widja
Aplikasi KBM
































































