Aku share ini bukan buat nakut-nakutin ya! Tapi buat pengingat diri aku sendiri dan kita semua. Yuk, kita sama-sama belajar jadi istri yang sholehah dan pintar menjaga hati suami. Karena ridha suami adalah salah satu kunci surga bagi kita. Aamiin! 😇
... Baca selengkapnyaAku pribadi dulu juga baru ngeh kalau ternyata ada beberapa sikap yang kelihatannya sepele, tapi dalam Islam termasuk dosa besar istri terhadap suami. Apalagi soal menolak ajakan suami di ranjang tanpa alasan syar'i. Awalnya aku pikir kalau lagi capek ya tinggal bilang aja “nggak dulu”, selesai. Ternyata, setelah aku belajar, hukum istri menolak ajakan suami menurut Islam itu berat kalau tanpa alasan yang dibenarkan.
Buat yang masih bingung, istri menolak ajakan suami apakah dosa? Dari yang aku pelajari, dosa istri menolak hubungan dengan suami itu bisa jadi besar kalau memang sengaja menolak, padahal nggak ada uzur seperti sakit, haid, nifas, atau benar-benar kelelahan sampai butuh istirahat. Jadi sekarang kalau aku lagi capek banget, aku usahakan komunikasinya yang lembut: jelasin kondisi, minta waktu istirahat sebentar, atau ajak cari waktu yang pas. Intinya bukan menolak mentah-mentah, tapi tetap menghargai kebutuhan suami sambil jujur soal kondisi tubuh sendiri.
Aku juga sempat kepikiran soal hukum istri menolak ajakan suami karena capek menurut Islam. Capek itu manusiawi banget, apalagi ibu rumah tangga yang seharian urus rumah, anak, dan kerjaan lain. Jadi yang penting menurutku bukan pura-pura kuat, tapi ngomong baik-baik, jangan judes atau membentak. Dari situ aku belajar, dosa besar itu bukan cuma dari menolak, tapi juga dari cara kita bersikap dan berkata.
Hal lain yang sering kebablasan adalah saat istri melarang hobi suami. Misalnya suami suka main futsal, mancing, atau nongkrong bareng temannya yang baik-baik. Kadang kita kesal karena merasa lebih butuh ditemani. Tapi dari yang aku renungkan, hukum istri melarang hobi suami itu bisa jadi masalah kalau larangannya berlebihan dan tanpa alasan syar'i. Sekarang aku coba cari jalan tengah: boleh, tapi diatur waktunya, jangan sampai lalai dari keluarga dan ibadah. Jadi bukan langsung melarang total, tapi diskusi.
Aku juga pernah lihat di sekitar aku, ada yang suka pakai kata-kata sindiran pedas buat suaminya di medsos. Jujur, awalnya aku suka relate sama kata kecewa istri durhaka atau sindiran buat istri yang melawan suami, tapi lama-lama aku sadar, sindiran tajam di depan umum bisa jadi membuka aib pasangan sendiri. Padahal di gambar yang kamu lihat juga ada poin tentang membuka aib suami ke orang lain dan tidak mensyukuri nafkah suami, ini benar-benar nyentil.
Makanya sekarang aku lebih hati-hati. Kalau lagi kecewa, aku tahan jari biar nggak curhat berlebihan di medsos. Lebih baik ngobrol langsung pelan-pelan sama suami, atau curhat ke orang yang amanah. Buat aku, belajar jadi istri shalihah itu proses panjang: menjaga lisan, menjaga hati, dan menjaga hak suami tanpa melupakan hak diri sendiri.
Terakhir, soal nafkah. Memang di sisi lain ada juga pembahasan tentang azab ayah yang tidak menafkahi anaknya, dan itu jadi pengingat buat para suami. Tapi sebagai istri, tugasku tetap berusaha taat selama suami menunaikan kewajibannya. Kalau ada kurang di sana-sini, aku coba sampaikan baik-baik, bukan dengan sindiran pedas atau menyamakan dia dengan ayah-ayah yang lalai.
Intinya, dari 10 perlakuan haram istri ke suami yang sering IRT anggap sepele itu, aku jadi belajar buat lebih banyak muhasabah diri. Bukan cuma takut dosa, tapi juga pengin bikin rumah tangga lebih adem, suami merasa dihargai, dan aku sendiri tetap merasa bahagia sebagai diri sendiri dan sebagai istri.
aku sering ngomong nada nya tinggi sm suami smpe ngbntak kalo lagi marah sm suami, ya gimana yaa susah si klo ditahan" tapi stlh itu pasti nyesel trs minta maaf
Lihat komentar lainnya