Kau mau Suamiku. Ambil!
"Bagaimana, Joko? Apa kamu sudah membereskan urusan aset Irma?." tanya Dita dengan nada tak sabar, tangannya memutar cangkir kopi di atas meja.
Joko terlihat gelisah. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf, Bu Dita. Sepertinya rencana kita gagal total."
Dita menghentikan gerakan mengaduknya, ia menatap Joko dengan sorot mata tajam. Gurat kemarahan terlihat jelas di wajah cantiknya. Ia menggeser cangkir kopi nya dengan sedikit kasar.
"Apa maksudmu gagal total!." Matanya melebar. "Bukanlah aku sudah memberimu salinan dokumen nya?!.", katanya lirih tapi penuh rasa marah.
"Benar, Bu. Tapi saat kami mencoba memprosesnya, ternyata semua dokumen legalitas aset Irma sudah diurus ulang dan diamankan oleh pengacara pribadinya," jelas Joko, suaranya sedikit bergetar.
"Semua sudah sah dan terdaftar atas nama Irma, bahkan termasuk beberapa aset yang dia dapat dari Pak Hendra dulu. Tidak ada celah sedikit pun untuk mengambil alihnya."
Dita mengepalkan tangan di bawah meja. Wajahnya memerah karena kecewa dan marah. Rencananya untuk membuat Irma ikut merasakan kesulitan dan membalas dendam karena telah ikut campur masalah gugatannya kini berantakan.
"Pengacara itu lagi!" desis Dita.
"Namanya Arman, Bu. Dia sangat teliti dan cepat. Sepertinya Irma sudah mencium gelagat tidak baik, makanya dia langsung bertindak," tambah Joko, mencoba meredakan amarah Dita.
Dita menyandarkan punggung ke kursi, napasnya memburu. Uang yang sudah ia keluarkan untuk membayar Joko terasa sia-sia. Ia harus memutar otak. Kehadiran Irma dalam kasus perceraiannya dengan Hendra membuatnya semakin khawatir.
"Baiklah, Joko. Lupakan soal aset Irma. Sekarang fokus ke rencana selanjutnya," kata Dita, kembali memasang wajah tenang, walau di dalam hatinya ada amarah yang ia tahan agar tidak meledak.
"Aku tidak mau tahu! aku harus menang dan mendapatkan semua yang aku mau."
Joko mengangguk, "Siap, Bu Dita. Akan saya kerjakan secepatnya."
Tiba-tiba, ponsel Dita bergetar di dalam tasnya. Ia mengambilnya dan melihat nama Hendra tertera di layar. Wajah Dita langsung berubah dingin. Ia segera menekan tombol jawab, sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Ada apa?" tanya Dita dengan nada ketus.
Suara Hendra terdengar berat dari seberang telepon. "Dita, batalkan semua gugatan mu. Aku tidak akan memberimu sepeser pun jika kamu terus bersikap seperti ini."
Dita tertawa sinis. "Oh, ya? Setelah apa yang aku korbankan untukmu selama ini? Jangan bermimpi, Hendra. Aku akan mendapatkan apa yang pantas kudapatkan, dan aku akan pastikan kamu menyesal!"
"Kamu mengancam ku?" Suara Hendra meninggi, menunjukkan kemarahan yang tertahan. "Aku sudah memberikan apa yang kamu mau Dita. Jangan libatkan Irma atau siapapun dalam urusan ini! Jika kamu berani menyentuhnya atau asetnya, aku akan pastikan kamu tidak mendapatkan apa-apa!."
Mendengar nama Irma disebut lagi, amarah Dita semakin memuncak. Ia mengepalkan tangan yang memegang ponsel hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kamu masih saja mementingkan mantan istrimu, Mas!." balas Dita dengan suara rendah dan penuh ancaman.
"Aku tidak akan berhenti sampai aku mendapatkan semuanya!?", bentaknya.
Ia langsung memutus sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Hendra. Dita meletakkan ponselnya di meja dengan keras, pandangannya kembali tertuju pada Joko.
"Dengar, Joko," kata Dita, suaranya walaupun tenang, tapi penuh tekanan. "Aku tidak mau tau bagaiamana caranya. Aku harus mendapatkan hak asuh Aruna, juga harta gono gini dari Hendra!."
🔥🔥🔥
Judul : Kau mau Suamiku, Ambil!
Penulis: erni_widja
Aplikasi KBM

































