Lemon8Komunitas gaya hidup

Send To

Line
Facebook
WhatsApp
Twitter
Salin tautan

Dapatkan pengalaman lebih lengkap di aplikasi

Temukan lebih banyak postingan, hashtag, dan fitur di aplikasi.

Buka Lemon8
Buka Lemon8
Buka Lemon8
Jangan sekarang
Jangan sekarang
Jangan sekarang
  • Kategori
    • Untuk Anda
    • Beauty
    • Skincare
    • Fashion
    • Travel
    • Food
    • Home
  • Versi aplikasi
  • Bantuan
  • Indonesia
    • Indonesia
    • 日本
    • ไทย
    • Việt Nam
    • Malaysia
    • Singapore
    • US
    • Australia
    • Canada
    • New Zealand
    • UK
Situs web resmiKebijakan privasiPersyaratan LayananCookies Policy
ISTRIMU AKU, BUKAN DIA
Lampu kamar rawat Adelia sudah redup, Adelia membuka mata perlahan. Memandang sekeliling kamar yang sepi. Tidak siapapun selain dirinya. Suara mesin monitor jantung berdetak stabil, menjadi satu-satunya irama di ruangan itu. Adelia menggeliat pelan. Alisnya berkerut, napasnya terasa lebih berat da
Erni widja

Erni widja

0 suka

ISTRIMU AKU, BUKAN DIA
Davina tersenyum tipis. "Buka matamu, Arka. Sebelum semuanya terlambat." Keheningan menggantung di antara mereka. Di luar ruangan, suara aktivitas kantor terdengar samar, seolah berasal dari dunia lain. Arka melangkah mundur, dadanya terasa berat. Untuk pertama kalinya, keraguan itu b
Erni widja

Erni widja

0 suka

ISTRIMU AKU, BUKAN DIA
"Del, tolong aku," suara Maira serak. Adelia tertawa pahit, tangannya masih memegang gagang pintu dengan kuat. "Tolong kamu? Setelah semua yang kamu lakukan, kamu punya muka untuk datang ke sini?" "Apa Arka disini Del?. Dia tidak menjawab teleponku. Dia marah karena masal
Erni widja

Erni widja

0 suka

Kau mau Suamiku, Ambil!
“Irma, aku… ini bukan seperti yang kamu kira,” gumamnya, lemah. “Lalu seperti apa, Mas? Apakah ini project meeting khusus dengan dia? Apakah kehamilannya juga bagian dari proyek kantor?” suara Irma tenang, tapi setiap kata seperti silet. "Baru kemarin kamu dan ibu mu memintaku membantu pe
Erni widja

Erni widja

1 suka

Kau mau Suamiku, Ambil!
"Siapa yang melakukan siapa yang bertanggung jawab", kata Irma tegas. “Tidak semua bisa selesai dengan kata maaf Mas, tapi siapapun yang melakukan pasti harus bertanggung jawab. Aku sudah menyerahkan semuanya pada pengacaraku". Suasana kembali senyap. Hanya terdengar hembusan nap
Erni widja

Erni widja

1 suka

Menikahi Anak Majikan
Malam terasa begitu panjang bagi Rahayu. Setelah Bagas pergi dengan nada marah, ia duduk terdiam di ruang tamu. Suara jam dinding terdengar begitu jelas, seolah mengejek kesepiannya. Di kepalanya, kata-kata Bagas terus terulang, "Malu punya ibu yang merendahkan orang lain… bahkan Ibu sekal
Erni widja

Erni widja

0 suka

Menikahi Anak Majikan
Sumi menutup pintu setelah Bagas pergi ke kantor. Karena tinggal sendiri, Bagas berpesan agar Sumi selalu mengunci pintu. Tidak menerima tamu yang tidak dia kenal. Sumi menuruti perintah Bagas, karena itu dia langsung mengunci pintu setelah suaminya pergi. Tidak disadari Bagas jika ada seseoran
Erni widja

Erni widja

0 suka

Kau mau Suamiku, Ambil!
Dita terdiam. Diam yang panjang. Ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Lalu perlahan Dita mengambil sesuatu dari tasnya, yang mengejutkan Irma. Sebuah kotak kecil beludru hitam. Irma menatapnya bingung. “Apa itu?” Dita membuka kotaknya. Di dalamnya ada sebuah cincin, dan Irma mengena
Erni widja

Erni widja

0 suka

Menikahi Anak Majikan
BRAK!! Semua yang sedang berada di ruang kerja Bagas sontak menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar. Rahayu dengan sorot mata tajam memandang Bagas yang sudah berdiri di balik meja kerja nya. "Ibu .... ", gumam Bagas lirih. Rahayu berjalan ke arah Bagas. Sorot mata nya tetap taj
Erni widja

Erni widja

1 suka

Kau mau Suamiku, Ambil
Dita terhuyung ke belakang seolah baru saja ditampar dengan keras. Sejujurnya ia mengharapkan penyangkalan, atau setidaknya permohonan agar Hendra tidak meninggalkannya. Namun, jawaban singkat suaminya malah membuatnya ketakutan. “Semudah itu?” Dita tertawa, tapi suaranya terdengar sumbang
Erni widja

Erni widja

2 suka

Kau mau Suamiku. Ambil!
"Bagaimana, Joko? Apa kamu sudah membereskan urusan aset Irma?." tanya Dita dengan nada tak sabar, tangannya memutar cangkir kopi di atas meja. Joko terlihat gelisah. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf, Bu Dita. Sepertinya rencana kita gagal total." Dita menghentik
Erni widja

Erni widja

1 suka

Kau mau Suamiku, Ambil!
“Dita…” gumamnya lirih. Dota tersenyum sinis, "kenapa Irma, kamu takut?." “Akhirnya… kita bisa bicara tanpa gangguan,” ucap Dita pelan, namun penuh ancaman. Dita melirik Irma dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu berdecak lirih. "Kamu cantik, kaya. Pemilik perusahaan besar
Erni widja

Erni widja

2 suka

Menikahi Anak Majikan
Pukul 09:55 pagi. Bagas sudah duduk di sudut kafe tempat ia dan Nadia pernah bertemu di awal kerjasama. Ia mengenakan setelan jas abu-abu, dari sikapnya ia terlihat tegang. Bagas sengaja memilih meja di sudut agar percakapan mereka tidak menarik perhatian. Tapi sebelum ia berangkat, Bagas mengi
Erni widja

Erni widja

1 suka

Kau mau Suamiku, Ambil!
"Aku sudah bilang Mas, aku tidak bisa dan tidak mau!", teriak Irma dengan wajah memerah. "Tapi Ir, kamu nggak bisa seenaknya dong!" "Apa katamu Mas, aku seenaknya?!", mata Irma nyalang menatap Hendra yang berdiri kaku di depannya. Napas Irma naik turun, kedua tang
Erni widja

Erni widja

3 suka

Sumi menutup pintu setelah Bagas pergi ke kantor. Karena tinggal sendiri, Bagas berpesan agar Sumi selalu mengunci pintu. Tidak menerima tamu yang tidak dia kenal. Sumi menuruti perintah Bagas, karena itu dia langsung mengunci pintu setelah suaminya pergi. Tidak disadari Bagas jika ada seseoran
Erni widja

Erni widja

0 suka

Kau mau Suamiku, Ambil!
"Jadi menurutmu aku yang harus mengalah??" Pilihanku hanya ada dua Mas..jadi istri pertama atau mantan istri, dan tentu saja aku memilih yang kedua!! Mata Hendra melotot mendengar kata-kata Irma yang bagai seluncuran, lancar seakan tanpa beban. "Ir..hati-hati kamu ngomong!" Se
Erni widja

Erni widja

1 suka

"Darimana saja kamu!", nada tinggi Rahayu mengangetkan Bagas yang baru saja masuk ke rumah. "Ibu..bikin kaget saja", ucap Bagas sambil mengusap dada. Rahayu berdiri dengan tatapan tajam, terlihat sekali wanita paruh baya itu menahan amarah padanya. "Kerja Bu, apalagi mema
Erni widja

Erni widja

0 suka

Ayo sharing yuk..😍😍
cara dapat cuan banyak
Erni widja

Erni widja

0 suka

Erni widja

Erni widja

1 suka

Baca lengkap di KBM
Bagas mematikan mesin mobil tepat di halaman rumah. Dari balik kaca mobil dia melihat Sumi berdiri di depan pintu dengan senyum merekah. Bagas bergegas membuka pintu, kemudian keluar dari mobil. Sedikit berlari menghampiri istri cantiknya. "Halo sayang", kata Bagas, diraihnya kepala Sumi
Erni widja

Erni widja

1 suka

Lihat lainnya
Erni widja
262Mengikuti
84Pengikut
42Suka dan simpan

Erni widja

lynk.id/erniwidja

lynk.id/erniwidja

Batal

bukan siapa siapa dan bukan apa apa...