ANAK ITU MEMANGGIL SUAMIKU AYAH (1)
_"Ayah! Kenapa ayah nggak pernah pulang?"_
Seorang a nak laki-laki tiba-tiba saja menubruk dan meme luk kaki suamiku, lalu menangis.
Kenapa reaksi Mas Radit seperti ini, jika memang a nak ini hanya salah mengenali orang?😢
💦
Part#1a
"Mas Radit, menurut kamu… Gita lebih cocok pakai gaun merah muda yang ini atau yang biru?"
Aku membalikkan badan, mengangkat dua potong pakaian ank-ank di depan dada, bersiap memamerkannya pada suamiku.
Namun, senyumku langsung luntur. Radit tidak sedang melihat ke arahku. Pandangannya kosong, menatap barisan manekin di seberang stan pakaian.
_Mas Radit sepertinya kelelahan…_
Di gendongannya, Gita—ank kami yang baru berusia empat tahun, sibuk memainkan kerah kemeja sang papa.
"Mas?" panggilku lagi, kali ini selangkah lebih dekat.
Radit tersentak, bahunya agak menegang. "Eh, iya, Mel? Kenapa?"
"Kamu melamun? Aku nanya, bagus yang mana buat ank kita?"
Aku terkekeh pelan.
Sudah kuduga, dia pasti kelelahan setelah menemaniku berkeliling pusat perbelanjaan hampir dua jam penuh.
"Oh, yang... yang ini, merah muda bagus. Apa saja yang kamu pilih pasti cocok buat Gita, Sayang…" jawabnya.
Senyumnya terkembang, tapi kurasa agak dipaksakan. Matanya bergerak gelisah, berkali-kali melirik ke arah eskalator yang tak jauh dari posisi kami berdiri.
"Papa! Gita mau es krim yang itu!" Celetukan manja Gita memecah kecurigaanku yang baru mau tumbuh. Jari mungilnya menunjuk stan makanan di lantai bawah.
"Iya, Sayang. Nanti setelah Mama selesai bayar baju, kita beli es krim, ya?" Radit menge cup pipi Gita gemas.
Pemandangan itu selalu berhasil menghangatkan hatiku. Tujuh tahun menikah, Radit tidak pernah berubah. Dia tetap pria yang lembut, bertanggung jawab, dan sangat menyayangi putri kecil kami. Hidupku terasa begitu sempurna, sampai-sampai aku sering berdoa agar waktu berhenti di momen-momen seperti ini.
Aku berbalik menuju kasir, bersiap menuntaskan belanjaan. Namun, baru dua langkah kakiku bergeser, sebuah guncangan keras dari arah belakang membuatku nyaris kehilangan keseimbangan.
“E-eh. Ada apa ini!” seruku, saat sesosok tu buh kecil tiba-tiba menyenggol tu buhku.
Bo cah laki-laki berpakaian kaus oblong itu langsung menjatuhkan diri, meme luk erat kedua kaki Radit.
"Ayah! Ayah ini El!”
Teriakan bocah laki-laki itu membuatku ingin tahu.
“El kangen, Ayah! Ayah kenapa nggak pernah pulang?"
A nak itu menangis kencang, memecah kebisingan mal. Tangannya mencengke ram celana jins Radit dengan begitu kuat, seolah-olah merasa takut, jika dia melepaskannya sedikit saja, sosok di hadapannya akan lenyap.
Aku tertegun di tempat. Kepalaku mendadak kosong menatap pemandangan di hadapanku.
"Dek, maaf, kamu pasti salah orang, ya? Ini suamiku, bukan..."
"Enggak! Ini Ayah El! El nggak salah lihat! Dia ini ayahku!" Bo cah itu mendongak. Pipinya basah oleh air mata, menatap Radit dengan binar kerinduan yang teramat dalam.
Kulihat, Radit diam membeku.
"Ayah... El sakit. Ibu bilang kalau Ayah lagi kerja. Kerjanya jauh. Tapi kenapa sekarang Ayah malah ada di sini? Ayo kita pulang, Ayah! El kangen…"
Aku beralih menatap Radit, bersiap mendengar tawa ringannya untuk mencairkan suasana aneh ini.
Radit pasti akan dengan ramah mereng kuh a nak itu dan menjelaskan bahwa a nak itu sudah salah orang.
Namun, seluruh pasokan udara di paruku rasanya tersedot habis saat melihat wajah suamiku sendiri.
Radit masih membeku. Wajahnya pias, pucat pasi. Matanya membelalak lebar, menatap bo cah di bawahnya dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan.
Gita yang masih dalam gendongannya ketakutan dan mulai merengek.
"Mas...?" Suaraku bergetar. Sesuatu yang ta jam tak kasat mata mendadak menghan tam da daku.
_Kenapa reaksi Mas Radit seperti ini, jika memang a nak ini hanya salah mengenali orang?_
Bersambung…
***
Baca selengkapnya di KBM app
Judul : Anak Itu Memanggil Suamiku Ayah
Penulis : Dhea Sukma
























































