Keesokan pagi, dengan secarik kertas berisi nomor Radyan di saku, Kinan melangkah ke halaman dengan sebuah rencana. Dia akan berpura-pura membeli sesuatu di warung depan, lalu mencari telepon umum.
Namun, rencananya buyar seketika. Di depan gerbang, Tuan Wijoyo sedang berdiri. Dan di hadapannya, Radyan bersandar santai di sepeda motornya. Mereka tampak sedang mengobrol akrab, bahkan sesekali tertawa.
“Nah, itu dia kembang desa kita,” kata Tuan Wijoyo saat melihat Kinan, nadanya menggo da.
Radyan menoleh dan tersenyum pada Kinan. “Pagi, Kinan.”
“Pagi, Pak,” jawab Kinan kaku.
“Hati-hati, lho, Pak Radyan. Jangan sering-sering memandang, nanti jatuh cinta,” lanjut Tuan Wijoyo, membuat pipi Kinan memerah.
Kinan tidak lagi punya kesempatan untuk bicara. Dia menunduk dan bergegas masuk kembali ke dalam ru mah. Jantungnya berdebar tidak karuan. Ada apa ini?
Rencananya buyar. Kinan tak punya waktu lagi untuk pergi. Nyonya Anisa sudah memberinya setumpuk pekerjaan.
Beberapa jam kemudian, saat hendak membersihkan rua ng kerja Tuan Wijoyo, dia mendapati pintunya sedikit terbuka. Samar-samar, Kinan mendengar dua suara yang sangat dikenali dari dalam. Suara Tuan Wijoyo dan Radyan. Didorong oleh rasa penasaran, dia menempelkan telinganya ke pintu.
“...jadi saya harap masalah ini bisa selesai sampai di sini, Pak Radyan,” kata suara Tuan Wijoyo. “Kasihan nama baik keluarga saya.”
Ada jeda sejenak.
“Tentu, Pak,” jawab suara Radyan. Kinan menahan napas. “Laporannya akan segera saya arsipkan. Tidak ada bukti kuat yang mengarah ke mana-mana. Kasus orang hilang seperti ini sudah biasa.”
Da da Kinan terasa sesak.
“Baguslah kalau begitu,” kata Tuan Wijoyo lega. “Sebagai tanda terima kasih, ini untuk kerja sama yang baik.”
Kinan mendengar suara amplop tebal yang diletakkan di atas meja.
“Saya mengerti, Pak. Terima kasih kembali,” jawab Radyan, tanpa sedikit pun keraguan dalam suaranya.
Dunia Kinan seakan runtuh. Rasa tertarik yang sempat dirasakan, harapan yang digantungkan pada pria itu, semuanya hancur lebur. Berganti menjadi kekecewaan, ama rah, dan rasa muak yang luar biasa. Radyan bukan penolong. Dia sama saja. Dia adalah bagian dari musuh.
Kinan mundur dari pintu. tu buhnya gemetar. Dia sendirian. Benar-benar sendirian.
Dengan langkah gontai, Kinan kembali ke ka marnya. Dia tidak lagi punya siapa-siapa untuk dipercaya. Kinan menatap liar ke sekeliling rua ngan, mencari sesuatu, apa saja.
Lalu, matanya tertuju pada sebuah tas kresek berisi barang-barang peninggalan Mala yang belum sempat dibua ng.
Dengan gerakan cepat, Kinan mengaduk-aduk isinya. Sisir, bedak murah, jepit rambut dan di bagian paling dasar, dia menemukannya. Sebuah benda kecil berwarna hitam dengan kabel yang tergulung rapi.
Pengisi daya ponsel.
Tanpa pikir panjang, Kinan mencolokkan ke stopkontak dan menyambungkan ke ponsel jadul itu. Layar ponsel itu berkedip sesaat, lalu menyala, menampilkan indikator baterai yang sedang mengisi.
Di layar yang menyala itu, sebuah nama tertera dengan jelas di notifikasi pesan terakhir yang belum terbaca. Rani.
Judul : Jerat Sang Dermawan
Napen : Dianppp17










