Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa yang maha pengasih dan maha penolong!
Terima kasih kepada Para Buddha dan Dewa Pelindung Dharma dari seluruh penjuru!
Terima kasih kepada Master Jun Hong Lu!
Terima kasih kepada semua saudara se-dharma!
Apabila ada kesalahan dan kekurangan dalam postingan kami, kami memohon kepada Guan Shi Yin Pu Sa, para Dewa dan Pelindung Dharma memaafkan, Master Jun Hong Lu memaafkan, mohon saudara-saudara dan teman-teman se-Dharma memaafkan.
... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali menata altar dan mulai sembahyang Buddha di rumah, aku benar-benar bingung harus mulai dari mana. Setelah banyak belajar dari sharing saudara se-dharma, pelan-pelan aku ngerti bahwa altar yang sederhana tapi bersih dan penuh rasa hormat jauh lebih penting daripada yang mewah.
Untuk ruang sembahyang kecil Buddha, tidak perlu ruangan besar. Sudut tenang di ruang tamu atau kamar juga bisa, asal rapi dan tidak bercampur dengan benda-benda yang tidak pantas. Aku biasanya lap meja altar setiap hari, ganti alas jika sudah kotor, dan usahakan tidak menaruh barang lain selain perlengkapan altar buddha.
Perlengkapan altar Buddha yang dasar umumnya meliputi: gambar atau patung Buddha/Bodhisattva, hiolo (tempat dupa), cawan air, lampu minyak, dan piring buah. Buah yang dipersembahkan sebaiknya buah segar, bukan buah kering. Aku pernah dengar penjelasan bahwa buah segar melambangkan kehidupan dan niat tulus; jadi kalau apel sudah keriput atau busuk, aku cepat gantikan. Untuk apel di satu piring, aku usahakan warnanya sama supaya terlihat rapi dan serasi.
Sebelum dipersembahkan, buah sebaiknya dicuci bersih dulu dan labelnya dilepas. Awalnya aku sering lupa melepas stiker buah, tapi setelah paham bahwa ini bentuk rasa hormat, sekarang aku selalu periksa satu-satu. Buah yang sudah lama di altar juga jangan dibiarkan sampai busuk; biasanya aku ganti secara berkala dan buah yang masih layak dimakan aku konsumsi sendiri atau berbagi dengan keluarga.
Untuk alat sembahyang Buddha lainnya, seperti lampu minyak, ada hal yang perlu diperhatikan. Minyak persembahan untuk Bodhisattva sebaiknya tidak dicampur-campur. Kalau mau ganti jenis minyak, aku biasanya habiskan dulu yang lama, bersihkan wadahnya, baru isi yang baru. Kalau ada serangga jatuh ke lampu minyak, aku matikan dulu apinya dengan hati-hati, bersihkan, lalu menyalakan lagi sambil dalam hati minta maaf dan melafalkan paritta.
Dupa juga ada etika kecil yang dulu aku tidak tahu. Misalnya, abu dupa yang jatuh ke luar hiolo tidak perlu dimasukkan kembali. Aku cukup bersihkan area sekitarnya secara pelan-pelan. Kalau dupa tertancap miring, boleh dicabut dan ditancapkan kembali dengan benar setelah minta maaf kepada Bodhisattva dalam hati. Kadang muncul percikan api di abu dupa; saat itu aku akan tetap tenang dan melafalkan paritta sebagai bentuk pertobatan.
Satu hal yang juga penting: bunga dan air di altar. Bunga sebaiknya diganti sebelum layu parah. Dan bunga yang sudah dipersembahkan jangan dipakai untuk mandi atau keperluan lain, karena dianggap kurang hormat. Air persembahan aku ganti setiap hari, sambil niat dalam hati semoga batin juga ikut disucikan.
Buat teman-teman yang baru mulai sembahyang Buddha di rumah, jangan terlalu stres soal alat alat sembahyang agama Buddha yang serba lengkap. Mulai saja dengan yang sederhana: satu gambar Buddha, hiolo, air, dan mungkin buah. Yang paling penting adalah hati penuh rasa syukur dan hormat. Seiring waktu, kalian akan makin terbiasa merapikan ruang sembahyang kecil Buddha di rumah dan menemukan cara yang paling cocok untuk praktik sehari-hari.