Kalau mau jadi “RUMAH” menetaplah dan jangan sekedar “SINGGAH”
“Jika kau ingin menjadi rumah, maka tetaplah tinggal. Jangan hanya jadi persinggahan yang sebentar lalu hilang.”
Jika ingin jadi rumah, jadilah rumah untuk diri kita terlebih dahulu🩷
2025/9/7 Diedit ke
... Baca selengkapnyaJujur, dulu buat aku foto orang berdiri di depan rumah itu cuma foto biasa: pose standar di depan pintu atau pagar, senyum sedikit, selesai. Tapi setelah banyak perjalanan dan ketemu macam-macam orang, aku baru kerasa kalau momen sesederhana itu bisa punya makna yang dalam banget.
Waktu pulang dari satu ekspedisi, aku sempat berdiri lama di depan rumah orang tua. Cuma berdiri, lihat mereka dari jauh. Di kepala, keingat semua perjalanan: naik bus pariwisata bareng suami, naik perahu kecil di laut biru jernih, main air di pantai bareng teman-teman berhijab yang sama-sama senang eksplor. Tapi pada akhirnya, foto orang berdiri di depan rumah itu jadi simbol kalau sejauh apa pun kaki melangkah, hati selalu nyari tempat pulang.
Aku juga suka dokumentasi di jurnal. Di situ aku tempel kolase foto-foto: orang tua yang jadi teman serumah lama, suami yang sekarang jadi teman serumah baru, anak-anak dan guru honorer di spanduk "EKSPEDISI BUKIT MEMERDEKAKAN GURU HONORER", sampai momen di laut dangkal yang jernih bareng bocil-bocil ceria. Saat lihat lagi satu-satu, aku sadar kalau "rumah" ternyata bukan cuma bangunan, tapi kumpulan cerita dan hubungan.
Kadang, foto orang berdiri di depan rumah orang lain juga bikin mikir: mereka mungkin baru pertama kali punya rumah sendiri, mungkin lagi pamit buat pindah, atau lagi pulang setelah perjalanan panjang. Dari luar kita cuma lihat pose sederhana, tapi di belakang foto itu bisa ada perjuangan bertahun-tahun, misi 1001 mimpi bocil, atau doa orang tua yang nggak pernah kelihatan.
Makanya sekarang setiap kali ambil foto di depan rumah—entah rumah sendiri, rumah orang tua, atau bahkan penginapan sementara sewaktu jalan-jalan—aku selalu kasih jeda sebentar buat merasa benar-benar "pulang". Aku coba tanya diri sendiri: siapa saja yang jadi teman serumah dalam hidupku sekarang? Apa misi yang lagi aku bawa dari satu perjalanan ke perjalanan lain? Apa cerita yang mau aku bawa pulang nanti?
Kalau kamu punya koleksi foto orang berdiri di depan rumah, coba deh satu-satu dilihat lagi. Ingat siapa saja yang ada di frame itu, apa yang kamu rasakan waktu foto diambil, dan perjalanan apa yang mengantarkan kamu sampai di depan pintu itu. Kadang jawabannya bisa bikin kamu lebih menghargai "rumah" yang sekarang kamu tempati, entah itu rumah fisik, orang-orang tersayang, atau versi dirimu yang sudah berjuang sejauh ini.
Pelan-pelan, aku belajar untuk nggak sekadar singgah. Kalau mau jadi "rumah" buat orang lain, aku mulai dari jadi rumah yang nyaman buat diri sendiri dulu: jujur sama mimpi, berani melangkah, tapi tetap ingat untuk pulang. Dan setiap foto berdiri di depan rumah kini jadi pengingat kecil kalau aku sudah melangkah, tapi juga sudah kembali.