Bab 4
Wulan membuka ma ta. Dengan sisa tena ga, ia berdiri. Membuka kulkas. Sayuran tinggal sedikit, telur dua, serta tahu dan tempe. Ia memasak dengan gerakan lam bat. Tangan yang mele puh terasa pe rih, tapi ia tidak berhe nti.
Menu siang itu sederhana: sayur bening, tahu, tempe, dan sambal. Bu Tuti, Dewi, dan Arga makan tanpa mengucapkan terima kasih. Wulan berdiri di samping meja, tang annya terkepal di depan perut. Seperti pemb antu sungguhan.
Setelah mereka selesai, Wulan membersihkan meja, mencuci pi ring, dan menge lap lantai d apur. P u k u l 3 sore, Wulan belum makan siang. Ia mengambil si sa sayur bening dan setengah piring nasi, dimakannya berdiri di depan kulkas.
Tiba-tiba Dewi masuk. "Wulan, besok teman-teman kampusku datang 15 orang. Siapkan camilan, jangan yang jel ek-jel ek."
"Baik, Mbak. Camil annya apa?"
"Terserah. Ibu bilang kamu jangan belanja banyak-banyak. Pakai bahan seadanya."
Bahan se ada nya? Stok tepung tinggal setengah kilo dan telur dua butir. Tapi Wulan hanya mengangguk. Na fsu makannya langsung hi lang.
P u k u l 6 sore, Wulan menyiapkan makan ma lam. Menu hampir sama, hanya sayurnya diganti. Arga pulang tepat saat masakan selesai, lalu duduk di meja makan tanpa bilang apa pun. Bu Tuti dan Dewi menyusul. Makan mal am berlalu dalam diam. Setelah selesai, Wulan mencu ci piring untuk ketiga kalinya.
P u k u l 9 mala m, Wulan masuk ke ka mar pemb antunya. Ba dannya re muk, kakinya bengk ak, dan per utnya lap ar. Ia duduk di ran jang besi tip is, mena tap din ding ko song.
Hari pertama perni kahanku diha biskan dengan mencuci piring, menyetrika, mengepel, dan dima rahi. Arga tidak per nah bilang "kamu istriku", Dewi tidak pernah bilang "kamu kakak iparku", Bu Tuti tidak pernah bilang "kamu menantuku". Yang mereka lihat hanyalah pem ban tu baru. Gra tis. Tanpa u pah. Tanpa hak.
Ia berba ring di bawah lampu bohlam 5 watt. Besok akan sama, dan lusa, dan seterusnya. Sampai kapan? Sampai aku m a t i? Sampai aku g i l a?
Wulan meme jamkan mata, air mata meng alir pelan. Ia teringat pesan ibunya: *“Nak, jangan pernah biarkan siapa pun meren dahkan martabatmu.”*
Maaf, Bu. Aku sudah biarkan mereka mere ndahkanku. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana.
Apakah ini yang namanya pernikahan? Apakah ini b a l a s a n dari semua u ta ng?
Pintu kam arnya tiba-tiba terbu ka. Arga berdiri di ambang pintu dengan waja h dingin.
"Ibu bilang besok kamu bangun lebih pagi. Jam 3."
Wulan terdiam. "Jam 3, Arga? Aku baru selesai kerja—"
"Aku tidak pedu li," potong Arga. "Dewi ada acara kampus. Bekal untuk 30 orang. Kamu harus siapkan semuanya sebelum jam 6 pagi."
Pintu ditutup rapat. Wulan duduk di ranj ang, da danya se sak. 30 orang? Bekal? Jam 3 pagi? Dengan tangan mele puh dan ba dan yang terasa pat ah?
Ia ingin berte riak, tapi tidak ada yang akan mendengar. P u k u l setengah 10 malam, Wulan meme jamkan ma ta.
Pikiran terakhirnya sebelum tertibdur: kapan semua ini bera khir? Ataukah aku akan terje bak di sini se lama nya?
Baca selengkapnya di K B M App
📚Judul : Dulu P e m b a n t u, kini jadi Ratu
✍️ Penulis: Theresia Anastasia
Jangan lupa download KBM APP dan cari judul di atas ya!






















































